Di Bawah Lambaian Petai

 

Upacara Seren Taun Kampung Sindangbarang, Kabupaten Bogor

Oleh :

Takhsinul Khuluq (Pembaca, penikmat Film dan Musik) bisa dihubungi di email: takhsin@yahoo.co.id dan Twitter: @xin_liong

IMG_7173

Minggu pagi itu, udara sejuk dan sinar mentari yang hangat menghampar di Kampung Sindangbarang, Bogor. Suasana ramai terlihat di setiap sudut kampung. Para gadis kecil dengan dandanan molek tampak bercanda-ceria dengan senyum yang selalu mengembang. Para penduduk  tampak sibuk mempersiapkan ubo-rampe sebuah upacara tradisi. Sementara itu, saya dan para pengunjung lain (wisatawan, wartawan, mahasiswa, dll) sibuk ke sana-ke mari: memotret setiap sudut kampung dengan segala suasananya.

Pagi itu, 13 Desember 2015 adalah hari istimewa di Kampung Sindangbarang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor (berjarak sekitar 10 km dari Kota Bogor). Masyarakat kampung ini mengadakan upacara Sunda kuna yang menarik, yaitu: Seren Taun. Upacara ini digelar sebagai wujud rasa syukur pada Yang Maha Pengasih atas hasil pertanian yang melimpah dan menyambut musim tanam dengan harapan akan mendapat panen yang baik. Dalam bahasa Sunda, “seren” berarti  serah atau seserahan, sedangkan “taun” berarti tahun.  Namun demikian, tak setiap daerah di tanah Sunda menyelenggarakan upacara ini, karena hanya kampung adat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi Sunda lah yang masih menyelenggarakannya, termasuk Sindangbarang. Konon kampung ini adalah kampung Sunda tertua di wilayah Bogor yang disebut dalam naskah Pantun Bogor dan Babad Pajajaran.

Upacara ini dimulai sekitar pukul 09.00, ditandai dengan arak-arakan dongdang, yang membawa hasil pertanian. Dongdang adalah istilah Sunda yang berarti  tempat/wadah (untuk membawa) makanan saat upacara atau peristiwa istimewa. Arak-arakan ini dimulai dari rumah salah satu sesepuh kampung yang disebut  Rumah Bali menuju  Imah Gede, berjarak sekitar satu kilometer dengan jalanan yang menanjak.

IMG_7109

Bagian terdepan arak-arakan adalah enam orang rengkong, yaitu orang berpakaian pangsi yang membawa padi menggunakan pikulan dari bambu yang diikat tali ijuk. Pemikul ini berjalan sambil mengibaskan pikulannya ke kanan dan kiri seperti orang menari. Bunyi gesekan antara tali ijuk dan pikulan bambu ini mirip dengan bunyi rangkong (sejenis angsa) hingga kemudian disebut rengkong. Barisan berikutnya adalah pembawa semacam kemenyan atau dupa. Lalu disusul berturut-turut: pembawa air suci dari tujuh mata air, barisan para ibu pemusik angklung gubrak, penabuh gendang (dogdog), dan para pembawa dongdang yang berisi hasil pertanian yang dihias secara elok nan meriah, seperti: pisang, nanas, jeruk, jagung, terong, kangkung, bayam, wortel, dan petai (yang melambai-lambai). Setiap RW di kampung ini mengarak satu dongdang.

Arak-arakan berakhir di alun-alun Imah Gede. Aneka dongdang diletakkan berjejer di lapangan. Para rengkong melepas ikatan padi dan menyatukannya. Para sesepuh kampung dan pejabat berkumpul di depan salah satu leuit (lumbung). Saat inilah puncak upacara tiba. Ikatan-ikatan padi ini diangkat dan dimasukkan ke lumbung, setelah sebelumnya seorang pemuka agama memimpin doa bersama.  Berakhirnya lantunan doa ini juga sebagai pertanda dimulainya parebut dongdang  yaitu memperebutkan isi dongdang. Masyarakat yang sudah tak sabar segera berebutan. Dalam sekejap isi dongdang pun amblas. Ada kepercayaan bahwa orang yang berhasil mendapatkan hasil bumi dalam dongdang  akan mendapat berkah lebih dari Tuhan.

IMG_7093

Upacara ini juga menampilkan berbagai pertunjukan seni tradisi antara lain: tari rampak gendang, tari 100 gadis kecil, jaipong, dan angklung gubrak. Ada satu pertunjukan yang biasanya selalu ada namun kali ini absen yaitu: parebut seeng.

Rangkaian acara berakhir sekitar pukul 11.00. Secara keseluruhan upacara seren taun ini berlangsung tertib dan lancar. Sederhana tapi bersahaja. Merawat tradisi yang baik dengan ketulusan akan bermanfaat bagi sesama manusia dan seluruh alam. Saya percaya, apa yang dilakukan masyarakat Sindangbarang ini pun demikian.  Semoga tradisi ini tetap lestari di tengah arus kencang globalisasi dan modernisasi. (taksin)

*Penulis adalah penggiat di Lembaga Pendidikan Seni Nusantara. Tinggal di Cilendek Timur, Bogor.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s