Resensi: ESTETIKA PARADOKS, Karya Jakob Sumardjo. Penerbit Kelir 2014

Oleh: Dy Murwaningrum

Estetika Paradoks, oleh Jakobus Sumardjo. Cetakan pertama 2014.

Estetika paradoks merupakan sebuah karya dari Jakob Sumardjo. Jakob banyak menulis mengenai estetika Sunda dalam beberapa jurnal, artikel, serta beberapa buku. Diantaranya buku “Pola Rasional Masyarakat Sunda”. Tidak banyak penulis yang menulis mengenai tanah Sunda dan Pak Jakob adalah salah satunya. Estetika paradok diberi prolog khusus yaitu bahwa buku Estetika paradok merupakan sebuah buku provokatif. Memprovokasi bangsa Indonesia untuk bangga akan artefak budaya, seni dan banyak hal yang dapat kita runut pada pemikiran-pemikiran masa lalu nenek moyang kita yang sudah luar biasa.

Kekosongan, kehampaan, ketiadaan, awang awang awung, suwung merupakan awal dari segalanya, begitu dalam mitologi masyarakat Jawa. Kosong adalah awal mula munculnya hal-hal yang dualistik. Matahari dan bulan, laki-laki dan perempuan, gelap dan terang. Mitos-mitos diungkapkan dalam buku ini. Kepercayaan masy arakat lama diungkap oleh jakob. Mulai dari konsep mitologi jawa, sunda, nias, suku asmat dan beberapa wilayah di Indonesia.

Dalam Estetika Paradoks juga dipaparkan mengenai beberapa prinsip/pola mitologi. Pola dua biasanya pola-pola yang paradoksal dan saling melengkapi. misal laki-laki perempuan, matahari bulan, siang malam, yaitu mitologi asmat, ruing, menado dan nias. Beberapa contoh seni pertunjukan dan dasar mitologi pola dua juga dipaparkan singkat. Sedang penganut pola tiga yaitu, Sunda Minangkabau, bugis, batak. Bentuk-bentuk mitologi/pola biasanya diaplikasikan pada benda-benda, perunjukan dan bentuk seni rupa pula. Pola tiga, biasanya digambarkan dalam atas tengah dan bawah. ada penengah diantara 2 hal. Jakob membahas tentang rumah-rumah adat orang flores, sunda Jambi dan Batak Toba yang menganut mitologi pola tiga.

Ada pula pola lima dan empat. Pola empat biasanya diapakai pada daerah-daerah melayu, kerinci dan ternate. Pola lima yang dijelaskan oleh Jakob Sumardjo pada mitologi orang Bali, diantaranya pada mitos Oedipus – atugunung. pola lima juga juga dipakai dalam naskah manikmaya. sebuah naskah genesis(kejadian) tentang semesta. Manikmaya berbahasa Jawa Baru dan disimpulkan dari bahasanya bahwa manikmaya lahir ketika kerajaan Islam Jawa. Estetika pola lima juga digunakan pada seni pertunjukan wayang. baik wayang orang maupun wayang kulit.

Melalui Estetika Paradok ini kita dapat mengenali mitos-mitos dan karakter falsafah yang ada dalam budaya kita masing-masing. semoga buku ini benar-benar mampu menambah kecintaan dan kesadaran akan kekayaan nenek moyang kita atas karyanya dan pemikirannya.

 

Iklan

3 Comments Add yours

  1. AB Raturangga berkata:

    Sangat informatif dan Terima kasih banyak yaa…

    Disukai oleh 1 orang

    1. seratpena berkata:

      Sama sama… Terimakasih ya sudah membaca

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s