Kabar Dari Solo, Tentang Diskusi Mengenang Bagong Kassudiardja

Oleh Ega Fausta

Jumat, 6 April 2018. Malam di kota Solo dengan suhu udara sekitar 25 derajat celcius bisa dikatakan cukup sejuk, jika dibandingkan dengan malam–malam biasanya. “Bincang-Bincang Proses Kreatif Bagong Kussudiardja” dalam tafsir Djaduk Ferianto, dilangsungkan malam itu. Di sebuah titik tengah kota Solo, Banjarsari, para penulis, seniman, budayawan, kritikus dan mahasiswa seni berkumpul dan berdiskusi.

Pada kesempatan itu, kami turut serta berimajinasi seraya mendengarkan kisah dari beberapa peristiwa di balik kesuksesan dan pencapaian yang luar biasa hingga nama Bagong Kussudiardja populer di kalangan para seniman maupun masyarakat umum. Bagong tak hanya dikenal sebagai penari namun juga sebagai pelukis maupun koreografer.

Djaduk Ferianto yang merupakan seniman sekaligus anak biologis Bagong Kussudiardja membeberkan kisah–kisah pribadi yang lebih intim dan agaknya belum diketahui banyak orang secara naratif. Dukungan foto-foto dokumentasi pribadi yang cukup lengkap, memperjelas deskripsinya mengenai sosok sang ayah.

Mula–mula, perbincangan diawali dengan menampilkan sebuah foto berlatar hitam putih yang memperlihatkan sosok Bagong Kussudiardja pada masa remajanya. Masa ketika ia mulai berani menghidupi dunianya sendiri yaitu dunia seni lukis dan seni tari.

Perjalanan hidup Bagong Kussudiardja yang dipaparkan ternyata tidak seperti perjalanan sebutir peluru yang bisa distel dan diarahkan. Peluru yang melesat keluar lewat lubang laras senapan, sampai menuju ke arah titik sasaran yang dikehendaki. Definisi hidupnya lebih mendekati pada proses belajar dan eksplorasi yang tiada henti. Meskipun, tak dapat dipungkiri kesan keturunan ningrat yang melekat membuat orang–orang berspekulasi tentang bagaimana ia menjalani hidup.

Apakah ia merupakan sosok yang dimanja keadaan dan jauh dari sentuhan dunia luar? Dunia yang tak bisa masuk karena dibatasi oleh benteng – benteng angkuh yang mengisolasi tempat tinggalnya sendiri.

Mungkin masih banyak orang yang belum tahu bahwa ditengah gelar ningrat yang melekat, Bagong dan keluarga punsempat didekap kemiskinan. Hukuman kuranthil yang dijatuhkan pihak keraton, menjadikannya terhimpit ekonomi. Bagong merupakan cucu dari GPH Djoeminah, seorang putra mahkota yang dipersiapkan menjadi penganti HBVII namun justru memilih keluar dari keraton. Kuranthil merupakan hukuman dibuang, disingkirkan dari sebuah kalangan dan tidak diberi hak dalam bidang ekonomi. Desakkan kemiskinan itulah yang menjadi awal dari pemberontakan imajinasi dan suara hati Bagong. Ia bertekad hidup dan menghidupi dunia seni lukis yang ia cintai.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, intro diskusi yang disampaikan pembicara seputar latar belakang kehidupan Bagong Kussudiardja cukup berhasil menghidupkan suasana diskusi yang berkualitas namun tetap terasa ringan. Kisah naratif disampaikan dalam diskusi secara runtut mengerucut pada kiprah Bagong Kussudiardja dalam dunia tari.

Ketertarikan Bagong terhadap dunia tari, diawali oleh rutinitasnya yang selalu suntuk mencermati sang kakak Kuswadji Kasindrasusanto setiap kali menari Hingga sampai pada saat ia memberanikan diri meminta untuk diajari menari dan akhirnya diberi kesempatan untuk mempelajarinya dengan sepenuh hati.

Semakin malam, selasar rumah Banjarsari semakin terasa lebih hangat dari angka suhunya. Selain karena tempat–tempat duduk yang tersedia semakin terisi penuh, pembicara mulai memasuki bahasan yang paling menarik yaitu tentang bagaimana konstruksi pemikiran Bagong Kussudiardja tentang tradisi dalam kesenian.

Bagong memandang tradisi sebagai sesuatu yang lebih cair. Yaitu sesuatu yang bukan lagi hanya sebagai kamar yang sumpeg tetapi justru mulai ditawar sebagai kamar yang memungkinkan jendela–jendelanya terbuka lebar agar dapat bersentuhan dengan datangnya angin perkembangan zaman.

Di balik karya-karyanya yang mengesankan, Bagong Kussudiardja selalu menyertakan gagasan–gagasan serta kepekaan dalam membaca perkembangan zaman dengan tidak melupakan dimana tempat ia berpijak. Kreativitasnya tumbuh subur karena ditopang akar budaya yaitu budaya Jawa yang selama ini menjadi ruh yang tak pernah lepas dari raganya walau sempat kehilangan identitasnya. Bagong juga pernah mengalami masa terlalu bangga dengan segala sesuatu yang ia dapatkan di Amerika.

Menapaki jejak hidup Bagong Kussudiardja melalui karya-karya dan cara pandangnya, kemudian membandingkannya dengan kehidupan masa kini merupakan cara terbaik untuk mengkaji diri seraya berintrospeksi. Tanpa sadar, kita seringkali menjadi mereka yang menggaungkan kata tradisi ditengah-tengah banyak inovasi, tanpa memaknai essensi dan mencoba memandangnya dari berbagai sisi.

Kita seringkali menjadi orang-orang yang tetap merasa utuh harga diri, tanpa ide-ide dan karya-karya yang istimewa. Kita seringkali buta oleh rasa curiga pada mereka – mereka yang menyuarakan pembaharuan sebagai konseksuensi dari perkembangan zaman dan dinamisme kebudayaan yang tak terhindarkan. (Ega Fausta)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s