Aksi Agen Rahasia Indonesia Pada Masa Revolusi Kemerdekaan (Maut dan Cinta Karya Mochtar Lubis)


Oleh : Takhsinul Khuluq

Cerita-cerita tentang perjuangan semasa Revolusi Kemerdekaan banyak dikisahkan melalui karya fiksi baik dalam bentuk novel maupun film. Novel “Maut dan Cinta”, karya Mochtar Lubis adalah salah satunya. Novel ini menampilkan aksi heroik seorang agen rahasia Indonesia. Kerja-kerja perjuangan yang penuh intrik dan bahaya dilalui dengan risiko nyawa dan kehilangan orang-orang tercinta.

Di balik aksi perlawanan konfrontatif terhadap Belanda selama perang Revolusi Kemerdekaan, sejatinya terdapat tangan-tangan tidak terlihat yang turut menyokong perjuangan tersebut. Pejuang “belakang layar’’ inilah para mata-mata atau agen rahasia yang menyaru sebagai apa saja. Dalam suatu kisah yang dianggap sahih, Presiden Soekarno bahkan pernah mempercayakan sejumlah pekerja seks untuk tugas ini. Sekspionase ini dianggap jitu untuk membantu perjuangan pada masa itu.

Kisah spionase ini pun diangkat oleh Mochtar Lubis dalam novelnya “Maut dan Cinta”. Novel ini ia tulis tatkala ia dipenjara pada awal 1960-an oleh rezim Presiden Soekarno. Penulisan novel ini sempat terhenti ketika ia dibebaskan pada tahun 1966, atau pasca Orde Lama tumbang. Setelah tertunda cukup lama, ia baru dapat menuntaskannya pada Musim Gugur 1973 ketika ia  berkesempatan ikut residensi seniman di Aspen, Amerika Serikat. Pada tahun 1977, novel ini diterbitkan oleh Pustaka Jaya dan mendapat sambutan baik dari kritikus sastra Indonesia kala itu. Kini pada 2018, setelah 41 tahun sejak penerbitan pertama, novel ini diterbitkan ulang oleh Penerbit Obor.

Novel “Maut dan Cinta” bersetting sekitar tahun 1946-1947 ketika perang Revolusi Kemerdekaan berkobar di negeri ini. Berkisah tentang Mayor Sadeli yang ditugaskan atasannya, Kolonel Suroso, untuk menjadi agen rahasia di Singapura. Di negeri yang dikuasai Inggris waktu itu, Mayor Sadeli diberi misi mengungkap keberadaan mata-mata sebelumnya, Umar Yunus, yang diduga berkhianat karena tak ada kabar sekian lama setelah ia membawa hasil bumi untuk ditukar senjata bagi kepentingan perjuangan.

Di Singapura, Mayor Sadeli juga diberi tugas membeli sejumlah perangkat radio dan senjata, serta mencari penerbang yang cakap untuk membantu perjuangan Indonesia. Untuk melakukan tugas-tugas ini, ia dibantu seorang wartawan Indonesia yang berdomisili di sana, Ali Nurdin.

Meski cukup berhati-hati, gerak-geriknya sebagai intel tercium oleh Inspektur Hawkins, pemimpin keamanan Singapura yang berkebangsaan Inggris. Hawkins tahu jatidiri dan kepentingan Sadeli. Namun demikian, ia memberi kebebasan Sadeli melakukan tugasnya asalkan tidak membuat kekacauan di Singapura. Hubungan keduanya semakin akrab. Hawkins kemudian merekomendasikan penerbang Amerika Serikat, David Wayne untuk membantu perjuangan Indonesia. Untuk melacak keberadaan David Wayne, Sadeli mesti berpetualang ke Indo Cina, Hongkong, dan Makau. Di Makau, Sadeli bertemu dengan Maria, seorang pelukis, yang kemudian dinikahinya.

Sebagai sebuah novel epik-thriller, novel ini menyuguhkan aksi dan intrik menegangkan. Dalam sebuah transaksi senjata, Sadeli mesti berhadapan dengan penjual yang licik dan culas yang ingin menipunya. Namun berkat peringatan Hawkins dan kesigapannya, ia berhasil lolos dari jerat tipu dan ancaman penjual tersebut. Ujian berlanjut ketika Sadeli dkk. mengirim perlengkapan radio dan senjata menuju Sumatra. Speedboat yang ditumpanginya terlacak radar kapal Belanda dan dikejar hingga ke rawa-rawa bakau terpencil. Pertarungan pun tak terelakkan.

Berkat taktik yang jitu, Sadeli dkk berhasil memukul mundur kapal Belanda, walaupun Yahya, salah satu anggotanya, gugur dalam pertempuran ini. Adegan-adegan dalam pertempuran ini sangat detail dan filmis. Saya kemudian membayangkan bila novel ini difilmkan, pasti menarik. Secara genre film Indonesia yang bertemakan spionase ala James Bond atau Jason Bourne pun hampir tidak ada. Dalam benak saya langsung muncul sutradara yang layak mengarahkannya dan siapa kira-kira yang pantas memerankan Mayor Sadeli. J

Novel ini juga mengajak pembaca merasakan bahwa pada masa-masa itu, semangat rela berkorban demi bangsa dan negara amat tingginya. Kemerdekaan adalah capaian agung, untuk itu harus dipertahankan walaupun taruhannya nyawa. Setiap orang Indonesia kompak bersatu melawan Belanda yang dianggap musuh bersama.

Semangat ini pun menjalar ke semua tokoh Indonesia dalam novel ini, tak terkecuali Umar Junus yang sempat berkhianat. Ia menjadi patriot sejati dan rela menanggalkan semua kekayaan yang diraihnya secara ilegal untuk kemudian ikut berjuang. Dan yang tak kalah pentingnya adalah peran dari penerbang-penerbang asing seperti David Wayne (AS) dan Pierre de Koonig (Perancis) yang rela membantu perjuangan Indonesia. Mereka adalah orang-orang idealis yang tak hanya bekerja berdasarkan jumlah bayaran semata, tapi memerhatikan gagasan dan tujuan perjuangan Indonesia yang menurut mereka serupa dengan pemikiran filosofis mereka, yakni demi menjunjung martabat kemanusiaan.

Akhirnya, sebagai novel sejarah, novel “Maut dan Cinta” memang tak berpretensi menghadirkan sejarah secara otentik, namun lain dari itu, ia berhasil menghadirkan sejarah secara memukau lewat tokoh-tokoh, pemikiran-pemikiran, dan alur cerita yang amat menarik.

Dan tentu, mengapresiasi novel tak hanya bisa lewat membaca sinopsis atau resensi geje ini. Bacalah secara utuh novelnya. Ikuti irama dan alurnya. Niscaya kenikmatan akan Anda dapatkan. Percayalah! J

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s