Citraresmi Dyah Pitaloka, Sebuah Nama Penggetar Sukma: Cerita dari Panggung Pertunjukan

Para pemain Teater Tari Citraresmi, Citraresmi (Maudy Koesnadi), Dewi Laralinsing (Miming Suwandi), Nini Dayang (Ida Rosida Koswara), Bibi Pengasuh (Rinrin Candraresmi), dan Para Dayang (Ria, Hanna, Maudy, Wina,Dini, Ulfa, dan Elfira). NU-Art Sculpture Bandung, Jawa Barat, Rabu 1 November 2017. (Sumber gambar: Ida Rosida Koswara)
Para pemain Teater Tari Citraresmi, Citraresmi (Maudy Koesnadi), Dewi Laralinsing (Miming Suwandi), Nini Dayang (Ida Rosida Koswara), Bibi Pengasuh (Rinrin Candraresmi), dan Para Dayang (Ria, Hanna, Maudy, Wina,Dini, Ulfa, dan Elfira). NU-Art Sculpture Bandung, Jawa Barat, Rabu 1 November 2017. (Sumber Gambar: Ida Rosida Koswara)

Oleh: Dika Dzikriawan

Excited, begitulah perasaan saya ketika melihat sebuah digital flyer Teater Tari Citraresmi persembahan Titimangsa Foundation, Bakti Budaya Djarum Foundation dan Mainteater. Citraresmi Dyah Pitaloka seorang putri Maha Raja Sunda yang termashur akan paras cantiknya. Peristiwa kelam yang terjadi dalam perang Bubat, merupakan suatu kisah yang tak lekang oleh waktu. Disamping itu, keterlibatan dua aktris ternama Indonesia: Happy Salma (Produser) dan Maudy Koesnaedi (pemeran Citraresmi) cukup menarik perhatian dan menggugah rasa penasaran.

Malam itu, rabu 1/11/2017 sekitar pukul 18.30 WIB, nampak sebuah antrian panjang para pengunjung di sebuah meja untuk melakukan regristrasi ulang. Waktu terus berjalan, antrian semakin panjang. Pengunjung pun semakin banyak memadati pelataran depan NU-Art Sculpture Bandung, menunggu pintu masuk lokasi pertunjukan dibuka.

Setelah sekitar kurang lebih 45 menit menunggu,  panitia mengumumkan beberapa tata tertib selama pertunjukan berlangsung. Lalu, dilanjutkan dengan pengelompokkan pintu masuk berdasarkan kategori tiket yang dimiliki. Tamu undangan masuk melalui pintu utama dan saya yang memiliki tiket reguler masuk melalui pintu samping sebelah kanan. Oleh karena suasana pada saat itu kurang kondusif dan tidak ada petunjuk arah yang jelas, maka beberapa tamu undangan terlihat masuk lewat pintu samping bersama-sama dengan para penonton reguler. Kendati demikian, hal tersebut tidak menyurutkan antusias penonton yang telah lama menunggu dan tak sabar ingin segera melihat pertunjukan.

Di bawah sinar rembulan yang begitu indah, terdengar lantunan kawih[1] buhun[2] dipirig[3] gitar dan suling, menjadi musik latar penonton menuju area pertunjukan. Panggung arena berbentuk lingkaran nampak elok dengan sentuhan artistik instalasi bambu. Hamparan pasir berwarna merah bata dan beberapa tombak dengan ujungnya yang berupa kujang tertata disisi kanan dan kiri menggambarkan latar tempat Citraresmi beristirahat di tanah Bubat. Gemerciknya suara air disertai suara cihcir dan jangkrik semakin kentara ketika suasana mulai hening dan lampu kian redup.

Aroma dupa tercium begitu menusuk dan lighting secara perlahan menerangi arena. Pertunjukan pun dimulai. Sebagaimana lazimnya, sebuah pertunjukan di Sunda kerap diawali dengan rajah[4]. Namun, pada pertunjukan kali ada hal yang berbeda. Lantunan rajah yang dikawihkan oleh Nini Dayang (Ida Rosida Koswara) terdengar tidak seperti rajah pada umumnya.

Syair rajah tidak ada yang berubah, namun secara melodi lagu jelas berbeda dan citarasa diatonis lebih terasa. Bagi saya pribadi, lantunan rajah terasa kurang sakral dalam pertunjukan ini, mungkin karena citarasa diatonis yang lebih kental. Sang penata musik (Iman Ulle) nampaknya ingin memberikan inovasi baru dengan mengubahan rajah menjadi lebih kekinian.

Para penonton begitu khusyu menikmati jalannya sajian. Beberapa lantunan lagu yang dikawihkan oleh Nini Dayang cukup menghidupkan pertunjukan. Terlebih sosok Nini Dayang tersebut diperankan oleh Ida Rosida Koswara. Seorang maestro kawih Sunda, yang dalam pertunjukan tersebut semakin memancarkan aura kemaestroannya.

Di usianya yang tak lagi muda, Ida Rosida Koswara tetap terlihat prima dan total memerankan Nini Dayang. Begitupun Miming Suwandi yang memerankan Dewi Laralinsing nampak ayu dan luwes mendalami perannya. Disamping itu, Maudy Koesnaedi pun sebagai tokoh utama, yaitu Citraresmi berhasil memainkan perannya.

Puteri Sunda Citraresmi Dyah Pitaloka yang begitu kharismatik, lungguh[5], kewes[6], pantes[7], teuneung[8] dan ludeung[9] cukup mengisyaratkan sosok perempuan Sunda. Terlebih sikap dan keputusan serta perjuangan dalam menegaskan harga diri, baik bagi dirinya sendiri, keluarga, negeri serta rakyat Sunda itulah yang senantiasa menggetarkan sukma, meski telah melewati abad demi abad.

Kawih dan tarian ronggeng gunung yang begitu harmoni semakin membuai para penonton, terus masuk dan merasuk. Hingga tibalah babak akhir, dimana apa yang dikhawatirkan oleh Citraresmi itu benar-benar terjadi. Dibohogi, dikhianati, dan merasa diinjak-injak harga dirinya, menjadi tekad yang semakin kuat untuk menentukan sikap.

Sayatan musik tarawangsa yang mengiringi semakin memperkuat ruh pertunjukan. Emosional para penonton mencapai titik puncak aura pertunjukan. Makin terasa, makin larut dan membentuk imajinasi-imajinasi baru di pikiran penonton. Imajinasi yang tak kalah dramatis dengan pertunjukannya. Tak sedikit para penonton yang terisak larut dalam pergulatan perasaan puteri Sunda yang menyedihkan.

“Aku, Citraresmi masih berdiri tegak memegang bakti. Aku tak akan lari juga tak akan berserah diri. Tak akan kuberikan diri sebagai upeti. Akan tetap tegak kehormatan dan harga diri. Aku, Citraresmi perempuan yang mereka cari, perempuan yang akan menentukan takdirnya sendiri.” Kemudian menghunuskan patrem[10] dengan kedua tangan ke tubuhnya seraya diikuti oleh seluruh perempuan dalam rombongan Kerajaan Sunda.

Begitulah akhir dari pergelaran teater tari Citraresmi, suasana pun pecah dengan riuh gemuruh sorak sorai tepuk tangan para penonton.

 

Catatan:

[1] Kawih merupakan nyanyian khas Sunda yang terikat oleh tempo, dengan syair atau lirik berpola pupuh ataupun sajak bebas.

[2] Buhun merupakan istilah untuk menunjukkan sesuatu yang sudah sangat lampau.

[3] Dipirig artinya diiringi

[4] Rajah merupakan lagu pembuka sebagai kata pengantar untuk memohon izin, maaf, dan penghormatan kepada para leluhur agar selamat selama pertunjukan berlangsung.

[5] Lungguh artinya kalem

[6] Kewes artinya cantik dan istimewa

[7] Pantes artinya pantas atau layak

[8] Teuneung artinya berani/ mandiri

[9] Leudeung artinya berani/ tidak takut

[10] Patrem adalah senjata kecil yang juga bisa digunakan sebagai tusuk konde.

Iklan

One Comment Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s