Marie Antoinette dan Wajah Baru Perancis

 

Oleh : Rena Asyari

Selalu ada luka di atas peristiwa besar, terlebih peristiwa itu mengguncang dunia dan menjadi salah satu pencetus perubahan.

Tak pernah terbayangkan di benak anak perempuan berumur 14 tahun itu, bahwa 20 tahun kemudian dia akan menghadapi tatapan muak dan sumpah serapah dari penduduk kota Paris. Tak pernah terbayangkan juga dirinya akan menjalani hari-hari yang kelam di balik kamar yang pengap, lagi sempit dengan pendarahan hebat terus-menerus. Kotor, bau, hina. Dipisahkan secara paksa dari anaknya, dan harus merelakan suaminya yang diadili terlebih dahulu oleh pengadilan rakyat.

Menjelang hari-hari terakhirnya di tahun 1793, perempuan yang berusia 38 tahun itu tak mampu mengeja nasibnya. Yang dapat ia lakukan menjelang kematiannya adalah membela diri semampunya. Kawan di meja judi dan panggung pertunjukkan menghilang, tak satupun mereka datang membela. Hidupnya ditanggungnya sendiri, tidak saudara, suami apalagi anak.

Dewi Rococo yang sangat berjaya di abad 18 itu harus melupakan pesta, kemewahan, ingar bingar, hiburan, dan kepala yang tertunduk dari setiap orang ketika ia berjalan ataupun harus merelakan panggilan “hidup Ratu” tak lagi menjadi miliknya sejak ia menjalani malam terakhir di Versailles di musim panas tahun 1789.

Jika saja ibunya, Maria Teresa masih hidup, mungkin ia akan sangat menyesal telah larut dalam ambisi kekuasaan menguasai Eropa sehingga menyerahkan putrinya yang muda, cantik, lincah, menarik yang masih berumur 14 tahun untuk menikah dengan laki-laki lugu, pendiam, dan lebih suka berburu daripada berpikir yang kelak dipanggil Louis XVI. Para pendahulunya mungkin tak akan pernah menyangka dinasti yang telah berumur ratusan tahun tumbang di akhir abad 18, dan satu persatu keturunannya harus berhadapan dengan Guillotine.

Perempuan cantik itupun mungkin saja menyesal, jika ia ditawari kehidupan kedua mungkin ia akan menuruti nasehat ibunya agar tekun membaca dan mau berpikir tentang politik, akan lebih memperhatikan rakyatnya dan mau berbaur dengan semua golongan. Tapi tentu saja, yang kedua tak pernah datang. Dia seperti sudah ditakdirkan untuk mengubah wajah Perancis dari kerajaan menjadi republik, bahkan wajah seluruh Eropa.

Sepenggal kisah di atas adalah rentetan sejarah yang memilukan. Jungkir balik kehidupan seseorang yang dipuja dan dijatuhkan sekaligus. Pada ia salah satunya, Republik Perancis berutang. Perempuan ini yang kelak kita kenal dengan nama Marie Antoinette membawa warna tersendiri yang menonjol dalam revolusi Prancis yang telah melahirkan slogan Liberte, Egalite, Fraternite.

Stefan Zweig, pengarang Austria dengan cakap menuliskan peristiwa sejarah tersebut dalam buku biographinya yang diberi judul Marie Antoinette: The Portrait of an Average Woman terbit tahun 1932 yang kemudian diterjemahkan oleh Ali Audah tahun 1986 diterbitkan Pustaka Jaya.

Kedekatan Stefan Zweig dengan Sigmund Freud memberikan pengaruh besar dalam pengetahuan psikologinya. Stefan Zweig mendeskripsikan karakter Marie Antoinette dan Louis XVI dengan sangat baik, pembaca dibawa larut dalam adegan demi adegan. Menghadirkan kemegahan Versailles, kelamnya Conciergerie dan betapa mengerikannya Guillotine. Catatan berbagai peristiwa tergambar jelas. Buku ini bukan sekedar biograpi tokoh, tetapi roman sejarah yang dikemas sangat elastik dan informatif.

Marie Antoinette, kisah hidupnya yang tragis membuat kita bisa berkaca tentang hari esok yang tak selalu sama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan