Aminakine Papua (bagian 2)

oleh : Devi Damayanti

Setelah tulisan sebelumnya mengulas sedikit tentang kondisi geografis pulau Papua, maka pada tulisan bagian kedua Aminakine Papua (Papua cantik dalam bahasa Awee) saya akan menuturkan beberapa hal menarik tentang pengalaman hidup di tengah masyarakat Awee dan Iwaro.

Berikut adalah tujuh hal menarik yang dapat saya ceritakan :

Tidak ada koteka di sini!

WhatsApp Image 2020-03-28 at 13.41.15
dokumentasi penulis

Ya, jangan kira koteka ada di seluruh Papua. Itu adalah pakaian adat dari suku-suku di Pegunungan Tengah, di se

kitar Wamena dalam Provinsi Papua. Jarak dari kepala burung ke tengah badan burung itu luar biasa jauhnya! Jarak Anyer-Panarukan buatan Daendels tidak ada apa-apanya dibandingkan Sorong ke Wamena. Untuk ke Wamena dari Sorong, orang harus menumpang pesawat yang transit di Timika dan Jayapura. Kalau dengan kapal laut berarti berlabuh di Jayapura atau Merauke baru disambung lagi dengan pesawat. Di sini, di Kais dan Metemani, pakaian adat untuk laki-laki adalah cawat merah yang merupakan lilitan kain polos warna merah dengan mahkota burung, sedangkan perempuan memakai rok kain rumput yang dibuat dari pucuk daun sagu serta beragam jenis mahkota dan aksesorisnya.

Semua orang berbahasa Indonesia

Hal yang paling menyenangkan bagi saya adalah komunikasi di sini sangat mudah. Semua orang, tua-muda, besar-kecil, laki-perempuan, semua berbahasa Indonesia dengan logat Melayu Papua di samping bahasa daerahnya. Alangkah bahagianya bisa lancar mendengar dan berbicara tanpa harus sulit belajar satu bahasa daerah lebih dulu.

Makanannya enak karena mama-mamanya jago masak

Saya senang bukan main ketika mendapati banyak makanan enak. Apalagi di saat pesta, selain pilihan lauk, pilihan karbonya juga banyak: sagu bola-bola, sagu bungkus, papeda, ketupat, nasi kuning, nasi putih, dan mie goreng. Mama-mama di sini tahu memasak dengan bumbu lengkap, dengan semua jenis rempah: kunyit, jahe, salam, sereh, jinten, pala, lada, lengkuas. Semua itu dikenal dalam masakan, tidak perlu disebut lagi bawang merah, bawang putih, cabe rawit, dan belimbing wuluh serta daun kemangi.

Makanan modern seperti donat, roti, dan bolu juga mama-mama bisa buat. Di kampung inilah saya baru tahu bahwa jantung pisang dan sarden bisa digoreng tepung, hahaha! Hutan menyediakan banyak sumber makanan: burung kasuari, rusa, babi hutan, jamur, dan buah-buahan termasuk buah merah dan tentunya ulat.

WhatsApp Image 2020-03-28 at 13.34.09
membakar sagu apatar (dokumentasi penulis)

Makanan paling menarik memang apatar garu dan sagu apatar. Apatar atau avatar adalah ulat sagu yang gemuk-gemuk. Enak sekali bila dibakar dan dibumbui dengan kecap, itu betulan sate yang lezat. Sagu apatar adalah apatar yang dibungkus bersama tepung sagu lalu dibakar sehingga bentuknya jadi seperti otak-otak.

Sedangkan kue lokal dari sagu adalah sinoli alias tepung sagu dicampur kelapa & gula yang dipanggang dengan api bara di atas cetakan besi yg disebut sagu forna. Ada juga sagu bronjong yang cara bakarnya sama tapi lebih simpel karena hanya sagu saja, dan enak dimakan sewaktu panas bersama kopi atau teh. Lebih senang lagi di sini tidak ada aturan bahwa laki-laki harus makan lebih dulu seperti umumnya kebiasaan beberapa suku di NTT saat acara makan. Di acara apapun, laki-laki dan perempuan serta anak-anak makan bersama-sama. Suasana makan bersama yang egaliter ini hangat dan menyenangkan, sama seperti yang saya lihat di masyarakat Dayak Kalimantan.

Ke mana-mana harus naik perahu

Jalan hanya ada di dalam kampung, itupun lebarnya hanya 1 meter dan dikeraskan oleh semen. Jadi tidak ada mobil? Ya jelas tidak ada toh! Masing-masing kampung terpisah oleh sungai. Jadi kalau mau pergi ke hutan sagu, ke kebun (di sini dibilang dusun), atau ke kampung tetangga semua harus pakai perahu, baik perahu dayung, ketinting, perahu motor, ataupun perahu besar (longboat).

Dari Teminabuan ke kampung biasanya pakai longboat. Perahu adalah pengganti mobil di sini. Semua rumah tanggal pasti punya perahu. Tidak heran bila anak-anak kecil sudah mahir berenang dan berdayung perahu di sungai yang begitu lebar. Bahkan anak-anak kelas 3 SD sudah pintar menarik mesin ketinting dan mengemudikannya ke mana suka.

Air hujan ternyata rasanya manis

Sumber air minum adalah air hujan. Ada banyak sumur di kampung, tapi hanya digunakan untuk mandi dan cuci karena katanya bisa menimbulkan batuk kalau dipakai masak. Air sumur ini juga mereka saring lagi dengan penyaring yang dibuat dari tong berisi lapisan batu, pasir, dan spons. Hanya saya saja yang paling pemalas di kampung untuk menyaring air keperluan MCK karena menurut saya air sumur langsung juga sudah bagus.

Jika musim kemarau dan air hujan sudah habis, barulah orang ambil air minum ke hulu sungai. Air hujan di daerah terpencil tentu bebas dari polusi dan hujan asam. Ketika diminumpun rasanya lebih enak dari air sungai. Semua orang merebus air sebelum minum, jadi yang namanya air minum pasti sudah direbus mendidih dan aman dikonsumsi.

Noken bukan dari kulit kayu tapi dari pucuk daun sagu

Noken sudah masuk warisan budaya takbenda dunia menurut Unesco sejak 2012. Beda dengan umumnya noken yang kita kenal terbuat dari kulit kayu, mama-mama Iwaro dan Awee membuat nokennya dari pucuk daun sagu atau yang biasa disebut kantong kain rumput. Mengambil daun sagu juga ada aturan musimnya, bukan bisa tiap hari. Setelah dibersihkan, pucuk daun sagu itu dijemur, diberi pewarna alami, dan dipilin jadi benang besar, baru kemudian dianyam jadi noken. Bentuk noken ini lebih modern, lebih berupa tas selempang dari bahan anyaman. Anak-anak biasanya membawa noken ini ke sekolah dan orang dewasa membawanya untuk ke gereja atau bepergian.

Sistem patrilinealnya tidak murni (cenderung ambilineal)

Sistem kekerabatan yang dianut adalah patrilineal, jadi pengantin laki-laki harus menyerahkan mas kawin pada pihak keluarga pengantin perempuan. Meski demikian angka mas kawin tidak semahal belis di NTT pada umumnya. Fam atau marga diturunkan dari garis bapa dan diteruskan oleh keturunan laki-laki alias patrilineal. Namun, di masyarakat Iwaro ada kebiasaan unik meski tidak wajib, yakni kebiasaan untuk memberikan marga kakek dari mama pada anak pertama (sebab si mama sendiri juga bisa jadi memakai marga mamanya).

Anak kedua barulah diberi marga kakek dari bapanya. Anak ketiga dan seterusnya bisa diberi marga neneknya, bapanya, mamanya, atau bahkan oomnya. Jadi dalam satu keluarga nama marga itu bisa ada banyak. Istilahnya “kas kembali”, sehingga si anak dimasukkan dalam keluarga besar fam (marga) yang dia pikul, meskipun tentu hubungan dalam keluarga tetap erat sebagai satu keluarga batih dari satu bapa dan mama yang tinggal dalam satu rumah.

Itu 7 hal menarik tentang Sorong Selatan di Papua Barat. Benarlah sebuah kalimat dari Antoine De Saint-Exupery, pengarang buku terkenal Pangeran Kecil, yang kira-kira isinya begini: “Bila kita tidak pernah tinggal di dalamnya, sungguh-sungguh memahami bahasanya dan budayanya, maka kita tidak akan bisa memahami mengapa sebuah tempat bisa menjadi tanah air bagi sebagian orang.” Semoga sepotong tulisan ini bisa membuat pembaca lebih kenal tentang Papua yang luas di ujung timur sana.

profil penulis

Devi Damayanti seorang pekerja sosial dari Abhirama Semesta Consulting Group yang sedang mendampingi proses pemberdayaan masyarakat di Allung, Pulau Pantar, Kabupaten Alor, NTT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s