Pengelolaan Bunyi di Ruang Pertunjukan

Oleh Dy Murwaningrum

Tulisan ini merupakan tulisan lawas saya yang pernah dimuat pada media online Qureta.com (di sini). Kendati pun begitu, nampaknya tulisan ini belum secara luas terbaca oleh kalangan yang terhubung langsung dengan dunia panggung. Berikut adalah kutipan artikel tersebut :

‘Gaung. Feedback beradu dengan alunan musik. Dan kopi masih hangat di sebuah kafe suatu sore.

Siapa yang tak ingin berada di kafe, melepas penat dengan alunan musik setelah lima hari kerja? Malam minggu seperti biasanya. Kafe-kafe dipenuhi pengunjung.

Sebuah kafé menampilkan penyanyi yang kurang power. Lalu, tak berselang lama, volume pada sound mixer mulai dinaikkan agar vokal terdengar lebih jelas ketimbang instrumen yang lain.

Begitu juga pada instrumen lainnya. Tak berselang lama, volumenya pun ditambah untuk mengimbangi volume vokal. Dan segera saja feedback memenuhi kafe. Pengunjung terdiam, namun tidak ambil pusing. Meski ada kafe yang nyatanya bagus dalam urusan sound, tapi tidak banyak.

Ada cerita lain lagi dari lomba musik tradisi tingkat Provinsi, karena seorang teman kebetulan turut dalam lomba. Bunyi melengking tinggi memekakkan telinga, seperti cuitan burung seketika menghentak yang biasanya disebut dengan feedback, berkali-kali terdengar saat lomba berlangsung.

Cerita setipe dari acara musik anak kampus yang tidak memiliki ruang pertunjukan. Seperti biasa, acara musik digelar di GOR kampus, sebuah ruang yang dirancang untuk olahraga bukan musik. Sebagai penonton, kita seolah harus menerima menonton musik dengan segala kondisi.

Musik dan seni pertunjukan lainnya tak ubahnya sebagai kebutuhan bagi masyarakat. Namun, media-media penyampai pesan seni sering kali tidak digarap maksimal.

Industri musik di Indonesia tidak main-main. Dia sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Stambul, keroncong, sudah mulai direkam. Kira-kira tahun 1900-an awal mulai direkamlah musik-musik tradisi Jawa dan Sunda. Dan barulah di era 1930-an mulai direkam lagu-lagu dari luar wilayah pulau Jawa, seperti Tapanuli, misalnya.

Data yang dihimpun Philip Yampolsky melalui disertasinya tentang musik dan media di Hindia Belanda 1903-1942 yang juga dituturkan Deny Syakrie dalam blognya dapat diartikan bahwa teknologi audio sudah disadari sebagai bidang yang selalu digandeng seni dalam pertunjukan-pertunjukannya, sejak dulu.

Microphone, speaker adalah bagian teknologi tata suara yang nyatanya selalu diajak naik panggung dalam pementasan musik/seni, baik seni tradisi maupun non tradisi. Dulu, mungkin hanya musik dan wayang. Namun kini, semua seni pertunjukan sudah menggunakannya. Tata kelola audio sering kali dikesampingkan dari konsep sebuah karya seni, padahal bunyi selalu menjadi unsur pertunjukan.

Tanpa bunyi, pemikiran sering kali tidak berdaya, begitu juga dengan karya musik. Tahun 1945, kiranya apa yang terjadi jika bung Karno membacakan proklamasi tanpa microphone?

Dalam setiap demonstrasi di negeri ini, apakah daya provokatif yang disampaikan oleh orator mampu diterima jika tanpa menggunakan microphone? Apalagi dalam sebuah pertunjukan musik, penonton selalu memiliki harapan yang tinggi untuk menikmati kemasan nada, menikmati kesatuan bunyi dari band yang dicintainya. Kiranya dapat dibayangkan betapa pentingnya peran teknologi audio dalam dunia seni sekarang ini.

Persoalan teknologi menjadi bagian dari kejanggalan pergeseran seni. Seni, khususnya musik, cukup maju, baik dalam konteks tradisi, populer, maupun yang termasuk kontemporer atau pun eksperimen. Sayangnya teknologi tidak turut digandeng sejajar. Kita masih sangat kekurangan tenaga ahli tata kelola audio, karena sedikitnya jumlah lembaga pendidikan audio di Indonesia.

Mencari jejak-jejak sekolah audio di Indonesia sangat sulit. Paling-paling hanya beberapa kursus singkat, dan sekolah audio di Jakarta, Bandung, dan kota besar saja. Ketidakseimbangan jumlah ahli bidang audio dengan banyaknya pertunjukan di Indonesia menjadikan pertunjukan-pertunjukan tingkat RT sampai tingkat nasional terasa kurang maksimal.

Telinga manusia memang mudah beradaptasi dengan berbagai frekuensi. Tapi, jika suara yang dihadirkan dalam pertunjukan terlalu banyak feedback, humming atau pun noise, maka penyampaian pesan seni pun akan terganggu.

Pesan yang tersampai baik seharusnya menjadi hal yang penting pula. Sebaiknya seni dan tata kelola audio berjalan beriringan agar tidak terjadi penurunan kualitas pertunjukan. Saya mendambakan suatu hari nanti dapat menikmati live music di kafe secara utuh, musik dan audio berjalan selaras.’ 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s