Resensi : Budha karya Karen Amstrong

Resensi : Buddha, karya Karen Amstrong penerbit Bentang, tahun terbit 2001. 221 halaman.

Oleh : Rena Asyari

Sidharta Gautama, begitulah namanya dikenal. Lahir di abad ke-6 sebelum masehi. Kegelisahannya akan hidup menggiringnya untuk mengembara, 29 tahun usianya waktu itu. Malam yang hening dan dingin menjadi pengiring langkahnya ketika meninggalkan Kapilawastu, istana tempat ayahnya Suddodana bertahta.

Kegelisahan pertamanya tentang hidup muncul ketika dia pergi bersama ayahnya melihat orang-orang berduyun dan berbahagia. Bunga-bunga bermekaran dan pepohonan yang memperlihatkan daun yang cerah. Lalu dia menepi di bawah pohon, dia melihat burung mematuk cacing tanah,seorangpetani memukul lembunya, dan elang menukik ke arah burung. Dia berpikir bagaimana mungkin orang lain berbahagia sedangkan di situ juga ada penderitaan. Usianya 7 tahun kala itu. Gautama kecil mulai membawa kegelisahan pertamanya dalam hidup, mengapa manusia harus sakit, menderita, sedih, menua dan mati? Baginya hidup bagaikan sebuah samsara yang tak berujung yang selalu berputar dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya.

Gautama melahirkan filsafat perenial yaitu segala sesuatu yang kita alami ditiru dari contoh yang sempurna dari surga.

Gautama mencari kondisi yang ideal, jika manusia hidup dalam penderitaan sengsara, maka ia pasti akan menemukan kebahagian dengan mencarinya sendiri tanpa minta bantuan Tuhan. Gautama mulai mencari nibbana. Nibbana merupakan pencapaian spiritual tertinggi, puncak pencerahan. Karena setelah nibbanaada masa parinibbana yaitu masa setelah meninggal. Nibbana adalah kondisi dimana manusia tidak mengalami sedih, tidak menua, tidak sakit, tidak lahir, tidak mati. Nibbana (nirvana) yang dimaksud tidak sama dengan yang sudah sering digambarkan mengenai surga. Nibbana tidak ada tanah maupun air, cahaya maupun api, tak ada ruang dan jumlah tak terhingga, bukan akal yang tak terhingga dan juga kehampaan sempurna merupakan gabungan matahari dan bulan. Nibbana merupakan unsur ketiga dari kesunyataan mulia yaitu tanpa roda, tidak sadar, penyatuan, tak terganggu tanpa penderitaan dan kedamaian. Nibbana juga merupakan kebaikan manusia dan dewa yang tertinggi, kedamaian dan tempat yang sangat tentram.

Konsep Diri (aturan) penting dalam ajaran Gautama, karena konsep diri bersifat abadi dan imanen. Saat kita menemukan Diri yang  nyata ia akan mampu menyadari secara mendalam bahwa penderitaan dan kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Diri adalah simbol utama dari dimensi suci kehidupan dan menempati fungsi yang sama seperti Tuhan. Dalam pemcarian Diri ini, Gautama mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya, terkadang bergabung dengan biksu yang ia jumpai di jalan.

Pengembaraan tak selalu berjalan mulus. Gautama pernah mencoba menyiksa diri agar merasakan penderitaan, dia tidak makan, tidak minum, tidak mandi, tidak melakukan aktifitas manusia normal lainnya untuk waktu yang lama, hingga badannya kurus kering dan sakit. Dia akhirnya menyerah, ternyata jalan mencapai nibbana tidak seperti itu.

Gautama sangat yakin bahwa semua hal yang terjadi pada diri kita itu akibat Karma (perbuatan manusia), karma terjadi karena nafsu yang kadang tidak bisa dikendalikan. Nafsu (tanha) yang tak terkendalikan ini yang membuat manusia terjerumus dalam samsara.

Untuk mengendalikan nafsu ini, Gautama menggunakan teknik Yoga. Tapi sebelum melakukan Yoga, Gautama harus mentaati dulu yama (niyamas), yama adalah tingkah laku yang baik seperti tidak mencuri, tidak membunuh, tidak memperkosa, tidak berbohong dan tidak minum-minuman keras. Yoga yang dilakukan Gautama tidak sama dengan Yoga yang berkembang di barat.

Yoga yang bertujuan untuk mendisplinkan semua daya dan kekuatan dan dorongan hati manusia sehingga kesadaran manusia yang biasanya sulit bisa menyatu. Ada 4 tahapan teknik yoga yang paling penting dalam ajaran Gautama yang pertama adalah asana yaitu pendisiplinan fisik, tubuh tidak boleh bergerak, seperti patung dan tidak bernafas. Lalu tahapan kedua adalah pranayamapengaturan nafas, selanjutnya ekagrata konsentrasi pada satu titik dan menolak untuk berpikir, setelah 3 tahapan di atas tahap terakhir adalah pratyahara yaitu kemampuan untuk merenungkan satu objek hanya dengan pikiran saja dan tidak mengaktifkan pancaindra.

Akhirnya Gautama pun mencapai nibbana dan diapun menjadi Buddha (Manusia yang tercerahkan). Banyak orang mengartikan bahwa nibbana itu merupakan buddha itu sendiri sama halnya dengan Yesus atau Tuhan sehingga ada pepatah dari Buddha Zen bahwa “Barangsiapa yang bertemu buddha maka bunuhlah buddha itu”. Ungkapan tersebut mengandung arti bahwa buddha itu sangat sakral, tak ada yang bisa menyamai buddha dalam proses pencapaian menuju nibbana.

Buddhaturun dari pertapaannya, mengunjungi banyak tempat dan kampung-kampung. Orang-orang yang ditemuinya selalu tertarik pada ajaran buddha, sosok buddha sangat tentram, tutur katanya halus, prilakunya memikat setiap orang. Pengikutnya pun bertambah banyak. Dia pergi ke Kapilawastu, ayahnya dan orang-orang disekitarnya kecuali istrinya menjadi pengikut ajarannya.

Buddha selalu memulai ajarannya dengan bertanya pada orang awam tentang spiritual. Karena Buddha tahu bahwa masyarakat mengalami krisis spiritual. Salah satu alasan krisis spiritual adalah karena mereka mengharapkan orang lain bisa menemukan jawaban atas pertanyaan mereka, tapi pada saat mereka bertanya pada hati nuraninya, mereka akan menyadari bahwa mereka sudah mengetahui kebenaran.

Manusia adalah makhluk yang egois. Buddha mengatakan bahwa egois merupakan satu-satunya strategi bertahan hidup yang kita miliki, bahkan jika kehidupan kita tidak memuaskanpun, kita mati-matian mempertahankannya karena kita takut terhadap sesuatu yang tidak ketahui. Melihat permikiran masyarakat yang masih tertutup Buddha merasa sedih, Buddha juga mengatakan bahwa sepanjang kita bertahan menutup pemikiran dan hati kita, maka kita tetap menutup semua hal yang menyebabkan kemunduran dan tidak berkembangnya pengetahuan agama kita.

Menjelang kematiannya Buddha berwasiat meminta abunya diperlakukan sebagai cakkavatti (penguasa alam semesta), jenazahnya harus dibungkus dalam kain dan dikremasi dengan kayu yang harum baunya dan abunya di kubur di perempatan jalan di sebuah kota yang besar.

Buddha lahir bersamaan dengan para pemikir besar peradaban di bumi, Socrates, Konfusius, Lao Tse, dan Plato. Tidak hanya agama Buddha yang berkembang, ada Taoisme dan Konfusianisme di Cina, Rasionalisme Yunani dengan pelopornya Socrates dan Plato di Eropa, dan tentu saja Buddha dan Hindu di India.

Kisah hidup Gautama relevan dengan kondisi sekarang, zaman kekerasan politik dan tragedi kemanusian yang mengerikan, krisis, apastisme dan frustasi.

Catatan mengenai Sidharta Gautama pertama kali ditulis setelah 100 tahun kematiannya, ditemukan kitab suci dalam bahasa Pali yang dikenal dengan sebutan ‘tripitaka’.

“Kematian itu pasti, manusia hanya makhluk yang sadar bahwa ia akan mati tapi keyakinan akan kematian itu sulit dipahami. Dari dulu manusia memanfaatkan agama untuk membantu mereka mencari pemahaman tentang hidup”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s