Hidden Figures, Kisah Nyata Tiga Puan Pendobrak Patriarki dan Rasisme di NASA

Hidden Figures, film dengan mengambil setting tahun 1960-an, mengenalkan tiga perempuan cerdas kulit berwarna yang bekerja di NASA. Katherine Johnson, Dorothy Vaugan, dan Mary Jackson ketiganya adalah matematikawan.

Ditulis oleh Rena Asyari

Siapakah manusia pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa? Pertanyaan ini pasti muncul dan ditanyakan pada siswa sekolah dasar.

Lalu, guru akan menjelaskan tentang Yuri Gagarin, seorang kosmonaut AU Uni Soviet. Bersama kapsulnya Volstok 1, Ia berhasil mengelilingi satu orbit bumi, selama 108 menit pada tahun 1961.

Perjalanan Yuri Gagarin selain berhasil mengukuhkannya menjadi pencetak sejarah, juga memicu Amerika Serikat menggenjot Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) untuk lebih tanggap merespon ajakan perang teknologi tersebut.

Tak ada negara yang menerima kekalahan. Keberhasilan Uni Soviet membuat para pegawai di NASA kalang kabut, mereka bekerja dan berpikir lebih sibuk dibandingkan sebelumnya. Peristiwa ini digambarkan dengan detail di film Hidden Figures yang rilis tahun 2016.

Film yang diangkat dari buku non-fiksi dengan judul yang sama oleh Margot Lee Shetterly berhasil menyingkap bagian tersembunyi dari keberhasilan proyek-proyek NASA.

Hidden Figures, film dengan mengambil setting tahun 1960-an, mengenalkan tiga perempuan cerdas kulit berwarna yang bekerja di NASA. Katherine Johnson, Dorothy Vaugan, dan Mary Jackson ketiganya adalah matematikawan.

Katherine Johnson, kemampuannya dalam kalkulasi menjadi titik mula suara perempuan dianggap di lingkungan NASA yang sangat patriarkal. Bersama Dorothy dan Mary Jackson, Katherine membuat benteng rasisme di NASA menjadi sedikit lebih tipis.

Tak hanya menjadi perempuan Afrika-Amerika pertama yang bekerja di NASA, kecakapan Katherine dalam memperlakukan angka, membuat NASA benar-benar mengandalkannya untuk setiap proyek mereka.

Hasil perhitungan mekanika orbital dan lintasan penerbangan Katherine yang presisi berhasil mengantarkan Amerika pada tahun 1962 untuk mengirim astronout ke luar angkasa.

Jerih payah Katherine dan tim juga telah menancapkan jejak sejarah dengan mengirim Apollo 11 untuk mendarat di Bulan pada 1969, dengan Neil Amstrong sebagai astronautnya.

Katherine telah berhasil melompat sangat jauh. Kecerdasannya membuat ia mengukir sejarah. Ia tak sendiri. Rekannya, Dorothy Vaugan memimpin tim komputasi yang semua anggotanya perempuan kulit berwarna.

Kemampuan Dorothy Vaugan dalam komputasi dan mengelola tim membuat Dorothy juga menjadi perempuan Afrika-Amerika yang pertama bertugas mengawasi staf dan mempersiapkan kedatangan computer mesin pada 1960an. Ia mengajarkan Bahasa pemograman Fortan kepada dirinya dan stafnya.

Perempuan ketiga adalah Mary Jackson, matematikawan yang bekerja sebagai teknisi di NASA. Usahanya menjadi teknisi tak mudah. NASA hanya memperbolehkan seorang menjadi teknisi jika telah mengikuti kelas lanjutan di Sekolah Tinggi Hampton, Sekolah yang hanya terbuka untuk kulit putih saja.

Mary mengajukan petisi pada hakim untuk membuka kelas bagi kulit berwarna. Kegigihannya tak sia-sia, Hakim memutuskan Mary menjadi perempuan pertama kulit berwarna yang dapat mengikuti kelas di Sekolah Tinggi Hampton.  Kecemerlangan Mary berhasil menembus dinding tebal diskriminatif NASA.

Selain Katherine, Dorothy dan Mary, ada sekelompok perempuan matematikawan kulit berwarna yang bekerja di laboratorium komputasi NASA. Sebelum memasuki era komputer, peran para puan ini sangat penting.

Dengan cara manual mereka mengerjakan apa yang dibutuhkan NASA. Sayangnya, rasisme membuat kerja para puan ini menjadi tak terlihat. Mereka harus bekerja dalam ruang yang senyap.

Perlakuan diskriminatif bagi para pekerja kulit berwarna di NASA mengukuhkan bahwa tindakan rasisme sama sekali tidak beradab. Pekerja kulit berwarna dibayar dengan upah yang rendah, jauh di bawah para pekerja kulit putih.

Selain itu, mereka di tempatkan di Gedung yang berbeda, lokasinya jauh dari Gedung utama pusat kegiatan NASA. Buruknya Fasilitas toilet, peralatan makan dan minum untuk kulit berwarna, menggambarkan rasisme benar-benar tidak termaafkan.

Melalui Katherine Johnson, Dorothy Vaugan, dan Mary Jackson, Hidden Figures cukup berhasil memberi gambaran kehidupan masyarakat kulit berwarna di masa perang dingin Amerika dan Uni Soviet. Selain itu film ini mengambil peran penting dalam mengenalkan sosok perempuan hebat di balik kerja-kerja NASA yang seringkali diidentikan dengan hasil kerja laki-laki. Dinding angkuh dunia teknologi yang seringkali bias gender berhasil dirobohkan oleh ketiganya.   

Dalam mengenang jasa Katherine Johnson, pada 22 September 2017 NASA membuka “The Katherine G Johnson Computational Research Facility” di Hampton, Virginia. NASA pun mengganti nama Fasilitas Verifikasi dan Validasi Independen, di Fairmont, Virginia Barat, menjadi Katherine Johnson Independent Verification and Validation Facility pada 22 Februari 2019.

Lima puluh tahun telah berlalu sejak perang teknologi negara-negara raksasa tersebut. Kini, perjalanan ke luar angkasa bukan hanya milik astronaut. Katherine, Dorothy dan Mary menjadi pengingat bahwa dalam setiap perjalanan selalu ada yang berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s