Bedah Buku Bersama Okky Madasari “Kerumunan Terakhir” di BCCF Bandung (Video)

Sebuah Resensi dan dokumentasi bedah buku “Kerumunan Terakhir”

Oleh : Rena Asyari

Saya seperti diajak bolak-balik berkelana dari satu kerumunan ke kerumunan berikutnya oleh Okky Madasari di novel kelimanya ini. Ya, 3 tahun bukanlah penantian yang sebentar untuk menunggu karyanya lahir kembali. Mba Okky tetap menjadi Okky Madasari yang tak pernah takut bersuara, mungkin baginya kebenaran adalah tentang nurani.

Kerumunan Terakhir, novel yang cukup segar, muda, dibanding empat novelnya yang lain. Bercerita tentang seorang laki-laki bernama Jayanegara yang kemudian mengenal social media dan menjadi manusia baru. Internet berhasil merubah identitas seseorang. Manusia-manusia baru lahir, manusia-manusia lama tercampakkan. Dengan cerdas Okky membuat percakapan dunia maya seolah-olah nyata, tak ada capture chat, tak ada percakapan-percakapan khas digital, pembaca ditempatkan sebagai pelaku bukan sebagai penonton.

Kerumunan Terakhir membuat saya belajar tentang hidup yang selalu menghadirkan dunia-dunia baru dan kita harus mengakrabinya. Teknologi bukan untuk dijauhi tetapi digunakan sebagai media penyelaras hidup. Kerumunan Terakhir seolah memberikan gambaran bahwa tak ikut ambil alih peran dalam teknologi maka itu celaka, jangan biarkan teknologi digenggam oleh kebodohan dan ketidaktahuan. Setiap individu seolah harus ikut bertanggung jawab untuk perang melawan informasi, karena jika kebenaran didiamkan maka dunia akan dikuasai oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Jayanegara yang ber”metamorfosa” menjadi Matajaya menjadi tokoh utama dalam Kerumunan Terakhir. Sosok Jayanegara di dunia nyata yang selalu kalah, lemah, pecundang dan selalu berada di bawah bayang-bayang power ayahnya membuat Jayanegara begitu menikmati menjadi Matajaya. Matajaya berjaya di dunia maya, dunia keduanya. Matajaya menjadi sosok yang berkebalikan dengan Jayanegara, kuat, berani, kritis, cerdas dan menarik. Dunia internet membuat Matajaya terlupa. Ada hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan dengan gegabah, celaka telah menantinya ketika Matajaya menggunakan media sosial tanpa aturan, pasal pencemaran nama baik pun dialamatkan padanya.

Okky membuat cerita berbingkai di novelnya kali ini. Kita diajaknya seperti menengok beberapa kehidupan tokoh lain yang sekelebat mampir tanpa kehilangan tokoh utama. Cerita diakhiri dengan “pertemuan” Jayanegara dan Matajaya. Dunia Matajaya terlalu ruwet untuk diperbaiki, hingga Jayanegara dan kekasihnya harus berpindah ke tempat yang lebih sunyi tinggal bersama simbahnya di puncak Suroloyo. Di tempat yang sunyi sekalipun masa lalu datang menghampiri, mengendap-ngendap dan memaksa keduanya untuk bertanggung jawab pada dunia kedua yang telah di masukinya.

 

Itu sekilas tentang Kerumunan Terakhir, dan sebuah keberuntungan bagi Seratpena dan teman-teman Samahita dan juga Antronesia bisa mengadakan acara bedah buku “Kerumunan Terakhir” di BCCF Bandung pada tanggal 4 Juni lalu. Berikut videonya :

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s