Kata “Tidak” dan Sikap Penolakan (Review Film Pink 2016)

Oleh : Dyah Murwaningrum

 

“Tidak, berarti tidak. Sekalipun itu diucapkan oleh teman perempuanmu, pacarmu, pekerja seksual atau istrimu sendiri. Tidak, berarti Tidak.” – Deepak Sehgal –

 

Beban tata krama kesopanan yang harus ditanggung oleh laki-laki dan perempuan di beberapa negara, termasuk di India masih belum setara. Misalnya saja beban bagi perempuan untuk menjaga diri atas resiko pelecehan seksual selalu lebih besar, sedangkan banyak keluarga lupa untuk mengajarkan pada anak laki-laki bagaimana cara menghargai semua manusia. Hal ini digambarkan pada berapa film yang diproduksi di India.

Film membekas saat satu kali ditonton dan memberi ruang perenungan baru saat berkali-kali ditonton. Menikmati tontonan bukan cuma mengoleksi jalan cerita yang aneh atau “baru”, namun juga berdampak bagi pemikiran bahkan laku keseharian apresiatornya. Subjektifitas apresiator menjadi penting untuk menempatkan dari sudut mana sebuah film akan dinikmati, khususnya pada film yang mengangkat isu sosial.

Isu sosial sering kali masih ditutupi tirai tebal saat dibicarakan di Indonesia, namun menjadi tampak gamblang pada film-film India. Baik dari film pendek atau panjangnya, India selalu memberi referensi pada cara pandang kita terhadap kasus-kasus sosial. Tingginya angka pemerkosaan dan kasus pemerkosaan yang sering dikabarkan mangkrak di pengadilan, sepertinya cukup meresahkan pembuat film Pink ini.

Percobaan pemerkosaan yang diangkat dalam film Pink 2016 adalah upaya sang sutradara untuk meneriakkan tentang definisi pemerkosaan itu sendiri. Peliknya persidangan demi persidangan, menjadi cara untuk membingkai potret demi potret realitas di negeri berpenduduk terpadat nomor dua di dunia itu.

Aniruddha Roy Chowdhury menyabet National Film Award pada film ini (Pink) setelah sebelumnya ia juga menyabet piala yang sama untuk film feature berjudul Anuranan. Pink dibalut dengan soundtrack yang digarap beberapa composer diantaranya adalah Anupam Roy dan Shantanu Moitra. Shantanu Moitra adalah komposer yang juga menggarap musik untuk film PK dan 3 Idiot.

Sang director film juga melibatkan aktor senior Ammitabh Bachchan sebagai aktor utama yang berperan sebagai (Deepak Sehgal), pengacara dengan gangguan kesehatan mental. Kalimat-kalimat yang dikemukakan Deepak di pengadilan adalah siratan dari perlakuan mayoritas masyarakat terhadap perempuan.

Pink menceritakan bahwa nasib korban percobaan pemerkosaan seringkali berbalik di mata oknum penegak hukum. Terlebih ketika korbannya adalah perempuan yang bukan siapa-siapa dan buta pengetahuan hukum. Hal ini juga yang terjadi pada seorang perempuan bernama Minal (Taapse Pannu). Bersama dua temannya Falak Ali (Kirti Kulhari) dan Andrea (Andrea Tariang), Minal terbentur pada persoalan yang melibatkan tokoh penting dan berkuasa di India.

Akibat dari upayanya untuk membela diri, tiga perempuan itu harus menanggung getirnya sikap keluarga, teror yang berkepanjangan, ancaman nyawa, ditambah lagi sikap teman-teman dan masyarakat yang tidak sedikitpun peduli. Keadilan, kebenaran dan empati tampaknya tidak datang sendiri, ia harus diperjuangkan terlebih dahulu.

Pertengahan tahun 90-an, film India yang banyak diputar di stasiun televisi swasta Indonesia, sering menampilkan oknum-oknum polisi yang berpihak pada kejahatan. Atmosfer yang sama pun terasa pada film Pink. Polisi dan saksi palsu makin memperberat Deepak untuk membela Minal di pengadilan. Kalimat pengacara, dan saksi-saksi di persidangan Minal ini, memberi banyak informasi tentang bagaimana si kaya dan si miskin diperbedakan oleh oknum polisi, posisi perempuan yang terdiskriminasi, kekerasan seksual di beberapa bagian wilayah yang tidak tersentuh hukum, serta pendidikan tinggi dan kekayaan yang sama sekali tidak menjamin kualitas manusia untuk lebih humanis.

Entah apa yang ingin dipesankan oleh film ini, mungkin hanya sebuah rekaman keadaan di sebuah kota, atau mungkin seruan untuk sama-sama bergerak melawan diskriminasi pada perempuan. Apapun tujuannya, film ini berhasil memahamkan penontonnya tentang defnisi pemerkosaan, tanpa menyuguhkan kalimat teoritis dan menggurui. Saat Deepak Sehgal sudah kehabisan kata untuk memperjuangkan kebenaran, ia hanya mengutip kata kliennya “No…No…No…”

Tidak, berarti tidak. Jika seorang perempuan telah mengatakan tidak, entah itu teman perempuanmu, kekasihmu, pekerja seksual atau bahkan istrimu sendiri maka tidak, artinya adalah tidak.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s