Tafsir Mimpi – Sigmund Freud

Freud, Sigmund. Tafsir Mimpi. Jendela : 2001, ISBN : 797-95978-21-4

Alih bahasa oleh : Apri Danarto, Ekandari, Sulistyaningsih, Ervita, S.Psi, Penyunting : Muhidin M. Dahlan

oleh : Rena Asyari

IMG_20160803_061452[1]
Gambar dokumentasi pribadi, buku koleksi perpustakaan Seratpena
Kita seringkali mengalami mimpi, kadangkala itu membuat kita bertanya tentang makna mimpi tersebut. Sebagian berkata “ah itu bunga tidur”, sebagiannya lainnya sibuk mencari tafsirannya melalui beragam cara, dengan pemaknaan spiritual ataupun material.

Buku Tafsir Mimpi yang ditulis oleh Sigmund Freud ini mempunyai judul asli “The Interpretation of Dream” diterbitkan pertama kali oleh Vintage Books, New York tahun 1911.

Menurut Freud, seperti ditulisnya di halaman 25-30, sumber-sumber mimpi bisa berasal dari :

  1. Rangsangan indrawi external (berorientasi pada objek)
  • Pikiran tetap berkomunikasi secara terus menerus dengan dunia luar meski kita dalam kondisi tidur. Setiap suara yang ditangkap, walaupun samar-samar akan merangsang reaksi baru agar sesuai dengan representasi mimpi. Gelegar suara petir akan membawa kita ke tengah pertempuran, kokok ayam jantan mungkin akan ditransformasikan ke dalam jeritan-jeritan manusia, dan suara derit pintu mungkin akan memunculkan mimpi tentang pencuri yang masuk ke dalam rumah. Ketika selimut lepas dari tubuh, mungkin kita bermimpi sedang telanjang bulat atau jatuh ke air. Akumulasi dari air mani memunculkan mimpi-mimpi yang menggairahkan, dan sedikit rasa sakit pada suatu bagian tubuh tertentu akan memberikan gambaran berlebihan, seperti sedang menderita sakit parah, mendapat serangan musuh, atau luka-luka karena kecelakaan.
  • Rangsangan yang mempengaruhi indera selama tidur sama sekali tidak muncul dengan bentuk aslinya dalam mimpi, tetapi diganti oleh representasi lain yang masih terkait.
  • Reaksi pikiran terhadap rangsangan yang menggangu tidur adalah rumit dan dikacaukan oleh pembentukan ilusi. Mula-mula kesan indrawi kita kenali dan terintrepetasi dengan benar, lalu kita masukkan ke dalam kelompok ingatan darimana kesan berasal sesuai pengalaman-pengalaman masa lalu. Jika kesan itu kuat, jelas dan ditambah dengan tersedianya waktu untuk memindahkannya ke dalam proses mental tersebut, maka kekacauan ilusi dalam tafsir bisa dihindari. Contoh : bunyi alarm.
  1. Rangsangan Indrawi internal (Berorientasi pada subjek)

Peran penting dimainkan dalam ilusi-ilusi mimpi oleh sensasi berorientasi subjek dari penglihatan dan pendengaran yang kita kenal di alam sadar. Seperti cahaya-cahaya berkilauan di kegelapan, bunyi dering, dengung, dan adanya gangguan-gangguan pada retina. Kecenderungan luar biasa dari mimpi dalam memperdaya mata dengan beragam objek yang mirip/identic. Telinga kita melihat hamparan burung, kupu-kupu, ikan, manik-manik beragam warna, bunga dan sebagainya. Cahaya bertaburan di ruang gelap pandangan, mobilitas cahaya tak tentu arahnya, sehingga menghasilkan gambar dengan objek yang bergerak. Bukti utama dari kekuatan pendorong mimpi melalui rangsangan inderawi subjek diberikan oleh apa yang disebut halusinasi hipnogogis yaitu halusinasi yang muncul ketika dalam keadaan mengantuk. Peran retina mata terhadap mimpi sangat besar. Titik-titik berkilauan dan garis-garis bercahaya yang secara spontan diterima retina, menghasilkan kerangka atau pola dari gambar-gambar mimpi yang diterima secara psikis.  Gambar-gambar visual adalah pelaku utama dan unsur pokok dalam mimpi.

  1. Rangsangan Fisik Internal (Berorientasi Organ)

Ketika tidur, kesadaran jiwa menjadi jauh lebih dalam dan lebih luas daripada ketika di alam sadar. Dan ia dipaksa untuk menerima dan dipengaruhi oleh kesan-kesan rangsangan tertentu yang berasal dari beberapa bagian tubuh dan dari perubahan-perubahan tubuh yang tidak disadari di alam sadar. Organ-organ yang sakit menanamkan ciri-cirinya sakit menanamkan ciri-ciri nya dalam mimpi. Mimpi dari orang yang menderita sakit jantung umumnya sangat singkat dan berakhir dengan perasaan emosional menakutkan ketika tegangan. Yang sakit paru biasanya mimpi sesak nafas, jatuh dari pesawat dll.

Semua organ tubuh bisa menjadi perangsang mimpi. Mimpi yang sering terjadi yaitu mimpi jatuh dari ketinggian, mimpi gigi tanggal, mimpi terbang, mimpi telanjang.

Mimpi telanjang disebabkan karena ia tidak berpakaian ketika tidur, mimpi tanggal gigi mengindikasikan adanya gangguan gigi. Mimpi terbang adanya kuantum rangsangan yang berasal dari naik turunnya katub paru-paru ketika kulit thorax menjadi tidak peka saat kita tidur. Mimpi jatuh biasanya tangan atau kaki kita menggantung dari kasur.  Usus kita bermasalah maka mimpi kita jalan-jalan berlumpur.

  1. Sumber-sumber tegangan psikis

Mimpi mudah lupa karena terlalu lemah, sementara gambar-gambar di sekitarnya lebih kuat untuk diingat. Kita akan dengan mudah mengingat hanya pada mimpi-mimpi yang paling aneh. Mimpi hampir tak pernah mengambil alih serangkaian ingatan yang tersusun dari alam sadar, tapi sekedar detail ingatan tertentu yang diipindahkan dan memiliki relasi-relasi psikis yang diingat di alam sadar. Mimpi tidak memiliki sifat mnemonic (membantu/alat bantu untuk mengingat memori)

Kita seringkali bermimpi sexual, bukan berarti porno. Organ-organ sexual merupakan cerminan dari barang-barang yang kita lihat. Contoh : pemimpi berjalan di gang sempit dan menemukan sebuah clarinet. Clarinet diidentikkan dengan penis dan vagiana biasanya disimbolkan dengan jalan setapak yang sempit, licin dan lembek.

Tentang mimpi masih banyak hal lagi, bisa dilihat di buku Sigmund Freud. Berikut adalah daftar isi dari buku Freud :

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s