MENGENANG SANG PENEBAR VIRUS SETAN

Oleh : Dikdik ‘Venol’ Pebriansyah*

 

IMG-20170329-WA0013Pada hari Rabu tanggal 29 Februari 2017, Bandung menjadi kota yang ke delapan dalam rangka memperingati dua tahun kepergian Slamet Abdul Sjukur (24 Maret 2015-24 Maret 2017). Acara peringatan tersebut digelar juga di beberapa kota seperti Jakarta, Jogja, Surabaya, Padang, Bogor, dan Papua.

Khususnya di Bandung, acara mengenang dua tahun kepergian sang komponis tersebut berlangsung dengan khidmat di Suruput kopi jalan Rereng Wulung no 32. Acara ini dirancang oleh beberapa komponis, musisi dan pegiat musik dari kota kembang. Tidak jauh berbeda dengan kota-kota lain acara berisi diskusi, pertunjukan karya dan doa. Pembicara pada kesempatan ini adalah orang-orang yang pernah bercengkrama langsung dengan beliau, ataupun yang pernah berkarya bersamanya seperti Dody Satya, Iwon Rachmat, Robi Rusdiana dan Haryo Yose.

Slamet Abdul Sjukur meninggal pada usia 79 tahun, dia banyak sekali mewariskan pemikiran-pemikiran tentang musik. Baginya musik bukan hanya persoalan sesuatu yang nampak saja, tapi ada yang sangat hebat dan menakjubkan yaitu sesuatu yang ada di balik musik itu sendiri yang tak kasat mata. Persoalan musik sudah menjadi bagian dari hidupnya, seperti yang diceritakan oleh Haryo Yose bahwa Slamet pernah berurusan dengan pegawai kelurahan gara-gara menuliskan ‘musik’ di kolom agama ketika hendak membuat KTP.

Totalitasnya dalam dunia musik jangan di pertanyakan lagi, sudah banyak penghargaan yang beliau terima dari dalam maupun luar negeri. Ketulusannya dalam bermusik pun sangatlah tinggi, hal demikian tercermin dalam pidatonya ketika mendapat  penghargaan dari Kemenparekraf dalam Karya Bakti Budaya, beliau berkata “Anugerah, bagi saya hanyalah suatu kebetulan, tidak pernah sedikitpun saya berharap mendapat pengakuan apalagi anugerah. Saya berkarya karena keyakinan dan keikhlasan”. Hanya orang yang luar biasalah yang sanggup berkarya dengan penuh keikhlasan seperti Slamet ini.

Dalam Buku Virus setan (Art Music Today tahun 2012) beliau berkata “Ada satu anutan kepercayaan, yaitu go international dan go MURI, jadi itu kepercayaan mereka. Jadi kalo misalnya penghargaan seperti MURI itu mustinya, tanpa mikir dulu kalau memang orang hebat, MURI pasti datang. Sekarang kebalikannya. Yang haus pengakuanlah yang datang, persis sama dengan orang-orang yang tidak segan lagi minta dipilih sebagai pemimpin”. Sekali lagi sang komponis handal ini mencerminkan dan menjunjung nilai ketulusan serta keihkhlasan dalam berkarya.

Salah satu warisan pemikiran dari Slamet Abdul Sjukur yang sangat menarik adalah Konsep MiniMAX yang berarti mini tapi maximal. Menurut beliau keterbatasan bukan halangan untuk menjadi kreatif, bagaimana yang kecil atau yang terbatas bisa didayagunakan sebaik-baiknya. Keterbatasan bukan hambatan tapi justru merupakan tantangan untuk menggunakan akal menjadi kreatif maka dari itu dengan MiniMAX, mengeluh itu adalah kemewahan yang tidak pantas. Konsep pemikiran ini sebetulnya tidak hanya digunakan untuk proses bermusik saja, lebih dari itu MiniMAX bisa digunakan dalam hal apapun terutama dalam hal pembuatan sebuah karya.

Sebagai salah satu contoh dengan MiniMAX Slamet berhasil meraih piringan emas dalam festival musik folklore di perancis. Beliau menggarap Angklung milik kedutaan yang keadaanya pecah-pecah. Para pemain karya berjudul “Angklung” ini terdiri dari anak anak diplomat dan anak indonesia yang belajar di Perancis. Hal demikian membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan. Apa yang bisa dilakukan dengan sikap kreatif mengatasi keterbatasannya adalah prinsipnya.

Figur seperti beliau ini sangatlah langka. Slamet orang yang benar-benar konsisten dalam musik. Semangatnya dalam ketulusan berkarya yang MiniMAX  menjadi ketajaman tersendiri dalam setiap musiknya. Maka dari itu keunikan serta kehebatan Slamet menjadi rujukan mengapa kepergiannya harus diperingati, dikenang dan ditebarkan virusnya. Sebagi tokoh musik kontemporer yang banyak menyumbangkan kebijaksanaannya dalam perkembangan musik Indonesia pemikiran-pemikirannya harus tetap dirawat dan dipraktikkan dalam aktivitas kekaryaan, khususnya dalam bermusik.

 

  • Dikdik atau  biasa dipanggil Venol adalah guru karawitan yang saat ini aktif dalam kepengurusan Seratpena

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s