Pesan dari puncak tertinggi di Pulau Timor (Wabah dan Manusia)

Oleh : Devi Damayanti

 

Pulau Timor. Pulau berbentuk buaya ini, kini menjadi wilayah bagi dua negara. Cendana (sandalwood) dari Timor sudah dikenal sejak era perdagangan antar pulau di Nusantara dan sudah sejak dahulu menjadi bahan utama minyak, dupa, dan wewangian lainna.

Nama Timor cukup familiar bagi kita karena Timor Timur pernah menjadi bagian dari Indonesia hingga merdeka tahun 1999 sebagai Republika Demokratika Timor Leste. Timor bagian barat tetap menjadi bagian Indonesia, tepatnya masuk Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan Kupang sebagai ibukotanya

Kupang sudah menjadi pelabuhan ramai di masa Belanda, sehingga tidak heran bila banyak suku sudah mendiami kota Kupang hingga beberapa generasi. Kupang, selain dihuni orang Timor juga dihuni orang Halong, Sabu, Rote, Alor, Sumba, suku-suku dari Flores, dan suku non NTT lainnya yang dipersatukan dalam bahasa Melayu Kupang.

Indigenous people (penduduk asli) dari Pulau Timor adalah Timor Dawan dan Timor Tetun. Orang Timor Dawan atau disebut juga orang Atoni Meto berbahasa Dawan, sedangkan Timor Tetun di Kabupaten Belu (Atambua) dan Melaka berbahasa Tetun, merupakan bahasa yang sama dengan penduduk Timor Leste.

Timor Dawan pernah terbagi menjadi beberapa swapraja seperti Amanuban, Amanatun, dan Mollo yang sekarang ada dalam wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan; dan Biboki, Insana, Miomaffo di wilayah kabupaten Timor Tengah Utara saat ini. Suku Boti yang hingga kini mempertahankan adat istiadat dan kepercayaan mereka yang asli juga merupakan bagian dari Suku Dawan atau Atoni Meto.

IMG-20200411-WA0015
foto: Nikson Tenistuan

Gunung Mutis yang berada di tengah-tengah Pulau Timor adalah gunung tertinggi di Timor. Bagi orang Atoni Meto yang berbahasa Dawan, Gunung Mutis adalah sumber kehidupan. Gunung Mutis disebut Nijelbesi Pakun Susbi’an atau Pusat Kehidupan, yang arti harfiahnya adalah sumber terang atau sumber api pertama. Terjemahan puitis dari Nijelbesi Pakun Susbi’an adalah Dia yang Menyayangi dan Menyusui Tanah Timor. Gunung Mutis diyakini sebagai asal-muasal semua orang Atoni Meto.

Sekitar 16 kilometer dari Kefamenanu, ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara, ada sebuah tempat bernama Inbate. Inbate terletak di Kabupaten Timor Tengah Utara dan berbatasan dengan Timor Leste yang enclave Oecussi. Timor Leste punya satu kantong wilayah (enclave) di tengah-tengah wilayah Timor Tengah Utara, sementara sebagian besar lain wilayahnya memang ada di sebelah utara Atambua.  Sebagai wilayah perbatasan, posisinya cukup penting sehingga ada dua unit pos TNI untuk penjagaan tapal batas di Inbate.

Inbate dalam sejarah Timor disebut Suni Tolun-Auni Tolun Pah Mutis atau Hasil Pergantian Kemenangan Perang Suku pada Kelewang-Tombak dari Gunung Mutis. Jadi kampung ini adalah hasil perjanjian masa lalu dari Kerajaan Mutis (Raja Nafa, Auni, Tusalak-Laome) dengan Kerajaan Bikomi (Raja Ato, Bana, Lake, Sanak) yang berada di wilayah Swapraja Miomaffo.

Di Inbate pernah hidup tetua adat yang hidup hingga usia lanjut, Paulus Ta’eki Sfunit, salah satu keturunan Raja Mutis dari Laome yang sekaligus secara adat menjabat sebagai Panglima Tnopo dari Bikomi. Usianya mencapai 110 tahun dan telah meninggal 2018 lalu. Di masa Belanda beliau menjadi  tobe (penjaga) dan temukung (pemimpin kampung) lalu diangkat menjadi kepala desa di masa Orde Lama.

Ketua Adat Inbate ini sebelum meninggal mewariskan pengetahuannya, kisah hidupnya, dan jabatan tetuanya kepada anak bungsunya, yang sehari-hari disapa Tusala. Dia serius mempelajari semua pelajarannya dan sekarang fokus berupaya mengembangkan Inbate menjadi kampung wisata budaya. Sebagai penerima ajaran leluhurnya, dia menceritakan pada saya tentang hal-hal yang pernah dipesankan oleh ayahnya.

 

Wabah dan Inbate

Pandemi global Covid-19 yang masih mewabah hingga kini, pernah disampaikan jauh-jauh hari oleh tetua adat Inbate, “bahwa akan terjadi pahe lof naboik nek menas ai bunuk, a nat mpanto natuin tamtausan le men kako (dunia akan diguncang oleh penyakit menular sehingga perlu berhati-hati, karena wabah ini bisa melakukan sapu bersih sekali jadi).

Wabah bukan hal baru di Inbate. Di masa lampau pernah datang penyakit atau menas kako pē’u yang langsung menghabisi banyak orang sekaligus dalam satu kurun waktu. Wabah ini merontokkan rambut hingga botak dan membuat penderitanya meninggal dunia. Penyakit ini disebut menas ‘nak boko dan sewaktu-waktu kelak bisa terjadi lagi bila manusia sudah lupa akan asal-muasal kehidupan.

IMG-20200411-WA0016
foto: Nikson Tenistuan

Sebuah resep untuk menjaga diri, agar selamat dari pandemi ini adalah:

Mpao ho aom, ‘muhin ho’naom, es amo’et nalileb nbi ho nimam nana.”  Jagalah tubuhmu dan pahamilah asal-usulmu yang telah Pencipta tunjukkan pada garis tanganmu.

Muhin ho ahonit-ataos-ahapit, alikin ape’an nane nfaen Uis Neno Pala afe monit.” Kenali Dia yang mengadakanmu, yang menaruh nafas hidupmu, yang mendampingi hidupmu. Ingatlah bahwa orangtuamu melalui para leluhurmu, adalah Tuhan yang kelihatan di depan mata yang telah memberimu hidup.

Tusala berulang kali mengutip perkataan ayahnya. Pesan penting yang mengingatkan bahwa kita hidup di dunia ini tidak sendiri, bukan hanya kita manusia saja yang ada di sini. Ada makhluk hidup yang lain, ada lingkungan hidup, ada ekosistem yang harus kita rawat bersama.

Fatu ma luke, haube ma luke, mpao fefam ma mpao ansaom.” Batu bertelinga, kayu bertelinga, jadi jagalah mulutmu dan jaga hatimu.

Sampai pada sebuah kesimpulan :

 “Mpao ho kuan, mpao ho bale, mpao ho ‘naom natuin nane ho ahaot honis”. Jaga dan lestarikanlah kampungmu, rawatlah asal-muasalmu, karena mereka yang                    memberi engkau makanan untuk engkau hidup.

IMG-20200411-WA0018
foto: Nikson Tenistuan

Cukupkan untuk hidup di masa kini. Jangan serakah menghabiskan semua hasil alam yang seyogianya bisa dijaga sampai nanti dengan alasan investasi demi laju pertumbuhan ekonomi.

Kita mungkin tidak seberuntung orang-orang Timor yang berdiam di kampung terpencil Inbate yang tahu jelas dan pasti siapa nenek moyangnya dan di mana kampung tumpah darahnya. Sekalipun asal usul kita terdiri dari banyak campuran dan kampung halaman kita selalu berpindah, pesan dari gunung Mutis ini mengingatkan kita pada pepatah Yunani kuno “gnothi seauthon”, kenalilah dirimu sendiri!

Bahasa Jawa menyebutnya eling lan waspodo, selalu sadar dan mawas diri. Dalam Bahasa Sunda dikatakan tekad, polah, lampah (kehendak, pikiran, dan upaya) mestilah serasi. Pasti  ada pula ungkapan-ungkapan serupa dalam berbagai bahasa.

Setiap budaya memiliki cara untuk melihat dan menyadari siapa kita, dari mana, apa yang akan kita lakukan di dunia dan kemana akan kembali. Leluhur dari setiap budaya telah mempersiapkan renungan yang akan menguatkan anak cucunya dalam menghadapi wabah.

 

foto: Nikson Tenistuan

profil penulis

Devi Damayanti seorang pekerja sosial dari Abhirama Semesta Consulting Group yang sedang mendampingi proses pemberdayaan masyarakat di Allung, Pulau Pantar, Kabupaten Alor, NTT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s