Sudahkah Kita Mengenal Tradisi? -Catatan Dari Bandung Readers Festival (Bagian 3)

Oleh Dika Dzikriawan

Ketika tradisi kerap dianggap kuno dan mulai ditinggalkan oleh kaum milenial, ketika tradisi luput dari perbincangan dan diskusi, Bandung Readers Festival 2019 justru menghadirkan sesi khusus yang mengupas tradisi. Perhelatan pembaca yang menyasar milenial usia 17-40 tahun ini mengusung tema “Perubahan Cara Membaca Di Era Digital”.

Era digital yang hari ini kita nikmati, tidak hadir secara tiba-tiba. Ia pun lahir dari rentetan panjang karya-karya nenek moyang. Tanpa pijakan tradisi tak akan pernah ada hari ini. Maka dengan sadar, Bandung Readers Festival 2019 menghadirkan sub tema “Mawa Tradisi Ka Kiwari”. Sesi ini ada untuk mendiskusikan usaha-usaha yang telah dilakukan untuk menghidupkan kembali musik tradisi (instrumen musik tradisional) dalam konteks masa kini.

Malam itu, 5 September 2019 sekitar pukul 18.30 Rumah The Panas Dalam di Jl. Ambon No. 8A mulai dipadati oleh kawula muda. Tak seperti biasanya, pengunjung yang hadir malam itu tidak hanya sekedar datang untuk menikmati secangkir kopi, tetapi juga sengaja datang untuk menghadiri Bandung Readers Festival.

Sesi “Mawa Tradisi Ka Kiwari” dimoderatori oleh Wanda Urban seorang MC sekaligus penyiar radio yang cukup populer di kota Bandung. Sementara Man Jasad dan Ilham Nurwansyah hadir sebagai narasumber.

Sesi “Mawa Tradisi Ka Kiwari” bertujuan untuk menambah wawasan peserta mengenai musik tradisi dan alat musik tradisional, memahami pentingnya literasi dalam menghidupkan alat-alat musik tradisional. Peserta acara nampak tergelitik dan makin penasaran untuk menggali kekayaan musik tradisional di lingkungannya masing-masing.

Man Jasad dan Karinding Attack
Man Jasad mungkin sudah tak asing di kalangan musik dan kultur Indie Bandung. Dia adalah vokalis Jasad, sebuah band bergenre “death metal” yang dibentuk pada tahun 1990.

Meskipun dikenal sebagai musik cadas, Jasad memadukan unsur tradisional Sunda di dalam liriknya. Di tengah moderenisasi, Man tetap konsisten melestarikan budaya Sunda dengan memakai iket kepala dan baju pangsi khas Priangan di setiap aksi panggungnya.

Sejak tahun 2009 Man dan teman-temannya membentuk Karinding Attack, sebuah grup musik yang memadukan musik metal dengan karinding[1]. Melalui Karinding Attack, Man mewacanakan agar tradisi tidak hanyut digerus derasnya arus globalisasi.

“Memang perlu cara tersendiri untuk mengenalkan tradisi di zaman sekarang. Salah satunya dengan mengkolaborasikan karinding dengan musik metal, agar tradisi kita tidak hilang dan tetap diminati generasi muda” tutur Man dengan logat Sundanya yang kental.

Ilham nurwansyah dan Naskah Kuno
Ilham Nurwansah adalah peneliti naskah Sunda kuno, wikipediawan, pegiat bahasa Sunda, serta admin situs kairgaga.com. Sekarang Ilham bekerja sebagai editor di penerbit Dunia Pustaka Jaya. Sering menjadi narasumber dalam seminar dan lokakarya tentang naskah dan aksara Sunda. Fotografer digitalisasi naskah Bali, Sunda, Bugis dalam proyek DREAMSEA.

Dirinya juga seorang konsultan akuisisi koleksi naskah kuno Museum Sribaduga Jawa Barat (2018). Kontributor aktif Wikipedia Bahasa Sunda (Mewakili Wikipedia Sunda di Konferensi Wikimania 2019, Swedia), dan proyek digitalisasi arsip (GLAM) Wikimedia Indonesia. Membuat font aksara Sunda, menjadi konsultan standardisasi aksara Sunda dalam World Wide Web Consortium (W3C), dan konsultan font Noto Sans Sundanese (Google).

Selama ini, Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antara lain Pikiran Rakyat, Mangle, Cahara Bumi Siliwangi, Cupumanik, Pasundan, dan Internasional Jaws Harp Society Newsletter. Karya tulis ilmiahnya dimuat di Jurnal Manuskrip Nusantara [Jumantara] dan Jurnal Sundalana.

Naskah kuno adalah barang yang cukup eksklusif di museum, sulit untuk diakses karena harus ada birokrasi khusus dengan perizinan yang cukup berbelit-belit. Untuk itu Ilham membuat salinan naskah kuno tersebut dengan bahan yang sama (daun lontar), kemudian disimpan dalam bentuk digital.

Upaya penduplikasian naskah kuno itu bertujuan agar naskah kuno yang eksklusif dan sulit diakses itu jadi lebih mudah diakses semua orang. Disamping itu, ilham juga telah membuat sebuah aplikasi font aksara Sunda yang bisa didownload gratis oleh semua orang.

Aplikasi tersebut ia rancang dengan modal sendiri. Meskipun harus merogoh kocek cukup lumayan untuk melakukan itu semua, tapi Ilham senang melakukannya karena kebermanfaatannya dapat dinikmati banyak orang.

Saat ini Ilham sedang meneliti aspek musik dalam naskah-naskah Sunda kuno dan carita pantun Sunda. Menurut Ilham ada 21 alat musik yang tercantum dalam naskah kuno, salah satunya adalah karinding.

Man dan Ilham sepakat bahwa salah satu hal yang terpenting untuk melestarikan tradisi adalah dengan aksi. “Yang penting kita berbuat dulu, karena apa yang kita buat hari ini akan menjadi tradisi di kemudian hari”, ujar Ilham.

Pembicaraan mengenai tradisi menjadi makin seru dan menarik. Sebenarnya ada begitu banyak cara untuk menyampaikan masa lalu pada para milenial, salah satunya seperti yang digelar BRF kali ini. Kafe, santai, bertemu teman sebaya, kopi dan sendau gurau, menjadikan pembicaraan tentang tradisi ini mengasyikkan. Untuk mengenal tradisi tidak melulu harus melalui ruang-ruang formal dan begitu banyak aturan.

Mari kita refleksikan diri, apa yang sudah kita perbuat untuk tradisi? setidak-tidaknya, sudahkah kita mengenal tradisi?

Editor: Dy Murwaningrum

Foto: Dok Penulis

[1] alat musik tradisional yang cara memainkannya disentil oleh ujung telunjuk sambil ditempel di bibir/mouth harp

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s