Sagra, karya Oka Rusmini

202 halaman, Indonesia Tera Magelang, ISBN: 9799375436

Diresensi oleh: Rena Asyari

Oka Rusmini dikenal sebagai penulis perempuan yang kritis terhadap budayanya sendiri. Buku Sagra adalah kumpulan cerpen yang sarat dengan rasa feminisme yang dimilikinya

Pada cerita Kakus, ketika suaminya mulai menyetubuhinya, Oka Rusmini menuangkan rasanya lewat kalimat “Tangan-tangannya yang kurus dan dipenuhi urat-urat yang menonjol mulai menyentuh kulitku, Hyang Widhi, aku seperti menari di atas bangkai. Lubang-lubangku dipenuhi air. Aku berkeringat. Aku terus bergerak, menari liar. Aku mulai berair. Hyang Widhi aku mulai menjadi sungai. Ketika akar-akar tubuh laki-lakiku mulai bisa mengikuti arus tubuhku, aku melihat pementasan di tubuhku. Terus, terus..”

“Senja hari, dipesona desah murni angin jantan menjambaki pucuk-pucuk daun tebu hijau muda, malaikat alpa itu pun turun ke wilayah tanpa peta. Tanpa sayap”… (kutipan sajak Arif B. Prasetyo), makin kental suara itu, makin menggigil rohku. Hyang Widhi, hentikan ini. (Sagra hal : 23-24)

Pada cerita sepotong kaki dikisahkan oleh Oka Ida Putu Centaga Nareswari yang memiliki sepotong kaki yang indah laksana dewi Laksmi, “semua mata lelaki akan mengupas habis tubuhnya dalam otak mereka, bersetubuh dengan selendang dan keliaran bau keringatnya (hal:40)”.

Centaga memiliki Ibu yang bernama Jero Pudak, ibunya sangat cantik jelita. Orang-orang sering bercerita bahwa Pudak mampu menidurkan seratus laki-laki dalam satu hari. Centaga membenci kabar burung itu, yang membuat Centaga heran kata-kata itu disuarakan oleh perempuan. “Mengapa perempuan itu tidak menggunakan bahasa perempuan?mengapa yang mereka gunakan bahasa laki-laki?suara laki-laki. Hasil pemikiran laki-laki. Yang mana bahasa mereka?Mereka hanya bisa menyudutkan perempuan. Memalukan!” (hal : 41)

Pada Cerpen ke-5nya di kumpulan buku Sagra yang berjudul Pesta Tubuh, Oka lagi-lagi bercerita tentang tubuh perempuan. “Luh Rimpig diam. Dadanya sakit seperti diremas. Hampir sepuluh laki-laki telah menggigiti tubuhnya. Memerasnya. Menghunjamkan pisau-pisau lapar ke sela-sela pahanya. Menguras dan memukulinya secara kasar setiap kali meyetubuhinya” (hal : 55).

“Rimpig sakit. Aku tahu, perempuan kecil berambut gelombang itu tadi malam datang dengan tubuh berbau anyir. Aku mendengar bisik-bisik, lima belas laki-laki Jepang di layaninya! Hyang Jagat, hidup macam apa ini?Begitu menjijikkan tubuh perempuan? Sehingga untuk keindahan yang dicapkan tubuhnya, seorang perempuan harus menanggung penyiksaan yang tak ada habisnya” (hal : 56)

Dan masih ada 9 cerita pendek lagi dalam buku Sagra ini, Oka mengemas tulisannya menjadi tulisan yang bernas, tidak pernah tanggung untuk berkata-kata, jika banyak orang masih malu untuk mengekpresikan tubuh perempuan yang terluka akibat persetubuhan, tapi tidak bagi Oka, dia gamblang dan tanpa rasa takut juga malu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s