Catatan dari Konser Ceramah “Empat Puan Suara” dalam Etalase Pemikiran Perempuan

Oleh : Dyah Murwaningrum

Musik tradisi menjadi salah satu titik yang dapat menarik lintasan waktu ke belakang, untuk mencari tahu siapa kita dan sejauh mana manusia sudah berjalan. Di sisi lain, musik kadang masih dinilai terlalu sempit untuk mendeskripsikan “manusia”. Ada yang lebih dahulu dan luas dari pada sistem yang terkonstruksi itu (musik), dia adalah bunyi.

Bunyi anak-anak manusia lebih dari potret budaya. Bunyi dapat menguak kedalaman diri. Tiap manusia membunyikan dirinya, dukanya, kebahagiaannya, perjalanannya dan sekali waktu ia ingin mengutarakan dalam berbagai bebunyian.

Empat Puan Suara, awalnya saya bayangkan sebagai konser dalam panggung pribadi yang dipenuhi cahaya gemerlap. Sebagian dugaan saya pertunjukan ini akan hangat, karena ada Jungga di dalamnya. Jungga adalah alat petik dari Sumba dengan jumlah dawai beragam, dan pelantunnya menggunakan bahasa Kambera.

Jungga masih terjaga oleh seorang perempuan bernama Ata Ratu. Usianya memang tak muda lagi, namun tidak ada cintanya yang berkurang pada Jungga. Malam itu ia memainkan Jungga, melantunkan bunyi dari petikan dawai dan pita suaranya.

Meski Ata Ratu adalah penjaga tradisi tapi kerendahan hatinya telah membuka ruang kolaborasi bersama puan lain dari beragam budaya. Dari penampilannya, saya tidak hanya melihat konser. Saya juga mendengar cerita baik yang eksplisit maupun yang tersembunyi di balik lantunannya.

Mbak Jipi atau Sylvia Sartjee adalah yang ke dua dari empat puan ini. Namanya besar sejak tahun 1978 dan dinobatkan sebagai Lady Rocker pertama Indonesia versi majalah Aktuil. Saya hampir yakin, begitu banyak perempuan yang baru mengenal dan langsung takjub pada mbak Jipi saat acara ini berlangsung.

Perempuan yang menyandang nama besar ini, memahamkan saya bahwa cerita tentang perempuan begitu mudah tertutup debu waktu. Malam itu, ia dengan apik merespon lintasan nada yang melewati telinganya. Berlatar diatonis dan puluhan tahun menggeluti genre rock justru menjadi warna cerita lain dalam persinggungan bunyi yang saling menceritakan pengalaman rasa perempuan ini.

Lalu yang ke tiga diantara empat puan itu adalah Nova Ruth. Seorang multi instrumentalis dan penyanyi multi genre. Ia konsisten bergeser untuk melintasi waktu dan ruang yang senantiasa berbeda. Ia membawa pertunjukan dalam perjalanannya. Suaranya yang melintas bebas dalam ragam sistem nada, terasa padu dengan dua musisi sebelumnya.

Berakar dari sistem nada diatonis, pentatonis Jawa serta lantunan “ngaji”, justru membuat Ruth peka pada frekuensi dan getaran yang terbentuk malam itu. Kapan ia harus merendah, menjadi yang di tengah atau di wilayah nada bagian atas. Di sini Ruth membawa keteduhan dari cengkok dan lirik berbahasa Jawa.

Septina Layan,  adalah seorang komposer dari Merauke, Papua yang mencoba melakukan kerja etnomusikologis dengan mendokumentasikan nyanyian suku Yughai. Septina Layan menceritakan bagaimana para perempuan di Papua lebih maju beberapa langkah dari kebanyakan perempuan Indonesia dalam beberapa hal. Namun, perempuan tidak pernah menjadi penentu atau pemimpin, khususnya pada kerja-kerja seni.

Dalam lantunannya Septina Layan mewakili motif-motif bunyi dari Papua untuk dikolaborasikan dengan ketiga perempuan lainnya. Layan lahir dari generasi paling kekinian, yang mencoba menyisir dan mengumpulkan motif-motif pendahulunya untuk disuguhkan. Layan tampak mengalir dalam mengkolaborasikan nyanyiannya.

Bukan tanpa kendala, saya yakin mengkondisikan Konser Ceramah ini tidak mudah. Nyak Ina Raseuki atau akrab disapa Ubiet sangat menentukan konser ini menjadi hidup. Ubiet yang berlatar belakang sebagai penyanyi multi sistem nada dan etnomusikolog, malam itu menempatkan dirinya sebagai jembatan bagi keempat puan ini untuk bercerita tentang kediriannya masing-masing.

Cerita ini adalah cerita tentang perempuan yang tidak pernah dianggap penting, sepenting urusan politik. Meskipun bunyi dalam bentuk nada adalah media mngekspresikan rasa, namun nada tidak selalu bisa tuntas bercerita. Di sini Ubiet mampu menggiring keempat puan untuk menceritakan hal-hal yang tidak mampu diceritakan oleh jalinan nada.

Virtual meniadakan jarak dan waktu

Saya membayangkan, jika tidak ada pandemi mungkin saya tidak bisa menyaksikan konser ini. Konser pada layar datar yang dijangkau seluruh dunia. Perbedaan waktu, kendala sinyal dan persoalan latency yang menjadi resiko perpindahan media analog ke digital juga perbedaan ruang, tentunya menjadi sedikit hambatan pada konser ini. Pemateri cukup sigap membaca hambatan panggung ini. Mereka telah menyiapkan rekaman latihan yang disuguhkan pada bagian awal konser. Dan di bagian akhir penonton baru bisa menikmati konser langsung mereka. Satu per satu mereka membunyikan ceritanya, dengan caranya yang berbeda.

Sebuah konser yang tidak biasa. Anda yang mencari hingar bingar konser dan suka menilai-nilai tehnik juga memuja kerapian struktur mungkin akan kecewa. Namun bagi Anda yang hendak merasai kehidupan dan pengalaman perempuan, Konser Ceramah ini tepat.

Konser yang menyadarkan bahwa kita terlalu sering membicarakan penampilan di atas panggung, namun agak terlupa bahwa seni bukan sekedar panggung dan skill. Seni juga mencakup daya pikir, renung dan berbagai alasan mengapa panggung harus di-ada-kan.

Keempat perempuan yang saling melintasi ruang satu dan lainnya, merendahkan ego masing-masing, kesediaan untuk memberi kesempatan, inilah seni yang berdaya. Perempuan yang berbeda jalur bukan masalah. Saling bertemu dan berpapasan pun penting. Perempuan yang lahir lebih dulu bukan bencana dan perempuan yang lahir hari ini bukan kesialan.

Konser ini dibutuhkan sama sekali bukan hanya untuk menghadirkan kesenangan. Konser ini hadir sebagai renungan, bahwa perempuan perlu “melihat dan terlihat”. Kapan ia memberi kesempatan, kapan ia tampil, kapan ia saling mensupport. Sebuah konser yang mengetengahkan berbagai generasi, tanpa meminggirkan siapapun. Perempuan semestinya menjadi lebih paham, bahwa di setiap zaman kita sebenarnya selalu ada dan memiliki peran.

Catatan: Konser Ceramah Empat Puan Suara merupakan bagian dari rangkaian acara Etalase Pemikiran Perempuan yang digelar pada 24-26 Juli 2020. Tayangan tundanya masih dapat disaksikan melalui Youtube: Cipta Media

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s