Mencatat Sebuah Catatan Seorang Demonstran : Soe Hok Gie

Review Soe Hok Gie “Catatan Seorang Demonstran”

oleh Dy Murwaningrum

Soe Hok Gie, nama yang jarang diketahui oleh generasi milenial. Terang saja, jika bukan seorang MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam ) atau mahasiswa jurusan sejarah, mungkin jarang kenal. Namanya yang tiga suku kata saya kenal pertama kali sewaktu Riri Reza melalui Mirles Production memproduksi sebuah film berjudul “Gie”. Nicholas Saputra berhasil memerankan “Gie”, dan menjadikan film itu popular di awal 2000an

Menurut penuturan Mira Lesmana dalam kata pengantar buku ini, adalah sebuah buku yang sangat direkomendasikan untuk orang muda Indonesia. Orang muda Indonesia yang harus berani, jujur dan peka pada kemanusiaan. Buku ini pernah dirilis tahun 1983 dan pernah menjadi buku yang amat sulit dicari setelahnya.

LP3ES menjadi perantara terbitnya kembali buku yang tebalnya lebih dari 400 halaman. Berisi pikiran-pikiran kritis dan cerdas anak muda yang lahir dan hidup ditengah-tengah amukan perang di Pasifik dan era ketika pemerintah menyanyikan lagu tidur bagi kecerdasan yang kritis pemuda-pemudinya.

Membaca buku ini, sama panasnya disulut kesadaran untuk melihat kembali masa lalu dan juga masa kini. Cara pandang Gie terlalu maju bagi anak-anak seusianya. Gie sudah membaca karya-karya sastra dunia ketika anak-anak SMP di jaman ini masih memikirkan cinta monyetnya.

Makin dewasa, Gie makin geram dengan kesenjangan sosial, ketidakadilan dan cara pemerintah memperlakukan warganya. Saat itu, tepatnya Indonesia dipimpin oleh Soekarno. Presiden pertama dan pendiri Negara ini.

Tak ada yang menyangka bahwa Gie akan terus hidup panjang. Mati muda dan terus muda. Tulisan-tulisannya yang panas terus membara, terus muda dan menyulut jiwa idealis pemuda di berbagai jaman.

Keadilannya dalam berpikir membantu nuraninya untuk menggerakkan tubuhnya, lebih berani dari manusia lainnya. Tak kalah seru juga nasib cinta Gie yang selalu terhenti. Gie yang selalu kesepian dan gelisah dalam rumahnya yang nampaknya memang sepi.

Gie membuka diarinya dengan menceritakan dirinya dan riwayat nilai-nilai ulangan kenaikan kelasnya ketika SD dan SMP. Catatan layaknya seorang anak kecil. Gie bukanlah anak yang tak punya urusan lain selain belajar, dia mengurusi berbagai hal.

Dari catatannya, Gie adalah anak yang tidak mudah puas dan suka memberontak. Tak jarang Gie juga menuliskan kemarahannya dan sikap-sikap tak adil teman atau gurunya. Bukan satu dua kali dia berseteru dengan guru dan dilanjutkan pada tahap saling dendam. Posisinya yang kanak, tak membuatnya takut menghadapi guru atau seniornya. Keneraniannya berlanjut hingga sekolah menengah atas dan perguruan tinggi.

Yang berbeda dari Gie dan pemuda lainnya adalah, sifatnya yang begitu peduli pada sesama. Dalam catatan hariannya, dia selalu menulis tentang rasa tidak terimanya melihat penindasan. Gie adalah sosok pemuda dermawan, yang rela memberi, bahkan hal-hal yang masih dia butuhkan.

Jika pemuda lain hanya melihat satu fenomena dan terlewat begitu saja, namun Gie benar-enar berpikir dan menuntaskan solusi yang terpikirkan meski beresiko bagi dirinya sendiri.

Nonton film dan naik gunung, adalah simbol dari kebebasan yang dia usung. Gie menghidupkan kegiatan kampus dengan diskusi film dan MAPALA, sebuah UKM di kampus. Alam menjadi pelarian kejengkelan pada hiruk pikuk manusia politik di Ibukota, pusatnya pemerintahan. Mandalawangi adalah salah satu gunung yang akrab dengannya. Dan menjadi tempat terakhir kebersamaannya dengan teman-teman MAPALAnya.

Tahun 59, saat Soekarno berkuasa Gie melihat orang yang makan buah mangga di sampah. Dia bukan pengemis, juga bukan orang gila. Dia hanya lapar, saking tingginya harga. Gie yang berjanji akan selalu konsisten membela orang-orang yang diperlakukan tak adil dan bukti integritasnya dibawanya hingga tiada.

Gie juga sering membahas tokoh-tokoh besar dunia dalam catatan-catatannya, seperti Tonnybee, Marx, dan serentetan nama-nama filsuf Eropa. Pengetahuannya memang sudah tak seimbang dengan teman kelasnya waktuda. Gie yang selalu menyulut pemikiran dan nurani untuk terus memiliki empati pada sekeliling.

Buku ini sangat layak dibaca, buku catatan harian wajib baca. Keberanian dan kejujuran yang akhir-akhir ini sering leleh karena materi yang terus dikejar hingga alam bawah sadar, mungkin sedikit bisa dibangunkan. Logika dan daya renung yang seringkali kalah oleh dogma lain yang melenyapkan kritis, agaknya juga perlu diberi ruang.

Buku ini sedikit memberi semangat untuk menciptakan ruang keberanian dalam diri kita, dan menaruh ketakutan sedikit jauh di belakang. Tentunya nurani dan idealism Gie turut muncul dalam pribadi kita, setelah membaca buku ini. Selamat mengumpulkan keberanian untuk membacanya. //DM// gambar diunduh dari sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s