MARYAM, Karya Okky Madasari. Diresensi oleh Rena Asyari

Maryam – Okky Madasari.
275 halaman, Gramedia Pustaka Utama: 2012. ISBN 9789792280098

Buku ini bercerita tentang kisah Maryam Hayati yang dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga penganut Ahmadiyah di Lombok.

Maryam menikahi Alam yang bukan seorang Ahmadi. Kehidupan keimanan Maryam mulai terusik, Alam dan keluarganya menuntut Maryam untuk kembali ke jalan yang benar tidak menjadi penganut Ahmadi karena Ahmadi adalah sesat, begitulah istilah mereka. Maryam pun gelisah, bagaimanapun dia mencintai Tuhan dan cara dia menyembah Tuhan yang selama ini dianut dan diajarkan oleh kedua orang tuanya. Dia merasa tidak ada yang salah dengan keimanannya, tetapi akhirnya dia pun mengalah tidak lagi menjadi seorang Ahmadi demi kasihnya kepada Alam.

Alam yang dicintainya ternyata mengecewakannya, akhirnya Maryam pun memutuskan untuk kembali ke Lombok, ke kampung halamannya. Rasa gelisah mulai menjalar di tubuh Maryam ketika setelah hampir 5 tahun dia pergi dari rumah dan sekarang berada ditempat yang sama lagi. Maryam pun makin gelisah ketika melihat sosok tokoh yang tergantung di ruang tamu rumahnya, Mirza Guhlam Ahmad, sosok yang menjadikan dirinya menjadi penganut Ahmadi.

Menjadi seorang Ahmadi tidaklah mudah, keimanan mereka seringkali terusik oleh orang-orang yang merasa bahwa dirinya lebih benar. Maryam melihat begitu banyak peristiwa tentang keimanan. Dia membaca bahwa orang-orang hanya menurut tanpa pernah bertanya, yang hanya mengikuti tanpa memahami.

Maryam pun melihat orang-orang di kampungnya yang polos dan tak mempunyai banyak wawasan, semua orang di kampung ini bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan. Setiap hal yang mereka lakukan hanyalah untuk mempertahankan kehidupan termasuk dengan berTuhan.

Gaya bercerita Okky yang lugas, penuh kritik tapi disampaikan dengan cara yang enak di baca. Mereka para Ahmadi diusir dari rumahnya dan harus ke pengungsian, “Tapi apakah masih ada kenyamanan ketika seseorang sudah dikepung tatapan penuh kecurigaan? rasanya seperti dimusuhi dalam diam, ditelanjangi tanpa sentuhan”.

“Kami hanya ingin pulang, ke rumah kami sendiri. Rumah yang kami beli dengan uang kami sendiri. Kami hanya ingin bisa pulang dan tinggal di rumah kai sendiri. Hidup aman. Tak ada lagi yang menyerang. Biarlah yang dulu kami lupaka. Tak ada dendam pada orang-orang yang pernah mengusir dan menyakiti kami. Yang paling penting bagi kami, hari-hari ke depan kami bisa hidup aman dan tentram. Kami mohon keadilan, sampai kapan lagi kami harus menunggu?”

Itu sepenggal surat Maryam yang ditulisnya ketika di pengungsian. Maryam meyakini keimanan tak bisa digeser dengan apapun, pengusiran, pembakaran terhadap rumah-rumah mereka, hingga akhirnya mereka harus tinggal bertahun-tahun di pengungsian tak menjadikan para penganut Ahmadiyan berpaling dari keimanannya.

Di buku ini Okky berhasil membuat pembaca bisa berada pada sudut pandang seorang Ahmadi, sehingga bisa merasakan penderitaan seorang Ahmadi yang seringkali terusir dan mendapat masalah di negeri ini hanya karena keimanannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s