Resensi Ronggeng Dukuh Paruk, karya Ahmad Tohari.

397halaman, Gramedia Pustaka Utama: 2003. ISBN: 9792201963

Diresensi oleh: Rena Asyari

Seperti biasanya Ahmad Tohari selalu mampu mengajak pembaca untuk lebih menyelami pedesaan, Flora dan Fauna ditampilkan dengan sangat apik. “Sepasang burung bangau melayang meniti angin, berputar-putar tinggi di langit”,….. “kerokot, sajian alam bagi berbagai jenis belalang dan jangkrik. Tumbuhan jenis ini justru hanya muncul di sawah sewaktu kemarau berjaya”. Itu baru di halaman pembuka.

Buku Ronggeng Dukuh Paruk ini berlatar belakang tahun 1965. Bercerita tentang Srintil, seorang ronggeng dari Dukuh Paruk yang selalu menghibur. Srintil menjadi pusat perhatian semua orang, semua orang ingin merasakan tidur dengan Ronggeng, bahkan istri-istri mereka akan senang jika suaminya berhasil tidur dengan Srintil.

Selama bertahun-tahun Srintil menikmati pekerjaannya sebagai Ronggeng, menari dari panggung ke panggung, “sebuah tarian hidup, jika hati dan jiwa ikut menari (hal:162)”. Sampai akhirnya malapetaka itu terjadi. Tahun 1965 politik menjadi pemicu orang-orang menjadi beringas. Panggung tempat srintil menari pun sering diporak porandakan oleh orang-orang tak dikenal. Keadaan menjadi mencekam, Dukuh Paruk pun menjadi kota mati, orang-orang Dukuh Paruk tidak pernah berani lagi keluar rumah, teriakan komunis, PKI menggema di seantero Dukuh Paruk.

Srintil gamang, selain kehilangan pekerjaannya dia pun kehilangan kekasih hatinya. Rasus. Pria itu melamar menjadi prajurit, bersegaram hijau. Penduduk ketakutan dengan orang-orang berseragam hijau, alih-alih seragam hijau itu menentramkan mereka malah membuat ribut di perkampungan mencari orang-orang yang di cap komunis.

Penderitaan Srintil tidak berakhir di situ, Rasus yang tak dapat ditemui membuat Srintil berpaling cinta ke Bajus, orang proyek yang sedang mengadakan pembangunan infrastruktur di desanya. Tapi sayang, Bajus yang telah dipercaya Srintil ternyata malah menjual Srintil ke bos nya.

Beragam penderitaan hidup yang di alami Srintil membuat Srintil menjadi Gila. Ronggeng Dukuh Paruk yang terkenal karena tariannya dan kecantikannya itu akhirnya menjalani hari-hari sebagai pengamen pasar. Ah.. Srintil…Srintil…

Tohari, lagi saya harus memberi hormat pada beliau. Pada Karyanya lah hati saya jadi tertambat pada sastra. Tohari apik menggunakan diksi, dan wawasan biologi beliau mungkin melebihi wawasan guru biologi lainnya. Buku Ronggeng Dukuh Paruk ini sempat di sensor selama 22 tahun oleh pemerintah. Buku ini merupakan trilogi dari Lintang kemukus Dini Hari, Ronggeng Dukuh Paruh dan Jentera Bianglala.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s