Kemiskinan, Bakat dan Kerja Keras Pada Film Yeh Ballet

Oleh : Dyah Murwaningrum

Kesan yang melekat antara penonton film yang satu dan lainnya tentu memiliki penekanan yang berbeda. “Yeh Ballet” bagi saya adalah film yang sedang menyampaikan dua hal. Pertama, bekerja keras sampai kekhawatiran dan pesimismu akan hidup ini runtuh. Yang ke dua bahwa kejadian adalah hasil adu kehendak, maka manusia perlu menyadari kapan kehendaknya harus direlakan.

Kerja keras memang terlalu sering disandingkan dengan kesuksesan. Kaya atau miskin, kerja keras agaknya mutlak. Sedangkan, kemiskinan dan kegagalan kadang tampak serupa hubungan yang saling bersebab akibat, termasuk pada orang yang berbakat sekalipun. Berbakat namun miskin maka kemungkinan menuju kegagalan pun terbuka lebar.

Kemiskinan sering melahirkan pesimisme dan kehawatiran berlebih tentang masa depan, tentu saja bisa sebaliknya. Namun seringnya, kemiskinan adalah salah satu penyebab menyempitnya kesempatan karena keminderan finansial sehingga kita sangat memilih teman, bahkan pada beberapa orang terlampau khawatir dan menyebabkan pesimis untuk bekerja keras. Hasilnya hidup berujung pada kegagalan sekalipun bakat melekat dan dikandung badan.

Maka tak heran, manusia yang berhasil memaksimalkan bakatnya dan tidak didukung oleh keberadaan finansial banyak dicatat dalam sejarah, didokumentasikan supaya pesimisme dan kehawatiran banyak orang sedikit demi sedikit berkurang. Dan Yeh Ballet adalah salah satu film yang mendokumentasikan kisah nyata tersebut.

Film Yeh Balllet tersirat menyampaikan bahwa biasanya kemiskinan berlangsung turun menurun dalam keluarga. Kemiskinan yang dirasakan orang tua, tidak diharapkan hadir kembali pada anak-anaknya. Maka orang tua yang berhasil, meletakkan rumus hidupnya pada anaknya. Dan, orang tua yang merasa gagal menitipkan sejarah traumanya pada anak agar tak terulang. Keduanya untuk niat baik bagi sang anak.

Harapan dan putus asa muncul tenggelam. Berjuang dan menyerah pun sama halnya. Adu kehendak banyak mewarnai pada awal hingga pertengahan film. Pada semua bagiannya, film ini menegaskan korelasi antara kemiskinan, bakat dan kerja keras akan saling mempengaruhi satu sama lain.

Kemungkinan dan ketidakmunginan terus menerus diperlombakan dalam satu waktu sekaligus. Misalnya pada adegan ketika kedua tokohnya mendapat beasiswa dari luar negeri. Beasiswa memungkinkan siapapun bersekolah ke negeri orang namun, tetap saja beberapa persyaratan perlu disiapkan dengan finansial cukup. Maka perlu kecerdasan ekstra untuk menyiasati kemungkinan yang tidakmungkin ini.

Tokoh Yeh Ballet

Yeh ballet menceritakan tentang dua remaja pria, sama-sama mengejar mimpi untuk terbebas dari kemiskinan di perkampungan kumuh India. Keduanya sama-sama pergi untuk menari, yang satu pergi tanpa restu dan meninggalkan semua beban yang seharusnya ditanggung, sedang satunya pergi dengan restu keluarganya meski di awalnya tidak. Bumbu-bumbu pergolakan antar agama, ketimpangan sosial dan intoleransi menjadi hal kecil di film ini, tidak dominan.

Meski tingkat kemiskinan dua tokoh ini setara, namun restu keluarga dan bakat sangat mempengaruhi kadar kerja keras diantara keduanya. Bakat dan restu yang kurang, membuat salah satu dari mereka berjuang sangat-sangat keras.

Yeh Balet dirilis tahun 2020 setelah sebelumnya dirilis sebagai film pendek di tahun 2017. Film feature yang mengangkat kisah “Manish Chauhan” dan “Amiruddin Shah” ini sutradarai Taraporevala dan diproduseri oleh Roy Kapoor. Film yang penuh semangat, penuh gambaran kemiskinan dan keriuhan masyarakat pesisir juga pemukiman kumuh di Mumbai.

Yeh Ballet, mengusik bara yang ada dalam diri kita untuk tetap menyala. Kerja keras tidak mungkin bisa terhenti bahkan saat mimpi sudah di genggaman. Takdir kemiskinan masih mungkin diubah. Bakat perlu dicintai terus menerus, dan kerja keras adalah salah satu bukti cinta kita pada pilihan hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s