Dalam bukunya berjudul Budaya Massa, Agama, Wanita (2013), Veven Sp. Wardhana mengatakan bahwa “… film tidak sebatas sebagai ekspresi artistik, atau ekspresi estetika, melainkan wahana dan wacana bagi suatu makna, atau gagasan, ide, ideologi, atau pendapat berkait topik dan tema yang dikemukakan.”

*mengandung spoiler*

Oleh : Yoga Palwaguna

Dalam film The Window yang rilis tahun 2016, Nurman Hakim berhasil menjadikan film sebagai media untuk menyampaikan pandangan-pandangannya tentang sebuah topik, dalam hal ini patriarki. Pilihan-pilihan artistik yang ia buat dalam mengolah film ini, dari pewarnaan, sudut kamera, pembentukan adegan, hingga musik latar, dengan efektif “berbicara” pada penonton. The Windows menunjukkan kekuatan film sebagai sebuah media visual di mana cerita disampaikan melalui gambar.

Film ini bercerita tentang relasi antaranggota sebuah keluarga yang terdiri dari satu orang laki-laki dalam peran bapak/suami, serta tiga orang perempuan dalam peran ibu dan sepasang kakak beradik. Dari adegan-adegan di awal film yang menunjukkan keseharian si anak bungsu bernama Dewi, diperankan oleh Titi Rajo Bintang, kita tahu bahwa ia sudah bertahun-tahun hidup jauh dari keluarganya dan sepertinya tak punya niatan untuk pulang. Diperlukan sebuah kiriman berisi potongan artikel mencurigakan tentang keluarganya, baru ia bersedia kembali ke rumah masa kecilnya.

Artikel itu berisi keterangan dari ibunya yang menyatakan bahwa Dee (diperankan oleh Eka Nusa Pertiwi), kakak Dewi yang tak punya suami, hamil tanpa disetubuhi laki-laki, mirip kisah perawan suci Maria yang mengandung Yesus. Pembaca artikel itu mungkin akan menganggap kisah tadi sebagai sebuah mukjizat di tengah dunia modern yang makin lupa pada agama. Cara Tuhan menunjukkan betapa dia masih punya kuasa. Namun bagi Dewi, hal itu jelas berarti masalah. Telah terjadi sesuatu di rumah. Sesuatu yang buruk.

Dewi tidak percaya pada keajaiban, mukjizat atau apapun namanya. Satu-satunya penjelasan masuk akal dalam benak Dewi untuk kehamilan kakaknya adalah bahwa Dee telah disetubuhi. Bagi Dewi, dengan kondisi Dee yang mengalami keterbelakangan mental, itu juga berarti Dee disetubuhi secara paksa, tanpa persetujuannya sendiri. Diperkosa. Maka selama di rumah, ia datangi rumah-rumah tetangganya. Berbekal pengalamannya sebagai seorang freelancer bidang survei selama di Jakarta, ia bertanya pada para tetangga, pernahkah melihat laki-laki masuk ke rumahnya?

Selagi meceritakan usaha Dewi menemukan siapa penjahat yang telah melecehkan kakaknya, tersingkap pula hubungan Dewi dengan keluarganya yang lain. Begitu pula kejadian-kejadian yang pernah dialami oleh Dewi kecil, sebelum ia dikirim ibunya pergi ke Jakarta dengan tergesa-gesa, demi menghindarkannya dari bahaya.

Dalam adegan-adegan yang dirancang oleh Nurman Hakim, penonton bisa dengan jelas membaca relasi itu, juga perasaan karakter-karakternya.

Ketika pertama kali sampai di rumah, langkah Dewi terhenti seraya pandangan matanya terpaku memerhatikan sebuah jendela. Dalam bingkai jendela itu terdapat gambar berwarna cerah yang begitu kontras dengan dinding rumahnya. Kalau saya tidak salah ingat, gambar pertama yang muncul adalah Menara Eiffel. Kali berikutnya adalah Menara Pisa, lalu Tembok Raksasa China (mohon maaf jika saya gagal mengingat detail film yang saya tonton kira-kira setengah tahun yang lalu itu). Kemudian diketahui bahwa gambar-gambar dengan warna ngejreng itu adalah gambar pada spanduk-spanduk milik tetangga yang sedang digantung di jemuran.

Gambar-gambar itu tidak hanya menunjukkan sebuah dunia yang dipenuhi warna-warni cerah, tetapi juga tempat-tempat yang jauh. Dewi harus menerima kenyataan bahwa ia berada pada sebuah rumah yang ruang-ruangnya muram dan terbatas selagi memandang gambar-gambar cerah yang berada di luar jendela, di luar rumahnya, di luar tempat tinggalnya. Cara Dewi memandang imaji yang ada di luar jendela memberitahu penonton betapa ia tidak betah tinggal di rumah.

Ada sebuah kursi di depan televisi yang menjadi tempat duduk ayah Dewi, Dharsono (diperankan oleh Landung Simatupang). Setiap hari sepulang kerja, ia duduk di sana, menonton dan meminum kopi bikinan sang istri, Sri (diperankan oleh Karlina Inawati). Begitu sang istri membawakan kopi, ia akan mencicipinya kemudian berkomentar. Apakah kopinya kurang manis, atau justru kemanisan. Sang Istri harus bolak-balik ke dapur jika rasa kopi yang ia buat belum sesuai selera suaminya.

Begitulah kebiasaan di rumah ini. Istri menyediakan keperluan suami. Istri menurut pada suami. Anak menggantung kemeja Bapak. Istri dan anak-anak duduk di belakang Bapak. Tidak boleh ada yang mempertanyakan sikap Bapak. Itulah sebabnya ketika Dewi bertanya, kenapa tidak simpan saja gulanya di depan Bapak biar Ibu gak perlu bolak-balik bikin kopi baru, sang Bapak mengamuk dan Ibu diam.

Bagi saya, jelas sekali pola interaksi dalam keluarga Dewi dibangun—atau mungkin lebih pas jika saya bilang terjebak—dalam kerangka patriarki. Ibu harus selalu bersikap lembut dan penurut, begitu pula anak-anak yang dua-duanya perempuan. Kontrol berada di tangan Bapak. Di rumah, ia harus menjadi sosok paling dominan. Hingga dengan berbagai cara ia berusaha supaya selalu terlihat kuat. Bahkan ketika di luar rumah ia sudah tak lagi punya pengaruh.

Bapak terus mengoceh tentang promosi yang ia dapatkan di tempat kerjanya, ketika sebetulnya ia dipindahkan ke tempat yang sepi. Di tempat ucapannya tak berarti komando bagi siapa-siapa dan sosoknya tak menimbulkan segan di mata siapa pun. Berterus terang pada keluarga akan mengancam citranya sebagai pemimpin, sebagai kepala keluarga. Maka, ia memilih bungkam. Ia terus berpura-pura menjadi raksasa di rumah, meski di luar ia tak lebih dari seekor kancil.

Ibu menyadarinya, memakluminya. Maka meski pun tahu kelemahan suami, ia memilih pura-pura percaya cerita bohongnya. Memberi ruang baginya untuk tetap merasa gagah di meja makan. Usaha yang dia lakukan untuk membantu suami dilakukan diam-diam, di belakang layar. Ia tak bilang pada suami bahwa ia telah datang menemui teman mendiang bapaknya yang adalah petinggi di tempat suaminya bekerja, demi menitipkan suaminya itu. Kalau sampai bilang suaminya pasti tersinggung. Yang kuat tak lagi kuat jika ternyata harus menerima bantuan dari yang lemah.

Pola relasi patriarki yang tidak sehat dalam keluarga itu melahirkan banyak masalah yang tidak terselesaikan. Bapak tidak mau terlihat lemah, Ibu tidak berani melawan, anak-anak tak boleh bersuara. Kritik dari Dewi dianggap sebagai pembangkangan terlarang, bukan koreksi untuk membuat hubungan dalam keluarga menjadi lebih baik. Kesalahpahaman dibiarkan menumpuk hingga membusuk dan melahirkan penyakit. Penyakit yang pada akhirnya menggerogoti kepercayaan satu sama lain. Penyakit yang membuat keluarga Dewi berada di ambang kehancuran.

Tetapi dalam patriarki yang tidak sehat, sejatinya bukan cuma perempuan yang jadi korban. Ada adegan yang diulang sebanyak dua kali, menggambarkan dengan jelas betapa lelaki itu ternyata melukai dirinya sendiri di balik sikap gagah dan otoriter yang selalu ia tunjukkan. Adegan itu membuat saya paham bahwa film ini juga bercerita tentang toxic masculinity. Standar maskulinitas sesat yang menuntut laki-laki untuk selalu terlihat kuat membuat laki-laki dalam keluarga ini kehilangan kesempatan untuk menjadi manusia yang bisa merasa sedih, lemah, dan kecil.

Kebencian, kecurigaan, kemarahan, ketidakberdayaan, dan emosi-emosi dalam film ini tidak dimunculkan dalam bentuk dialog yang gamblang. Melainkan melalui adegan-adegan, sudut kamera, komposisi cahaya, hingga posisi tiap tokoh. Itulah yang membuat saya merasa bahwa The Window adalah film yang visualnya bawel bercerita. Dari apa yang kita lihat saja, sudah banyak hal yang bisa kita simpulkan.

Hal tersebut menjadi layak untuk dibahas karena ada juga film-film yang membebankan penyampaian cerita dan/atau gagasannya pada narasi dan dialog, atau bahkan monolog para tokohnya. Pada film-film seperti itu biasanya kalimat-kalimat mutiara bertebaran. Jalan mudah untuk menyimpulkan suatu keadaan atau pemikiran tanpa perlu menjabarkannya ke dalam adegan.

The Window tidak seperti itu. Nurman Hakim murah hati menggunakan semiotik-semiotik visual yang tidak terlalu rumit untuk diartikan. Tentunya jika penonton memang akrab dengan isu yang diangkat dalam film ini. Toh, pada akhirnya bagaimana sebuah adegan dimaknai akan kembali lagi pada kacamata yang dikenakan oleh si penonton.

Yang menjadi kelemahan dari The Window bagi saya terletak pada ketimpangan fokus penggarapan. Bingkai cerita film ini adalah agenda Dewi untuk mencari tahu siapa pemerkosa kakaknya. Itulah yang membuat dia akhirnya pulang ke rumahnya di Jogja dari Jakarta. Ketidakharmonisan dalam keluarga Dewi telah ada sejak lama, tapi agenda Dewi-lah yang kemudian melahirkan babak cerita dalam film ini.

Film ini terlalu fokus pada hubungan internal antara Dewi dan ketiga anggota keluarganya yang lain. Proses pencarian si pemerkosa hanya diperlihatkan dengan setengah hati. Ketidaksukaan Dewi yang berakar pada kejadian di masa lalu pun membuat proses investigasi menjadi begitu bias. Bahkan ketika si pemerkosa akhirnya terungkap di akhir cerita, saya merasa tidak terlalu peduli lagi. Pengungkapan itu bahkan terasa seperti tempelan belaka. Tambahan setelah cerita utamanya selesai. Selain itu, nasib si pemerkosa yang kemudian menjadi penutup film juga terkesan menggunakan penyelesaian bermotif deus ex machina.

Jika saja kedua unsur tadi digarap dengan sama kuat, tentu The Window bisa jadi film yang jauh lebih menyenangkan untuk ditonton. Selebihnya, The Window adalah film yang berhasil dengan lancar “membicarakan” gagasannya mengenai topik patriarki melalui visual yang “bawel”.

Saya yakin film ini bisa berkontribusi memantik diskusi-diskusi tentang ketidakadilan yang lahir dari patriarki. Sehingga dengan demikian berkontribusi juga pada penyebaran kesadaran akan pentingnya perjuangan kesetaraan gender.

The Window adalah film yang sangat politis, jika Anda menonton hanya untuk mendapatkan hiburan, sebaiknya pilih judul lain saja. The Window tidak akan membuat Anda terhibur, ia akan membuat Anda resah.

Data Film

Judul: The Window

Rilis: 12 Mei 2016

Sutradara: Nurman Hakim

Produser: Nurman Hakim, Nan Achnas, Muhamad Rochadi

Durasi: 122 menit

Pemeran: Titi Rajo Bintang, Yoga Pratama, Eka Nusa Pertiwi, Landung Simatupang, Karlina Inawati