Kisah Para Prianger Planters, Her Suganda. Sebuah Cerita Orang Asing di Bumi Priangan, sampai Gamelan Sari Oneng yang Mendunia

oleh Dy Murwaningrum

Sebuah buku dengan fisik ringan, 179 halaman diterbitkan kompas 2014. Cover yang dominan diwarnai hijau memang sarat gambaran alam bumi Priangan. Karpet hijau yang membentang berhektar-hektar dan barisan perempuan bersanggul ringan sedang membawa hasil kebun di kepalanya. Gunung yang membentang, menjadi latar jauh yang tampak jelas.

Her Suganda menyajikan berita, sejarah, dan fakta-fakta masa lalu dengan mudah dipahami siapa saja, bahkan bagi orang yang tidak suka membaca sekalipun. Tidak banyak tulisan-tulisan sejarah yang ringan dibaca. Her menyajikan fakta tentang kedatangan orang asing yang membangun peradaban di Priangan sejak tahun 1800an awal sampai 1900an. Latar belakang Her sebagai Jurnalis, mungkin salah satu yang membuat tulisan-tulisannya enak dibaca dan tidak berbelit-belit tanpa mengurangi kualitas data yang disampaikan.

Melalui buku ini, pembaca diajak untuk kembali ke masa lalu ketika kedatangan orang-orang Belanda di bumi Priangan,termasuk kebijakan-kebijakan politik Belanda, penyakit yang diderita orang-orang Belanda, Culture Stelsell, bahkan tentang kebesaran seni Jawa Barat di kancah dunia, serta peninggalan keilmuan di beberapa titik.

10 judul dan 7 catatan khusus, dikemas sangat menarik. Judul pertama adalah “Emas Hijau Memicu Pemberontakan Tionghoa Makau”. Sejak 1830an tanam paksa sudah ada di bumi Priangan, baik pribumi maupun Tionghoa, semua menjadi petani teh yang harus bekerja pada orang Belanda dan diperlakukan secara tidak adil. Awalnya perkebunan di Priangan adalah perkebunan kopi, namun perlahan kopi mengalami kesuraman setelah teh lebih populer. Keinginan Belanda untuk menanam teh karena dipicu oleh tumbangnya orang-orang Belanda yang menjadi korban dari wabah penyakit. Konon penyakit itu muncul dari bakteri. Pribumi selamat dari bakteri karena diketahui telah terbiasa minum dari air yang kurang baik, sedangkan orang Tionghoa dapat menangkal bakteri tersebut karena kebiasaan minum teh. Dengan sebab tersebut maka Belanda dengan serta merta mencari bibit teh terbaik dan memaksimalkan perkebunan teh.

Ketidakterimaan orang tionghoa di Bumi priangan karena tindakan kesewenang-wenangan Belanda, memicu pemberontakan di Wanayasa, Purwakarta dan beberapa daerah di Jawa Barat. Banyak jatuh korban khususnya dari pihak Tionghoa, tepatnya di daerah Ranca Darah. Dahulu dinamakan Ranca Darah karena tempat tersebut layaknya kubangan yang penuh dengan darah. Ranca Darah berada diantara Wanayasa dan Purwakarta, dan saat ini telah berdiri bangunan bernama Ban Lin Tan, di komplek vihara Sian Di Ku Poh. Sebuah klenteng yang dipercaya sebagai kuburan massal, dengan jumlah mencapai ribuan bahkan, puluhan ribu.

Selain pemberontakan Makau, beberapa fakta menarik yang dipaparkan diantaranya bekas kebun yang dikelola oleh Willem Kerkhoven sebagai tempat berburu. Tempat tersebut kemudian menjadi taman marga satwa.

Seorang Belanda, Bosscha, turut memberi sumbangan besar pada negeri ini dengan mendirikan tempat penelitian perbintangan yang selanjutnya disebut dengan Observatorium Bosscha. Keluarga Bosscha dan kerkhoven memiliki sumbangan besar pada kemanusiaan, pendidikan serta ilmu pengetahuan. Keduanya memberi sumbangan terbesar pada pendirian RS di Bandung, menanggung perawatan Lepra di Jawa Tengah, donatur pada lembaga buta, lembaga bisu tuli, selanjutnya sekarang disebut dengan SLB.

Fakta mengenai pergundikan, fenomena Nyai sebagai simpanan sebagai solusi dari ketakutan pria-pria Belanda terhadap penyakit jika berhubungan dengan pelacur sehingga mereka memelihara beberapa Nyai di rumahnya. Fakta-fakta perilaku seks yang buruk juga terjadi pada tentara dimasa itu.

Tidak kalah menarik dari kisah-kisah fakta yang saya baca adalah kebesaran Gamelan Sari Oneng yang saat ini berada di Sumedang, setelah diserahkan kembali oleh pemerintah Belanda pada tahun 50an ke Indonesia. Menurut beberapa cerita dari negeri Belanda, pada malam-malam tertentu gong dari Gamelan Sari Oneng berbunyi tanpa ada yang memainkannya. Gamelan Sari Oneng adalah gamelan yang dibuat tahun 1825 di Parakan Salak. Gamelan ini merupakan satu-satunya hiburan di Parakan Salak. Pada masa promosi teh ke Eropa, gamelan ini turut ikut karena kecintaan Walraven Holle pada gamelan. Konon Holle sampai lupa pada keluarga dan tugas-tugasnya. Gamelan Sari Oneng diminati dan dicintai di luar negri. Dia menjadi saksi bisu peresmian menara Eifel yang dirancang Gustave Eiffel, menjadi objek pembelajaran dan perekaman bagi mahasiswa etnomusikologi di Amerika, khususnya ada Sue De Vale yang selanjutnya menjadi salah satu ilmuwan di bidang seni khususnya organology. Selain itu Gamelan Sari Oneng juga menjadi inspirasi dan sangat mempengaruhi karya-karya Debussy tahun 1800an.

Kisah Para Preanger Planter merupakan buku yang sarat pengetahuan dan sejarah Jawa Barat. Melalui buku ini kita akan dibawa lebih dekat dengan kehidupan orang Belanda di masa lalu. Sudut pandang yang cukup berimbang, sehingga tidak melulu menjatuhkan satu atau pihak lainnya. Benar-benar menyajikan data, fakta di lapangan, dilengkapi foto-foto yang mendukung, bukan hanya menceritakan tentang “omongan-omongan”.

Iklan