Belajar Menginderai Suara Sendiri – Catatan dari Bandung Readers Festival (Bagian 1)

Oleh Venny Tania

Di antara begitu banyak suara, kapan terakhir kali kita mendengarkan dengan seksama? Bukan sembarang bunyi atau kebisingan, melainkan suara asli kita sendiri.

Berbekal rasa penasaran, saya memutuskan bergabung dengan pelatihan menulis bertema “Quote no More: Temukan dan Tuliskan Sendiri Suaramu”, bagian dari rangkaian acara Bandung Readers Festival, pada Rabu 4 September 2018.

Sejak awal, kegiatan pelatihan menulis sudah dibangun dengan suasana berbeda. Lampu-lampu utama dipadamkan, hanya di bagian tengah saja ada sumber cahaya. Panggung auditorium IFI Bandung kosong, seluruh peserta duduk melingkari area tengah yang berisi meja dan beberapa benda seperti batu, bunga, lilin, dan tanah. Di pusat ruangan itu, Theoresia Rumthe hadir dalam balutan pakaian santai, rambut keritingnya diikat, berjalan-jalan dengan sepatu cokelat datar yang dilepasnya beberapa kali selama sesi.

Katanya, banyak orang terbiasa memendam, membungkam, atau bahkan membunuh suara aslinya sendiri. Mereka, atau kita, tak terlatih untuk mendengarkan baik-baik apa yang menjadi identitas dan ekspresi asli kita. Atas nama gengsi atau tekanan sosial, kita terbiasa lebih memilih mengikuti saja atau menjadi seragam atau meniru orang lain.

Lewat pelatihan bersama Kak Theo ini, saya dan 60 peserta lain diajak menemukan kembali suara sendiri, kemudian menggunakan suara asli tersebut untuk menuntun dalam menulis atau berkarya

“Jangan-jangan selama ini kita hanya mengkopi suara orang lain, kita meminjam suara dan air mata orang tua kita, jangan-jangan jiwa kita bukan lagi milik kita, melainkan milik orang lain yang sudah mati?” pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari suara bening Kak Theoresia, menuntun sekaligus meruakkan cakrawala kesadaran.

Selanjutnya, Kak Theo memperagakan tiga aksi percobaan pertunjukkan, untuk mengajak peserta merespon dan mempertajam kesan atau imaji pribadi. Percobaan pertama menggunakan sekumpulan batu kerikil, dimana penulis buku puisi “Selamat Datang, Bulan” itu menghasilkan bunyi rangkaian gerak. Kerikil dijatuhkan, diacak, digesekkan ke lantai, dibenturkan ke beberapa benda lain, digelindingkan, dan dihampar di area tengah.

Setelah dua menit pertunjukkan kerikil, peserta diminta menuliskan apa yang mereka ingat saat menyaksikan rangkaian gerak dan bebunyian kerikil tersebut? Setelah itu, beberapa peserta membagikan apa yang mereka tulis. Ada yang mengingatkan pada tanah atau jalan, ada juga yang menangkap hempasan kerikil sebagai metafora kehancuran hati, serta yang mengingat peristiwa lain berupa interaksi manusia di atas jalan berkerikil. Unsur kebaikan dalam interaksi di contoh yang terakhir, menjadi contoh ingatan orisinal atau asli yang kuat dari si penulis.

Praktik percobaan kedua menggunakan bunga tabur dan tanah. Kak Theo menceritakan bagaimana ia menerima berita kematian sang ibu dari telepon. Bersama kabar tersebut, rangkaian kenangan mengenai pasang surut hubungan anak dan ibu yang sama-sama keras, pelan-pelan membungkus, bersama kesadaran makna kematian yang terasa terlambat. Hangat betis jenazah sang ibu yang masih terasa, menjadi salah satu penanda kesan dari kematian tersebut. Narasi kematian perlahan namun meresap seperti minyak kayu putih ke dalam kulit. Tugas kedua adalah menulis bagaimana memaknai kematian.

Mengendus kenangan tentang kematian

Sesi kematian adalah sesi yang paling terasa mengetuk dan menggali suara sendiri. Seorang peserta mengakui sesi tersebut mengingatkannya langsung pada ayahnya. Bagi saya, sesi ini seolah mengajak memutar ulang adegan berbagai memori. Cara menyaksikan, mendengar, dan mengendus kenangan tentang kematian ini, mampu memberikan efek yang melapangkan perasaan, membebaskan tanpa rasa malu. Suara-suara asli yang bersama-sama diketuk ini saling berbagi kesamaan rasa dan pemahaman, bagaimana berteman dengan rasa kehilangan atau penyesalan, adalah sebuah keniscayaan bersama sebagai manusia.

Setidaknya beberapa peserta mengakui maupun menunjukkan reaksi demikian. Isak tangis saat membacakan rangkaian kalimat, maupun barisan kata penuh makna, menutup sesi ini dengan haru. Menulis dengan berfokus pada perenungan tentang kematian ternyata dapat menjadi pemantik yang meluapkan perihnya duka, sekaligus terapi yang melegakan. Lagipula, mengetahui bahwa orang lain berproses serupa itu cukup mengobati, menunjukkan bahwa kita tidak sendirian.

Sesi ke tiga meminta peserta merasakan dorongan masing-masing, untuk memotret sebuah benda di auditorium, kemudian menuliskan mengapa mereka memilih benda tersebut untuk dipotret.

Sesi pelatihan ditutup dengan tugas terakhir, yaitu menulis tanpa bertanya atau berkomunikasi dulu, mengenai seseorang yang duduk di sebelah. Tak disangka, meski banyak yang merasa canggung, namun beberapa mampu mengambil jarak yang pas dan menggambarkan kesan-kesan indah dan menyenangkan, mengenai orang-orang asing di sebelah.

Banyak bibit-bibit narasi novel dan cerpen baru seolah terbangun disini. Ada yang menggunakan sapaan bergaya puisi gombal, ada yang menggunakan sudut pandang orang ke tiga, ada pula yang tanpa basa-basi merasa akrab hanya dengan memperhatikan corak pakaian atau warna sepatu.

Dalam sesi ngobrol di akhir beberapa peserta mengaku telah merasakan dan menemukan cara lain mengekspresikan diri, serta yang terpenting adalah menemukan dalam hal-hal kecil tak terduga di antara keseharian. Kita bisa melakukan hal-hal yang berbeda dari rutinitas, untuk mengasah dan menemukan kembali suara diri kita yang mungkin tenggelam, hilang, pudar, atau tertelan. Suara yang mewakili diri sendiri, murni, dan bukan merupakan hasil dorongan atau paksaan orang, itu juga yang membulatkan tekad untuk menyatakan sesuatu dalam tulisan. Meskipun terpengaruh suara-suara penulis atau orang lain, namun masing-masing orang tetap memiliki perbedaan.

Menurut Kak Theoresia, itu artinya kita sudah tidak terlalu keras berusaha menjadi seperti orang yang karyanya mempengaruhi kita.

Penulis buku “Tempat Paling Liar di Muka Bumi” ini menutup pelatihan dengan memberikan beberapa tips agar peserta bisa menemukan suara terjujur dan terasli milik diri sendiri. Mencari gaya berbeda yang bisa dilakukan dengan lamban setiap hari, berjalan tanpa alas kaki di atas batu misalnya. Pada akhirnya penyair kelahiran Maluku ini menyimpulkan bahwa sebuah teks yang lahir dari cara berbeda biasanya bersifat spiritual, bukan rangkaian huruf-huruf tak bernyawa. Teks demikian akan menemukan pembacanya sendiri.

Editor: Dy Murwaningrum

Foto: BRF Dokumen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s