Nh. Dini, Potret Perempuan Feminis Indonesia

1

oleh : Rena Asyari

Di sore yang basah dan diantara langkah-langkah lebar kaki manusia yang berjalan tergesa-gesa, Nh. Dini duduk dengan anggunnya. Ia memakai baju serba putih, rambut tersisir rapi, dandanan yang sederhana, dengan kacamata menempel di matanya. Di dekatnya ada tongkat, seolah Ia tak mau jauh dari itu.

Audiotorium IFI hari itu menjadi saksi perjuangan penulis yang sudah makan asam garam kehidupan. Ia tumbuh seiring tumbuhnya Indonesia. Pada semua yang hadir, eyang Dini membagi kisahnya. Bicaranya lancar, suaranya masih jelas di dengar. Menurutnya, sejak kecil ia gemar menulis prosa berima. Seringkali ia didaulat oleh guru sekolah rakyatnya untuk membaca puisi dan karangan. Ayahnya adalah orang pertama yang yakin dengan potensi yang dimiliki putri kesayangannya. Dukungan ayahnya pun membuat Dini kecil percaya diri.

Kesempatan selalu datang pada mereka yang mencari. Dini kecil termasuk satu dari sedikit sekali anak perempuan yang rajin. Kegemarannya mendengarkan radio berbuah hasil. Kelas 6 SD Ia mengirimkan satu cerita untuk dibacakan di radio. Dengan harap-harap cemas Dini kecil menunggu kabar nasib karyanya. Tak lama, kabar dari radio yang dinantipun tiba. Dini diminta datang untuk membacakan karyanya. Itulah kali pertama karya Dini dihargai dengan angka.

Kemampuannya menulis dengan baik tak lepas dari kegemarannya membaca. Karya sastra klasik dunia habis dilalapnya. Hingga kini, di wisma lansia yang ia tinggali, ranjangnya disulap jadi perpustakaan kecil. Di buatnya lemari buku yang di taruh di atas ranjangnya. Setiap malam, sebelum tidur tangannya akan menjangkau buku apa saja yang ada di atas kepalanya.

Karya-karya Nh. Dini banyak mengambil perempuan sebagai tokoh utama. Penulis perempuan feminis pun disematkan padanya. Dalam acara sore itu, Dini mengaku tak mengerti benar dengan konsep feminisme yang berasal dari barat itu. Dia hanya belajar dari ibunya. Ibu Dini bukanlah seorang yang mempunyai nama besar, tetapi sedari Dini kecil, ibunya menanamkan sikap kemandirian yang harus dimiliki perempuan. Dini kecil tak boleh bergantung pada siapapun, termasuk ayah dan kakak lelakinya. Perempuan tidak boleh lemah, perempuan harus mandiri. Kata-kata yang diucapkan ibunya  berkali-kali itu yang memotivasi Dini untuk terus gelisah ketika melihat ketidakadilan pada perempuan kerap terjadi, seperti mengapa pekerja perempuan diupah lebih rendah daripada laki-laki.

Buku-buku Nh. Dini banyak kita jumpai di perpustakaan sekolah. Pada Sebuah Kapal, Pertemuan Dua Hati, Hati Yang Damai, Namaku Hiroko, adalah sebagian dari banyak karya Nh. Dini yang popular. Kemampuannya menguasai banyak bahasa asing, membuatnya menjadi penterjemah novel-novel luar ke bahasa Indonesia, salah satu yang sudah diterjemahkannya adalah Sampar karya Albert Camus.

Di usianya yang ke 82 tahun, Nh. Dini masih sibuk menjadi penceramah, narasumber, di kegiatan seminar, konferensi tentang buku, sastra baik di dalam dan luar negeri. Wisma Lansia tak pernah sepi, banyak mahasiswa yang datang untuk wawancara ataupun mendapat bimbingan menyelesaikan skripsi, tesis dan disertasinya.

Nh. Dini, semangatnya masih terus menyala-nyala. Ia berpesan kepada generasi muda untuk membiasakan diri membaca. Membaca, selain menambah pengetahuan juga membuat pikiran terus aktif sehingga tidak gampang lupa dan terhindar dari penyakit pikun di kala tua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s