Seniman Sunda dan Perdamaian di Semenanjung Korea: Endang Sukandar (bagian dua-habis)

oleh Dikdik “venol” Pebriansyah

Sebelum membaca tulisan ini, ada baiknya kita lihat kembali tulisan minggu lalu (silakan buka dari sini), mengenai mitos dan perdamaian di Semenanjung Korea.

Berpijak pada legenda tua Korea, tahun 2012 kota Gyeongju mengadakan festival bertajuk ‘Gyeongju World Traditional Wind Instrument Festival’. Acara tersebut merupakan kegiatan dengan semangat membangun perdamaian antara negara-negara di barat dan timur.

Lebih jauh lagi festival ini merupakan sarana pertukaran budaya barat dan timur yang mempromosikan multikulturalisme dalam skala global. Acara yang disebut juga sebagai Piri Festival ini bertujuan pula untuk mengambil peran dalam membuka jendela budaya baru bagi generasi muda.

Sebelum digelar di kota Gyeongju, festival alat musik tiup yang mengundang seniman dari berbagai penjuru dunia pernah digelar di kota Seoul tahun 1996. Masih membawa ruh dari legenda manpasikjeok, acara festival alat musik tiup ini selalu berkampanye tentang upaya perdamaian dunia.

Salah satu negara Asia Tenggara yang berpartisipasi adalah Indonesia. Suling Sunda tampil dalam sajian instrumental Kacapi Suling Cianjuran. Putra Nusantara yang menyajikan Suling Sunda dengan apik di Seoul tahun 1996 itu bernama Endang Sukandar.

Beliau adalah seniman dari Bandung yang berhasil meraih penghargaan peringkat ke-2 dalam Festival tingkat dunia tersebut. Acara yang di rekomendasikan oleh Simoon Cook (seorang staf pengajar musik di Egham ACS International School dan juga pengajar gamelan di Royal Holloway, Universitas London) disambut baik oleh Endang Sukandar. Meski waktu yang dipersiapkan cukup mendadak yaitu sekitar tiga minggu, tidak menjadi halangan baginya untuk memberikan nuansa kedamaian lewat suling Sunda.

Formasi instrumen yang ikut mendukung pertunjukan Endang Sukandar pun tidak banyak, hanya Kacapi Indung (Dede Suparman) dan Kacapi Rincik (oleh Simon Cook). Penyajian suling Sunda yang digarap oleh Endang Sukandar membuktikan bahwa kesenian Sunda memiliki nilai tinggi yang mampu memikat hati masyarakat dunia.

Lagu khas Cianjuran yang menjadi andalan Endang Sukandar pada saat itu adalah Catrik Dua Wilet. Meski menampilkan juga beberapa lagu dalam genre Kacapi Suling Cianjuran, ia pun diwajibkan menggarap lagu rakyat Korea yang berjudul Arirang.

Dalam dunia seni Kacapi Suling, Degung dan Tembang Sunda Cianjuran, nama Endang Sukandar sudah tidak asing lagi di telinga para penikmat, akademisi, praktisi dan masyarakat luas. Pria kelahiran Bandung 5 Oktober 1961 tersebut telah bergelut dengan instrumen suling Sunda kurang lebih tiga puluh tahun lamanya.

Catrik Dua Wilet, lagu andalan Endang Sukandar

Dalam khasanah Karawitan Sunda lagu-lagu yang telah hadir dalam kurun waktu yang lama atau telah mengalami rentang waktu yang panjang (lagu buhun), sulit dilacak tentang asal muasal pemberian judul lagu tersebut, karena keterbatasan data juga bukti otentik yang bisa dipertanggungjawabkan. Tak ayal pencipta atau pembuat lagu serta arkuh (kerangka) lagu pun tidak diketahui.

Seperti misalnya Catrik, dalam teknik menabuh Gamelan Degung. Catrik merupakan lagu yang dibangun oleh nada goongan singgul (5/la) dan kenongan loloran (2/mi). Dalaam kamus bahasa Sunda karya R.A Danadibrata, Catrik memiliki arti murid dari pandita yang disebut cantrik. Atau jika di pesantren disebut sebagai santri. Dalam pewayangan Catrik adalah pembantu atau asisten dalang untuk menyiapkan wayang di sebuah lakon yang sedang dipertunjukan.

Catrik Dua Wilet merupakan salah satu lagu andalan Endang Sukandar yang menurutnya sederhana secara arkuh namun sulit secara teknis dalam permainan suling. Kenapa menggunakan irama dua wilet pun bukan tanpa sebab, karena dengan irama tersebut menjadikan lagu bertempo lebih pelan.

Jika kita analisis dari rekaman lagu Catrik Endang Sukandar dalam Album upacara pengantin Sunda tahun 2015, tempo yang digunakan yaitu 46 bpm (largo). Dalam tempo yang pelan tersebut teknik permainan suling Endang Sukandar sangat variatif dan kompleks dalam nada juga teknik ornamentasi.

Lagu catrik tersebut diiringi oleh Kacapi Indung, rincik dan kenit dalam laras degung dengan tuning mengikuti jenis suling berukuran 60 Cm atau tugu (1/da) berada sekitaran nada F.

Jika berpatok dalam nada yang ada dalam kacapi berlaras degung maka secara mutlak, suling yang digunakan harus berlaras sama dengan kacapi yang terdiri dari lima nada yaitu tugu (1), loloran (2), panelu (3), galimer (4) dan singgul (5), namun Endang Sukandar menambahkan nada tambahan yaitu bungur (3-) dan sorog (5+) dalam variasi nada relatif yang tidak ada dalam kacapi.

Selain itu yang paling kontras adalah dalam beberapa periode ia mengganti laras yang asalnya degung menjadi madenda 4= panelu. Perubahan laras dalam suling tersebut dengan cara menambahkan satu lubang tambahan dibelakang suling, biasanya suling Untung Cianjuran memiliki enam lubang nada, sementara Endang Sukandar menggunakan suling dangan tujuh lubang nada. Hal tersebut membuat keberagaman serta komposisi suling yang sangat variatif.

Secara ornamentasi dalam setiap frase Endang Sukandar menggunakan Lelol, Puruluk, Gebos, Betrik, Petit, Jengkat, Wiwiw, Keleter 1 dan Keleter 2. Ornamentasi tersebut ia gunakan dengan apik dan rapih sehingga artikulasi nada per nada yang terdengar pun jelas dan lugas.

Dinamika yang dibangun oleh Endang Sukandar dalam Catrik Dua Wilet pun variatif, setiap periode ada yang dibangun dengan nada pelan, sedang dan keras. Ketika bermain dalam nada pelan suling Cianjuran ukuran 60 cm yang digunakan Endang Sukandar berada diantara 325 hz. Maka jika bermain dalam nada sedang yaitu 625 hz dan nada tinggi 975 hz.

Keterampilannya mengolah dan memilih dinamika dalam memposisikan beberapa nada membuat alur naik turun yang mudah dipahami dan mudah ditebak meski dengan sekali mendengarkan. Alur pertama yang dibangun adalah penggunan nada sedang, kemudian klimaks di nada tinggi kemudian berakhir di nada rendah namun alur tersebut membuat karakter suling yang Endang mainkan memiliki dramatik yang jelas.

Melihat kepiawaian Endang Sukandar mengolah lagu sederhana menjadi luar biasa, membuktikan bahwa nilai musikal yang dimiliki oleh suling Sunda mampu berkiprah di dunia internasional, meski posisinya waktu itu berada di bawah India, namun Endang Sukandar benar-benar membuktikan bahwa Seni Sunda memiliki nilai tersendiri yang mampu bersaing secara global. (ilustrasi dari sini)

Referensi

Banoe, Pono. 2003. Kamus Musik. Yogyakarta:Kanisius.

Danadibrata R.A. 2006. Kamus Bahasa Sunda. Bandung:Kiblat.

Upandi, Pandi dan Y. Sumandiyo Hasi. 2011. Gamelan Salendro gending dan kawih kepesindenan lagu-lagu jalan. Bandung: CV. Lubuk Agung.

https://m.antaranews.com/berita/185194/degung-gamelan-sunda-bergema-di-manchester&hl=id-ID

http://www.pirifestival.com/pages/page_100.php

http://world.kbs.co.kr/english/program/program_koreastory_detail.htm?No=953

http://fauzanmrzz.blogspot.com/2013/12/ukuran-frekuensi-tiap-nada.html?m=1

 

Iklan

One Comment Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s