Satu lagi dari Indonesia, Tarawangsawelas, Cita Rasa Lokal yang Mengglobal

Oleh: Bunga Dessri Nur Ghaliyah

Tradisi, mengalirkan beragam kebiasaan, cara tutur, sikap, kesenian dan salah satunya instrumen. Kondisi yang selalu membingungkan bagi para pelaku musik tradisi senior, ditengah maraknya tantangan seni musik populer menjadikan beberapa instruments tradisi sedikit sulit untuk kita temui. Hilangnya seni dan instrumen tradisi secara perlahan juga diakibatkan oleh langkanya ruang di media televisi lokal khususnya dalam memperkenalkan instrumen tradisi. Beberapa waktu lalu, di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, samar-samar terdengar alunan suara Ngek-ngek(instrumen gesek khas Sunda, yang bagi sebagian orang disebut sebagai Tarawangsa) dan Jentreng(alat musik petik khas Sunda) yang begitu syahdu dan menentramkan hati. Siapa sangka, “alat musik ritual” yang biasanya disajikan oleh generasi tua ini ternyata sedang dimainkan oleh dua orang pemuda (Teguh Adi Permana/ Teguh (25) dan Wisnu Ridwana/ Enu (24))

Tarawangsa sebenarnya adalah nama sebuah kesenian yang terdiri dari Ngekngek dan Jentreng, namun sebagian orang memahaminya sebagai instrumen (ngekngek-red) yang termasuk dalam klasifikasi chordophone dan dimainkan dengan cara digesek, layaknya rebab atau biola. Kesenian Trawangsa, khas dari Rancakalong Kabupaten Sumedang dan termasuk dalam golongan seni untuk ritual. Teguh dan Enu justru memiliki ketertarikan khusus, dibanding ketertarikannya dengan intrumen barat yang tentu lebih populer. Mereka meminati tarawangsa. Jarangnya grup  musik yang berkonsentrasi khusus untuk mengembangkan kesenian Tarawangsa serta kehawatiran dan keraguan sebagian seniman dalam menggarap “seni ritual”, menjadi dorongan terbesar bagi Teguh dan Enu untuk mendirikan grup musik yang akan mewadahi pikiran-pikiran kritis mereka. Akhirnya, pada tahun 2011, Teguh dan Enu membentuk grup yang dinamakan Tarawangsawelas yang berasal dari kata sawelas (sebelas) dan welas asih (cinta kasih). Kemudian dilengkapi dengan kehadiran sang penari,  Mina yang bergabung di tahun 2013.

wp-image--24198347.
Ketika mengisi workshop di Thailand (doc.Pribadi)

Dalam berkarya, grup yang kini tercatat sebagai bagian dari label Morpine Records (Jerman)  ini tak hanya menyajikan kesenian tarawangsa secara konvensional, namun mereka juga membuat karya-karya “baru” tanpa menanggalkan nafas seni tradisi. Konsistensi dalam berlatih, berkarya serta penggalian pemikiran yang selalu mereka lakukan, kini membuahkan hasil. Sejak awal terbentuknya, grup musik ini seringkali bekerjasama menjadi musik pengiring, pengisi theme song, juga berkolaborasi dengan seniman-seniman ternama, seperti Godi Suwarna, Man Jasad, Budi Dalton, Trie Utami, Dan Mackinlay, dan lain-lain.

Tahun ini, keunikan garap musik, keterbukaan pemikiran, serta kempuan berbahasa, membawa mereka ke kancah Internasional. Para “anak nakal” ini baru saja selesai bertugas di negara Thailand untuk membagi ilmu dalam beberapa workshop di sana. Selanjutnya, mereka akan berkolaborasi dengan musisi elektronik asal Jerman, Rabih Beaini untuk menggelar konser di beberapa negara di Eropa dalam rangka festival Europalia. Dalam kesempatan tersebut, tarawangsa dengan ruh kasundaan akan melebur dengan musik eksperimental elektronik. Kabar baiknya, setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan dalam Europalia, Tarawangsawelas akan mempromosikan albumnya yang berjudul “Wanci” dan akan segera diluncurkan dalam bentuk piringan hitam.

Rasanya pembahasan tentang sekelompok pemuda eksentrik ini tidak akan ada habisnya.  Segala bentuk pelestarian dan pengembangan yang mereka lakukan diharapkan dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya kepada kesenian tradisional sunda,  kepada keilmuan dan kepada dunia. Satu hal yang pasti,  semakin canggihnya teknologi dan kemudahan bertukar informasi, mereka manfaatkan sebagai wadah untuk menggali potensi diri dan menunjukkan kekayaan seni kita pada dunia. Dengan demikian, Tarawangsawelas dapat membuktikan bahwa modernitas tak selamanya berdampak negatif, namun justru mampu memperkuat kesenian tradisional.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s