Berkelana Bersama Mata

oleh : Bunga Dessri

Senyum dan Tawa menggambarkan kebahagiaan dan antusias anak-anak dalam launching novel seri anak terbaru Okky Madasari di IFI Bandung, kemarin sore. Anak-anak semakin gembira ketika Malika dan Kokomang menyajikan dongeng yang interaktif. Tak mau kalah, para orang tua pun sangat semangat untuk berbincang dengan Okky pada sesi talkshow.

IMG-20181201-WA0046

Sejak awal debutnya sebagai penulis, karya-karya Okky, yakni “Entrok”, “Maryam”, “86”, “Pasung Jiwa”, “Kerumunan Terakhir”, serta kumpulan cerpen “Yang Bertahan dan Binasa Perlahan”, seluruhnya diperuntukkan bagi kalangan dewasa. Namun pengalamannya sebagai seorang ibu, mendorongnya untuk membuat karya khusus untuk anak-anak.

“Anak saya sangat senang diceritakan dongeng, dan otomatis saya harus mencari buku-buku untuknya. Dalam prosesnya, saya melihat keterbatasan ragam buku anak, padahal usia anak-anak adalah masa emas untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan, kemanusiaan, dan pembentukan karakter”.

Walaupun pada awalnya Okky merasa cukup sulit menulis karya untuk anak-anak, namun akhirnya ia bisa menyesuaikan diri dengan semesta anak-anak yang penuh dengan imajinasi.“Setiap anak selalu percaya tak ada cerita yang tak nyata”, tuturnya. Bermodalkan kepekaannya terhadap dunia anak, serta riset yang ia lakukan di berbagai daerah di Indonesia, ibu satu anak ini mampu mengajak para pembaca untuk berpetualang untuk mengenal kekayaan Indonesia.

Saat ini, sudah terbit dua dari setidaknya empat novel yang akan diterbitkan dalam seri ini. Yang pertama “Mata di Tanah Melus” yang dirilis pada Januari 2018. Karya tersebut menceritakan perjalanan Matara (Mata), gadis kecil berusia dua belas tahun di negeri antah-berantah bernama Melus (NTT). Disusul oleh buku “Mata dan Rahasia Pulau Gapi” dengan latar daerah Ternate. Okky pun memberi bocoran, buku ke tiga adalah cerita “Mata dan Manusia Laut” dengan latar daerah Bajo, dan buku keempat akan menceritakan Mata yang kembali ke tanah Jawa.

Jika dicermati, seperti di karya-karya sebelumnya, peraih penghargaan Sastra Khatulistiwa ini pun tetap menyelipkan kritik sosial dalam karyanya. Misalnya di buku pertama ia mengkritik pola pengajaran agama, dan kritik mengenai sistem pendidikan pada buku kedua. Di akhir acara, Okky menegaskan bahwa orang tua adalah kunci penanaman berbagai nilai terhadap anak-anaknya. Dalam kesempatan ini pun master lulusan Universitas Indonesia ini pun berbagi kunci keberhasilannya sebagai penulis, yakni tetap menjaga konsistensi.

Setelah berlangsung selama kurang lebih dua jam, acara pun ditutup meriah dengan menyanyikan OST berjudul Semesta Mata yang dicipakan komunitas Serat Pena.

 

Semesta Mata (OST) 

Aku melangkah riang

Aku melangkah ringan

Dipayungi matahari pagi

Aku melangkah riang

Aku melangkah ringan

Di payungi awan-awan cerah

Menjelajahi hutan, menyusuri sawah

Mendaki gunung, mengarungi lautan

Yeah… yeah… yeah…

Marilah bermain denganku

Jangan takut, janganlah ragu

Menyibak rahasia

Pulau-pulau Indonesia

Mata menari, Mata menyanyi

Mata berlari, ke ujung… Bumi

 

IMG-20181201-WA0031

 

catatan :

Untuk video dan foto-foto selengkapnya silahkan kunjungi IG dan Twitter: @seratpena

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s