Semangat Pembebasan, Dari Mang Koko Untuk Musisi Muda

Dikdik “venol” Pebriansah

Mang koko 1Sebuah media cetak berbahasa Belanda yang diterbitkan oleh De Vrije Pers di Surabaya pada tanggal 10 Desember 1954 pernah memuat sebuah artikel  tentang Koko Koswara (Mang Koko) ketika lagu-lagu beliau direkam oleh sebuah perusahaan musik Indonesia yang bernama Irama Record.

Beberapa lagu Mang Koko yang  akan dirilis dalam piringan hitam oleh  Irama Record, diantaranya yaitu; ondangan 1 dan 2, bus kota, ronda malam,  ngadu hayam, kulu-kulu kombinasi, urang kampung, koperasi, dan maen bal.

Selain menginformasikan bahwa Mang Koko dan grupnya Kanca Indihiang akan segera merilis sebuah piringan hitam, artikel berbahasa Belanda tersebut juga menceritakan sedikit  kisah hidup Mang Koko sejak bersekolah di MULO dan juga ketika bekerja di dinas penerangan Jawa Barat.

Namun, yang menarik dalam artikel tersebut  adalah informasi ketika beliau diwawancarai oleh sebuah majalah yang bernama “Penghibur”. Mang Koko mengatakan bahwa seni di Indonesia tidak dapat stabil dan mapan jika tingkat seni di daerah tidak meningkat. Ini bukan berarti Mang Koko memiliki sifat kedaerahan berlebihan (provinsialisme),  tapi hanya memberi bentuk seni agar hidup.

Sebuah bentuk seni tidak bisa dibatasi dengan batas-batas tertentu apalagi sampai tidak diperbolehkan untuk dikembangkan. Dalam pandangannya tersebut  Mang Koko menyoroti persoalan kesenian yang hidup di daerah-daerah. Jika sebuah kesenian di salah satu daerah ingin ikut serta dan berperan dalam kekokohan seni di Indonesia maka kesenian di daerah, harus memiliki sebuah upaya untuk meningkatkan mutunya, baik dalam hal praktik maupun keilmuan.

Ketika kita fokus dan serius menggali mutu serta kualitas kesenian daerah, bukan berarti kita tidak memiliki sifat nasionalisme. Bukan berarti kita hanya mementingkan kemajuan daerah saja. Namun, hal demikian  dilakukan agar kita sunguh-sungguh menggali, memikirkan dan memberikan ruang bernafas agar kesenian di daerah dapat hidup serta meningkat kualitasnya secara praktik dan juga keilmuan.

Selain pentingnya kefokusan dalam meningkatkan kualitas kesenian di daerah, pandangan Mang Koko mengenai seni yang tidak terbatas, apakah dapat kita artikan sebagai kebebasan  berkarya?

MAng koko 2
Potongan koran De Vrije Pers 1954

Kebebasan apa yang coba ditawarkan oleh Mang Koko?

Apakah Kebebasan adalah  suatu kondisi dimana orang dihalalkan berbuat sekehendak hati? Pertanyaan tersebut biasanya muncul ketika kita mendengar istilah kebebasan. Sudah banyak tokoh yang membahas tentang kebebasan tersebut. Tetapi kali ini saya mencoba mengambil kebebasan menurut pandangan Thomas Hobbes dan John Locke, mereka menawarkan suatu kontrak sosial untuk menjaga kebebasan manusia.

Menurut Hobbes, masyarakat alamiah diandaikan penuh dengan chaos. Semua  diandaikan berperang melawan semua. Kontrak sosial diadakan agar perang semua melawan semua itu reda. Sementara menurut John Locke masyarakat azali diandaikan berada pada kondisi damai dan aman. Kontrak sosial diadakan agar kondisi aman dan damai itu tetap terpelihara. Kontrak sosial dibuat untuk kebebasan manusia.  Pada titik inilah kebebasan didefinisikan. Kebebasan adalah suatu kondisi di mana orang bebas dari tindakan semena-mena orang lain. Jadi jika ada peristiwa di mana ada orang yang melakukan tindakan semena-mena kepada orang lain, maka itu bukanlah peristiwa dan kondisi kebebasan, melainkan ketidakbebasan, mungkin juga perbudakan.

 

Lantas apa keterkaitan antara Thomas Hobes, John Locke, dengan Mang Koko? Ya kedua filsuf tersebut menawarkan kebebasan sebagai kondisi dimana orang terbebas dari kesewenang-wenangan orang lain, dan Mang Koko menawarkan kebebasan dalam berkarya tanpa ada sesuatu yang menghalanginya. Halangan pada kebebasan berekspresi dalam seni, bila kita lihat kondisinya saat ini dapat dikategorikan sebagai kesewengan-wenangan juga.

Jika kita mengamati perjalanan berkesenian Mang Koko bahwa puncak kebebasan berkaryanya ketika melahlahirkan gending karesmen “Si Kabayan” pada tahun 1954. Karya ini merupakan sebuah drama suara yang gaya musikalnya dikemas secara apik dalam iringan  gamelan inovatif yang mengaransir tabuhan-tabuhan tradisi menjadi sebuah garapan musik yang mendobrak kebiasan-kebiasan lama dalam bermain gamelan.

Mang koko 3
Potongan wawancara dengan Mang Koko

Karya dobrakan Mang Koko tersebutlah yang kemudian oleh masyarakat disebut dengan istilah wanda anyar. Perjalanan menuju wanda anyar ini awalnya tidak begitu indah seperti jalan ke Cianjur yang dihiasi pohon bungur. Kondisi  Masyarakat pun pernah bergejolak ketika Mang Koko menggarap lagu “pohon beringin pengayoman” karya Saharjo SH dengan gubahan vokal dan iringan musik kecapi dan gamelan kreasi. Banyak masyarakat yang tidak menerima dan ramai memberikan komentar bahwa garapan Mang Koko ini seperti garap gamelan Bali, garap gamelan Jawa bahkan ada yang berkomentar bahwa wanda anyar tersebut mirip The Beatles.

Pada saat itu ada juga beberapa seniman yang mengecam sebagai perusak tradisi. Meski sisi konflik mulai bergejolak di masyarakat Mang Koko tetap tegar menerimanya bahkan dari banyaknya komentar-komentar tersebut beliau semakin gigih dan bersemangat menggarap wanda anyar dan dikembangkan di sekolah Kokar Bandung.

 

Kekuatan wanda anyar pun tak lepas dari peran grup keseniannya yang sering menggarap aransemen iringan gamelan maupun kecapi menjadi lebih inovatif yaitu grup Kanca Indihiang, Gamelan Munding Laya dan Kliningan Ganda Mekar. Dari kekuatan Mang Koko mengemas wanda anyar inilah yang menjadikan beliau sebagai sentral figur dalam perkembangan karawitan Sunda di abad dua puluh. Jadi, meski banyak intervensi juga pro-kontra dimasyarakat, Mang Koko membuktikan bahwa berkarya itu harus terus menyala, meski banyak gesekan-gesekan dari luar yang tidak sependapat dengan ide-ide kreatif inovatif yang dimiliki oleh seniman.

Wanda Anyar adalah salah satu bukti dari Kebebasan berkarya ala Mang Koko yang berani mendobrak kebiasaan-kebiasaan lama tentang bermain gamelan serta ngawih Sunda pada zaman itu. Mungkin dewasa ini lagu-lagu dan beberapa karya Mang Koko tidak semeledak tahun 70-an hingga 90-an, tapi wanda anyar yang beliau gagaskan tidak mati hingga saat ini. Kini hasil pemikiran Mang Koko tersebut menjadi landasan beberapa seniman karawitan Sunda generasi masa kini dalam menggarap sebuah karya inovatif yang berangkat dari kesenian-kesenian tradisi.

Jadi apakah sekarang seniman kita sudah mendapatkan kebebasannya dalam berkarya? Jika mahasiswa seni yang akan membuat karya dengan idenya yang spektakuler,  selalu dibayangi ketakutan akademik yang menghantui karena menyalahi asumsi-asumsi personal yang mungkin terlalu subjektif.

Atau, ketika seniman ingin berkarya tetapi dilarang oleh penguasa hingga diberikan ancaman penjara oleh pemerintah, karena karyanya dianggap menganggu kekorupan rezimnya? Atau, ketika seniman memiliki ketakutan kalau-kalau karyanya tidak diminati oleh weeding organizer yang laris tiap sabtu, minggu? Atau ketika ingin berkarya takut diputusin pacar?

Orang lain boleh tidak sependapat dengan ide kita, tapi orang lain tidak boleh melarang kita untuk membuat sebuah karya sesuai dengan ide yang kita punya. Jika mereka bersikeras melarangnya ini adalah bentuk kesewenang-wenangan yang harus dihapuskan karena termasuk dalam perbudakan karya dan pemikiran. Jadi, ketika banyak orang yang bersikap  sewenang-wenang dan merampas kebebasan berfikir kita, serta merebut hak kita untuk maju dalam karya, maka lakukanlah seperti apa yang dikatakan Widji Thukul dalam puisi peringatan: LAWAN!!!

Semoga semangat Mang Koko selalu terpercik dalam kehidupan karya para seniman, khususnya seniman karawitan Sunda.

mang koko kaset
Sumber:http://madrotter-treasure-hunt.blogspot.co.id/2014/

Rujukan:

Benyamin, Tatang dkk. MANG KOKO Pembaharu Karawitan Sunda, Bandung: Yayasan Cangkurileung Pusat, 1992

Hermawan, Deni. ETNOMUSIKOLOGI beberapa permasalahan dalam musik Sunda, Bandung: STSI Press, 2002

Ruswandi, Tardi. KOKO KOSWARA PENCIPTA KARAWITAN SUNDA YANG MONUMENTAL, Bandung: STSI Press

Saidiman.com/2012/01/04/apa-itu-kebebasan/amp/

De vrije pers: ochtendbulletin, Surabaya: De vrije pers, 10/12/1954

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s