Dyah Murwaningrum,

Disampaikan dalam Tukar Kabar Seni untuk Sahabat Seni Nusantara, pada Jumat 7 Agustus 2020

Banyak hal yang sebenarnya sangat perlu dibahas baik yang sifatnya aktual maupun prediksi, namun saya membatasi pada seni pertunjukan yang dipentaskan secara virtual di masa pandemi ini saja. Menganalogikan pada pengalaman saya saat mengikuti wisata virtual ke Danau Poso, sensasi saat melihat danau rasanya berbeda. Bukan hasrat berenang namun imajinasi lain yang sebenarnya muncul. Jadi saya kira seni pertunjukan bisa dianalogikan dengan pengalaman wisata virtual ini.

Sebagian besar orang sudah menggenggam dunia, segala info dan tontonan di genggamannya. Seni begitu tampak serupa di dalam kotak layar datar yang bisa disentuh namun tidak bisa dijabat ini. Rupa, kriya, tari, teater semua rata di layar datar.

KABAR

Banyak yang hadir dalam kotak datar virtual ini. Akhir-akhir ini (sejak pandemi berlangsung) banyak muncul ruang berpikir tentunya dengan beragam tujuan, saling support, kerjasama, refleksi dan lain sebagainya. Jamming virtual tanpa batas usia dan wilayah, semua terbuka. Saweran, dimana seni berkontribusi sebagai media pengumpulan dana dan donasi untuk kepentingan masyarakat luas, peran seni justru makin nyata. Ruang pameran seni rupa virtual, sudah mulai marak di kampus-kampus.

Yang menarik bagi saya adalah kelompok seni yang mulai mengunggah dokumentasi seninya di masa pandemi ini. Ini sangat menarik, meski masih banyak cacat karena semula memang tidak ditujukan untuk pertunjukan.

Tidak kalah menarik juga saat saya mendapati institusi seni sudah bersedia melakukan TA virtual, meski awalnya terasa buntu dan sulit. Masih menjadi PR untuk menyeimbangkan kemampuan multimedia yang memadai di setiap institusi seni khususnya seni tradisi. Pertunjukan TA tidak live, karena kita masih sangat terkendala dengan latency dan buffer, jeda antara analog dan digital. Namun kabar-kabar ini cukup menggembirakan.

Bagian lain, ada juga seniman yang benar-benar lumpuh. Mereka adalah pelaku seni tradisi di desa. Sanggar, latihan tetap jalan, tapi pentas nol. Sedangkan mereka sama sekali tidak memahami teknologi, juga enggan. Mungkin memang ada filosofi yang berbeda, dan kita yang merasa lebih modern saya kira tidak perlu memaksakan.

Saat finansial mereka terguncang tentu seni bukan prioritas, apalagi seniman tradisi tidak secara utuh bekerja dari seni. Siangnya tukang batu, malamnya nabeuh, siang jual nasi malamnya ngelengger.

Opini

Niat baik untuk menghidupkan seni tetap harus ada, dan diperlukan kesadaran bahwa menghidupkan seni harus menghidupi senimannya. Karena seniman adalah roda, mesin dan roh seni. Syukurnya, fasilitas pemerintah sudah berpengaruh tapi apakah sudah bisa menghidupi? Tentu daya pasar harus dikondisikan juga. Menggerakkan ritme pasar juga tidak mudah. Selain seniman, apresiator pun harusnya difasilitasi

Misalnya saja, fasilitas pentas dari rumah lalu penonton bayar tiket. Apakah penonton bisa menikmati dengan baik? Apakah audionya jernih? Visualnya tidak tersendat? Sementara internet kita tidak sebaik negara lain. 

Ada dua hal dari kabar-kabar di atas yang ingin saya tebalkan, mungkin lebih bersifat prediksi dan persiapan kita, yaitu teknologi yang konon membebaskan kita dari ruang dan waktu. Tapi ruang yang berbeda antara penampil dan audiencenya bisa menciptakan distraksi, fokus yang tidak sepenuh saat kita pergi ke gedung pertunjukan. Audience  di rumah bersama segunung cucian, air menjerit yang hampir mendidih, maka diperlukan upaya agar audience memiliki kesediaan untuk fokus. (tentunya memang ada seni yang bisa dinikmati sambil lalu)

Perlahan namun pasti, kemasan seni akan dituntut bukan hanya sekedar seperti dokumentasi biasa (asal ada). Hal-hal yang menyangkut kenyamanan indera perlu digarap benar-benar, terlebih indera kita akan masih dipakai untuk jangka panjang. Artinya jangan sampai pertunjukan virtual dibuat ala kadarnya, baik secara kualitas auditif maupun visual. Kesadaran pada kesehatan indera jangka panjang juga perlu dipertimbangkan. Pertunjukan virtual yang inklusif perlu diusahakan. Pertunjukan yang ramah bagi indera anak-anak maupun penyandang disabilitas. Dalam hal ini, pemerintah bisa ambil bagian untuk penyediaan tools, suplai pengetahuan dan keahlian dalam penggunaan tools, dan kecepatan internet yang setara dengan negara lain.

Yang ke dua adalah dokumentasi. Dokumentasi bisa digarap lebih estetis, artistik, disesuaikan dengan emosi dan roh pertunjukannya. Selanjutnya dokumentasi ini mungkin akan menjadi aset. Maka diperlukan pendokumentasian yang diatur, misalnya siapa yang berhak memegang, menggarap dokumentasi penuh sebuah pertunjukan, siapa saja yang berhak menayangkannya, ke mana saja dokumentasi ini akan bisa didistribusikan.

Kita sudah bisa dibilang gagal dengan pengarsipan dokumen2, teks-teks sejarah, benda-benda bersejarah tapi kita belum terlambat jika kita memulai pengarsipan audio visual dari hari ini. Selama ini perpustakaan pandang dengar/ audio visual masih minim dan biasanya hanya menempel pada perpustakaan teks. Mungkin suatu hari ada platform perpustakaan audio visual nasional yang membuat dokumentasi kita menjadi berguna.

Iklan