Seni Reak: Hak dan Kuasa Rakyat Menjadi Dirinya Sendiri

 

Pagi itu langit di daerah Cinunuk nampak menghitam, cahaya matahari tidak banyak yang menyelinap diantara aktivitas masyarakat. Hari minggu ini  sedikit berbeda dengan biasanya. Seputar  jalanan kecil Cinunuk, Ciguruwik dan sekitarnya  diramaikan oleh orang-orang dari berbagai usia, dimulai anak kecil yang masih lucu-lucu berlarian bersama rekannya, ada juga sekumpulan remaja bergerombol di sudut jalan sembari menunggangi sepeda motor yang telah dihias sedemikian rupa. Ada juga sekumpulan ibu-ibu yang terlihat ceria menggendong balita sambil memegang sebuah payung untuk mengantisipasi jika turun hujan.

Lantas ada apakah sekumpulan masyarakat bergerombol dan berdiam diri di jalan sana? apa akan ada presiden lewat? atau ada pawai kampanye calon kepala daerah yang hendak mengobral janji? Atau sedang antri gas 3kg? ternyata bukan juga. Ada apa ini sebenarnya? Mereka rela menunggu berlama-lama dipinggir jalan itu?

Tiba-tiba segerombolan masyarakat yang sejak tadi menunggu sekian lama bersorak-sorai penuh gembira. Terdengar dari jarak yang tidak begitu jauh ada sebuah alunan musik yang muncul dari pengeras suara menggetarkan hiruk pikuk masa yang sejak tadi berdesakan di pinggiran jalan. Tak lama kemudian munculah iringan sebuah kesenian yang terlihat asyik menikmati jalannya sajian pertunjukan. Mereka adalah kelompok kesenian reak. Oh ternyata masyarakat yang dari tadi berdesakan antri seperti berada di woodstock festival adalah penikmat seni reak. Hebat sekali, masyarakat rela menunggu sekian lama agar pertunjukan reak tak terlewatkan. Reak sedang helaran mengelilingi kampung Cinunuk.

reak 1
Masyarakat menanti arak-arakan kesenian Reak (Doc:Dikdik)

Reak merupakan kesenian yang  berasal dari daerah Cirebon, kemudian menyebar  ke daerah Sumedang tepatnya di daerah Rancakalong. Oleh para pedagang Rancakalong kesenian ini disebarkan ke daerah Bandung timur meliputi Cicalengka, Rancaekek, Cileunyi, Cinunuk, hingga Ujungberung.

Menurut salah satu tokoh reak di Cinunuk yaitu Undang Suparman, reak berasal dari kata “ngareah-reah“ atau “ngaramekeun” yang memiliki arti memeriahkan, meramaikan. Sama halnya menurut tokoh reak dari  kota Bandung yaitu Abah Enjum, bahwa seni reak adalah kesenian yang menghasilkan bentuk yang ramai karena adanya perpaduan dari berbagai jenis kesenian. Salah satu yang menjadi keramaian dalam pertunjukannya adalah sorak-sorai dari pemain maupun penonton. Itulah mengapa kesenian ini bernama seni reak karena diambil dari kata sorak-sorai yang dalam bahasa Sunda adalah susurakan atau areak-eakan.

Masyarakat terlihat begitu gembira menyaksikan pertunjukan reak. Berbagai macam ekspresi dikeluarkan oleh mereka yang menikmati sajian tersebut. Ada yang ikut menari-nari hingga tidak sadarkan diri, ada yang berteriak-teriak hingga suaranya serak, ada juga yang ingin menari namun sedikit malu-malu maka dia hanya menggerak-gerakan kepala dan ujung kakinya saja. Begitu hebatkah sebuah kesenian hingga mampu membuat masyarakat larut dalam alunan musik dalam pertunjukan reak, apa mungkin mereka sejenak ingin melupakan dan melepas segala kepenatan dalam dirinya?

reak 2
Barong yang digunakan dalam kesenian reak (doc:Dikdik)

Menurut sejarah kesenian reak yang berkembang di Cinunuk. Awalnya kesenian ini digunakan para petani dalam rangka syukuran hasil panen padi. Aktivitas ini merupakan tradisi masyarakat tani di Cinunuk zaman dulu, maka tidak heran jika aktivitas ini dilakukan turun temurun karena menurut para petani jika segala sesuatu hasil panen yang diberikan oleh Tuhan  disyukuri, kelak panen selanjutnya akan penuh berkah dan akan semakin melimpah. Namun kini ekspresi kesenangan masyarakat tani tersebut mulai bergeser ketika sawah perlahan musnah.

Di kemudian hari ketika para petani gantung cangkul, mereka mengalami sedikit  kebingungan ketika kesenian syukuran ini tidak lagi digunakan karena sawah perlahan dieksekusi menjadi rumah-rumah dan gedung-gedung megah. Tapi kreatifitas masyarakat tidak berhenti sampai sawah ditanam semen basah. Kesenian yang semulanya digunakan sebagai ungkapan rasa syukur karena panen yang melimpah kini menjadi ungkapan rasa syukur apabila ada salah seorang masyarakat yang mengkhitan anak lelakinya. Esensi kesenian reak tetaplah sama, yaitu menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat ketika mendapatkan sebuah berkah atau hajat yang terlaksana dengan lancar.

Hebatnya, kesenian ini selalu menadapat apresiasi yang tinggi di daerah Cinunuk dan sekitarnya, penonton dari semua usia, semua lapisan masyarakat ikut berbaur bersama-sama menikmati kesenian yang selalu melibatkan penari bangbarongan dan juga penari kukudaan dengan gaya kesurupannya.

reak 3
Masyarakat berdesakan menikmati helaran reak (do:Dikdik)

Seperti yang dikatakan Allan P Meriam bahwa musik dapat berfungsi sebagai pengungkapan emosional. Reak merupakan ungakapan emosional mendalam masyarakat tani ketika mendapat berkah berupa panen. Dari fenomena tersebut  saya pernah  berandai-andai, bagaimana jika dulu reak yang merupakan seni rakyat ini dikemas oleh kalangan bangsawan sehingga menjadi ungakapan rasa syukur kaum ningrat dan  kesenian ini hanya dapat disaksikan serta dinikmati oleh kalangan aristokrat saja?

Apakah kesenian reak yang ditabuh dengan cara berjalan sambil berdiri ini akan berubah menjadi duduk dilantai dalam suasana raut muka tunduk kebawah tidak berani melihat penonton yang notabene para bangsawan pemilik otoritas atas rakyat jelata pada saat itu?

Apakah kekuasaan berhak merampas ungkapan emosional manusia?  Jika telah diambil alih kekuasaan, apakah masih ada rakyat jelata yang berbondong-bondong ingin menari, berjingkrak-jingkrak meluapkan sejenak beban hidupnya dengan melebur bersama kesenian reak?

Rakyat memiliki hak dan kuasa untuk berkesenian sesuai emosionalnya sendiri, menjadi dirinya sendiri. Tuhan tidak pernah memilih golongan tertentu untuk diberi cita rasa seni. Setiap manusia sama-sama memiliki cita rasa seninya masing-masing. Rakyat berhak berkarya sesuai dengan estetikanya sendiri, tanpa intimidasi dan doktrin kemunafikan yang dipupukkan oleh segelintir kaum penguasa. Segelintir penguasa masalalu yang seringkali masih terus ingin dipuja-puja dari zaman ke zaman. (dikdik)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s