Cerita Seratpena Tentang Bincang Edukasi #43 – Bandung

oleh Dyah Murwaninrum

16 Maret 2019. Hari Sabtu yang dingin di Bandung tak membendung semangat kami (Seratpena) untuk bergegas menuju TK Santo Yusup di Jalan Jawa, Bandung. Udara lembab kali ini lebih hangat dan bahkan memanas dengan keceriaan BINED #43 yang kami ikuti. Acara ini diadakan berkala dan siapapun dapat menghadirinya, tanpa dipungut biaya.

Kami mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman tentang waktu-waktu yang kami lalui, ruang-ruang yang kami hampiri, dan aktivitas yang kami jalani, selama hampir lima tahun terakhir ini. Kebahagiaan bagi Seratpena untuk dapat mengenal lebih banyak teman dan saling belajar.

Tak kurang dari 40 orang yang berasal dari berbagai latar belakang, menyediakan diri untuk menghangatkan suasana dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman di acara BINED #43. Tak hanya dari Bandung, peserta BINED #43 juga berasal dari beberapa kota di Jawa Barat. Namun sepertinya, diantara peserta BINED memiliki sebuah kekhasan, yaitu minat yang besar untuk membangun pendidikan di Indonesia.

BINED meski mengundang secara khusus perwakilan dari empat komunitas untuk membagi pengalamannya, namun tetap memberi kesempatan bagi tiap individu yang hadir untuk memperkenalkan diri dan memaparkan aktivitasnya.

Nampak bahwa BINED sangat peduli pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjalin dari sebuah pertemuan dan perbincangan. Konsep inilah yang menurut kami cukup berbeda dengan berbagai forum lainnya. Pada banyak acara yang sebelumnya kami hadiri, sangat jarang ada kesempatan untuk mendengar langsung aktivitas para peserta dan pembicara sekaligus.

Danti, Deta dan Sasa, adalah nama-nama yang menjadi pilar terselenggaranya BINED #43 di Bandung. Sebagai kurator pada acara BINED, mereka juga dibantu oleh beberapa voluntir dari berbagai komunitas di Bandung sehingga BINED dapat terselenggara dengan baik. Dimulai pada pukul 09.00 dan berakhir pada pukul 13.00, menurut kami BINED adalah salah satu acara yang berkualitas dan tepat waktu di Bandung ini.

Presentasi seratpenaKali ini kami berdiri bersama tiga komunitas lain diantaranya Semesta Tari yang digerakkan oleh Bude Ratna, Pustakalana yang dibangun oleh Puti Cheniza, dan Salam (Sekolah Anak Alam) Yogya yang dirintis oleh YB Anggono. Kesemua pengisi acara memaparkan tentang bagaimana konsep, awal mula dan proses bertumbuhnya komunitas pendidikan yang dibangunnya masing-masing.

Ada kesamaan dasar diantara komunitas-komunitas ini, yaitu kegelisahan yang mengerucut menjadi sikap untuk melakukan sesuatu. Seratpena sendiri menjadi lebih menyadari bahwa yang kami lakukan selama ini, masih jauh dari perjuangan. Sementara komunitas-komunitas lain benar-benar bergerak dengan sepenuh tekad, dan bukan untuk sekedar mengisi waktu.

Pendidikan di Indonesia dapat dibangun dari sisi yang mana saja, tidak ada yang lebih buruk atau lebih baik antara satu dengan lainnya. Siapapun dapat turut membangun negeri salah satunya dengan pendidikan. Dan pendidikan bukan hanya milik para wanita, guru, dosen, orang tua, pemuka agama namun seluruh masyarakat.

Kami sendiri sangat menyadarai, bahwa anak-anaklah yang nantinya akan menjadi pemimpin negeri dan mengambil kebijakan di masa mendatang. Sementara kenyataan bahwa Indonesia akan mengalami bonus demografi di tahun 2030, perlu dipersiapkan dari sekarang. Membekali anak-anak menjadi pribadi yang bermental kuat, kreatif, berpengetahuan, beretika dan bernurani adalah tanggung jawab kita semua.

Salam Literasi!

*Tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s