Perempuan dan Ronggeng

oleh : Rena Asyari

 

Beberapa pasang mata tak berkedip sejak tabuhan gendang mulai terdengar, menangkap gerak perempuan, tangan, dada, pinggul, kaki yang menghentak yang tak ingin mereka lewatkan. Alunan musik dan gerakan ronggeng yang semakin liar membuat beberapa penonton terjebak dan terperangkap dalam ruangan tersebut. Tak ada pilihan lain kecuali mengikuti bergoyang dan membiarkan diri mereguk kenikmatan.

Fragmen cerita di atas nyata adanya dan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia yang memiliki kesenian seni tari tradisi dengan perempuan sebagai tokoh utamanya. Di Sunda, Perempuan tersebut dinamakan Ronggeng, ia akan menjadi sentral dan menari selama musik dimainkan. Awalnya ronggeng adalah sosok yang terhormat dan mempunyai peran strategis dalam ritual kegiatan pertanian. Namun, kini peran ronggeng menjadi lebih sempit, ia hanya menjadi tokoh/bintang yang di “fungsi”kan di dunia pertunjukkan.

Begitu mulianya kedudukan ronggeng di daerah Jawa Barat pada masa lalu. Tarawangsa, kesenian tari tradisi masyarakat Rancakalong Sumedang menempatkan ronggeng sebagai penghubung interaksi dengan yang Tuhan Yang Maha Esa. Ronggeng menjadi media pelengkap dalam mengucap syukur atas kebaikan hidup dan kesuburan pertanian karena, ucap syukur tak cukup diungkapkan dalam kata-kata.

Dalam sejarahnya yang membuat nilai ronggeng menjadi bergeser, salah satunya adalah budaya perkebunan tahun 1870-an yang marak seiring dengan masuknya kolonial di daerah Jawa Barat. Para pekerja perkebunan biasanya menginginkan hiburan setelah lelah bekerja, ronggeng menjadi pilihan untuk mereka melepas lelah. Bermabuk-mabukan diiringi musik dan tarian, dan tentu saja gerak ronggeng yang memikat seiring saweran dari kuli-kuli perkebunan ini semakin banyak.

 Wajah ronggeng kini acapkali digambarkan sebagai perempuan penghibur, kecantikan dan tariannya dapat membuat syahwat dan nafsu lelaki memuncak. Perkelahian dan perselihan antara penonton baik laki-laki maupun perempuan sering sekali terjadi, tak jarang laki-laki yang sesudah menikah rela melakukan perceraian karena tergoda oleh ronggeng tersebut. Daya pikat ronggeng memang luar biasa, gerak-geriknya seolah magis, liuk tubuhnya mempunyai pesona tersendiri di mata penonton.

Stigma negative ronggeng yang terus-menerus diproduksi dan dikontruksikan oleh masyarakat membuat rongggeng di Jawa Barat menjadi generalisasi pencitraan perempuan Sunda sebagai perempuan yang buruk. Perempuan serakah, perempuan penggoda, perempuan matre yang menghabiskan uang setiap lelaki, padahal lelaki dan masyarakat tersebutlah yang mengekploitasi tubuh mereka sedemikian rupa. Keadaan ini berlangsung terus-menerus, dipelihara, dan bahkan diwariskan pada generasi berikutnya.

  Upaya untuk mengubah citra ronggeng salah satunya dilakukan oleh Tjetje Somantri Tahun 1950-an. Tjetje mengembangkan tari perempuan dari sumber gerak tari Jawa, sehingga gerakan tidak terlalu erotis tetapi mengandung makna. Selain itu juga memisahkan ronggeng dengan menyajikan lagu-lagu ketuk Tilu lewat udara (siaran radio), sehingga penonton tak lagi dapat menikmati pertunjukan ronggeng secara langsung tapi masih dapat mendengar lagu dan musiknya.

Langkah lainnya adalah dengan membuat panggung pertunjukan yang jauh dari jangkauan penonton. Jika selama ini ketika pentas, ronggeng tak ada jarak dengan penonton, sehingga penonton dengan mudah menyentuh bagian tubuh manapun dari ronggeng. Dengan adanya keterbukaan berpikir dan keinginan untuk memperbaiki citra ronggeng, perenggangan jarak antara ia dengan penonton menjadi penting.

Sejak itu pula, Ronggeng bergeser menjadi sinden. Tak hanya bisa menari dengan luwes, tetapi juga memiliki suara yang merdu. Sinden-sinden pun tampil mempesona, suaranya menjadi modal utama. Jangkauan sinden lebih luas, karena suara bisa direkam, didistribusikan dan didengar dimana saja hal tersebut menjadi jenis hiburan, pada masa-masa itu sinden Titim Fatimah, Upit Sarimanah menjadi idola baru masyarakat Sunda.

Baik Ronggeng maupun sinden, mereka adalah perempuan-perempuan yang juga dibebani oleh pekerjaan domestic sebagai perempuan. Beban ganda sebagai perempuan kerap mereka miliki. Ronggeng dan Sinden sebagai pencari nafkah juga mereka sebagai perempuan di rumah tangga yang harus menjaga anak dan mengerjakan segala pekerjaan rumah.

Referensi : Buku Perempuan dan Ronggeng, Endang Caturwati tahun 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s