Iblis Tak Pernah Mati

Oleh : Venny Tania

Resensi buku karya Seno Gumira Ajidarma

Iblis Tak Pernah Mati (karena Manusia Memeliharanya)

Iblis, ia sering menjadi kambing hitam untuk berbagai kerusakan dalam kehidupan manusia. Namun manusialah yang melestarikan eksistensi iblis dalam peradabannya.

Ketika era 90-an, kemiskinan, kesenjangan sosial, penangkapan, kegelisahan terepresi, demonstrasi, hingga kerusuhan mewarnai Jakarta. ‘Iblis Tak Pernah Mati’ karya Seni Gumira Ajidarma menuliskan peristiwa-peristiwa genting periode tersebut. Kesedihan dan kesuraman menjadi rasa utama. Sang Iblis disebut sekilas di salah satu cerpen saja. Keiblisan manusia yang justru menghuni semua cerita.

Cerpen ‘Anak-anak Langit’ misalnya, menggunakan gaya cerita surealis menghadirkan anak jalanan dalam kemiskinan. Penderitaan dan neraka kehidupan terlukiskan dari penampilan keseharian mereka. “Di dalam gorong-gorong yang gelap, suram, dan berbau bacin, anak-anak yang menunggu untuk keluar duduk berjajar-jajar menanti giliran. Mereka memang dilahirkan supaya merasa lapar, supaya menjadi miskin, supaya menjadi bukti bahwa kemiskinan itu ada.

Kemuraman yang menyesakkan ini senafas dengan film Daun di Atas Bantal (1998) karya Garin Nugroho, atau lagu Orang-orang Kalah (Kantata Takwa, 1990) dari era yang sama.

‘Karnaval’ menuturkan cerita anak yang terpisah dari orang tuanya di tengah keramaian rombongan karnaval. Ketika digandeng oleh orang tua, rasa aman selalu memboyong. Ketika lepas, langkah terasa lebih asing, terjal, dan kejam. Anak-anak hilang terus berkelana mengikuti gemerlap karnaval melewati kota besar, padang pasir, hingga ladang pembantaian. Tak ada yang bisa melawan karnaval nasib membawa.

Gaya bercerita Seno beralih jenaka saat menyelami elit politik dalam cerpen ‘Paman Gober’, yang merupakan satir mengenai sang penguasa. Gober (aslinya Scrooge McDuck), merupakan pemilik harta yang kikir dalam cerita Disney. “Meski mata telah rabun dan bulu rontok, sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tidak tergantikan.” Penggalan kalimat ini, mengingatkan bagaimana saat reformasi terjadi, banyak orang berpikir bahwa pergantian kepala negara adalah sebuah tragedi, kehilangan besar. Apalagi reformasi tidak pernah mengembalikan harga menjadi sama dengan sebelumnya. Sisi-sisi lain sebuah rezim hanya bisa diterima oleh sebagian orang saja.

Namun masanya perubahan memang harus datang. Korupsi yang menjadi urat nadi politik era tersebut telah mencapai puncak. “Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Setiap kali penduduk kota Bebek membuka koran, yang ingin mereka ketahui cuma satu: Apakah hari ini Paman Gober sudah mati.”

Ketika ketidakadilan dan kekerasan teraduk, petaka ikut dimuntahkan, korban berjatuhan. Jiwa terkuat dari kumcer ini dituangkan dalam catatan aparat keamanan, wartawan, dan korban. Mereka dipertemukan nasib dalam ‘Clara’ dan ‘Jakarta Suatu Ketika’.

Sari si anak orang kaya dan Bagyo si pesuruh bersahabat dalam ‘Jakarta Suatu Ketika’. Sari biasa menyuruh Bagyo mengambil es krim sendiri dari kulkas. Ketika Bagyo kepergok mengambil es krim oleh ayah Sari, ia dipecat, lantas menggelandang. Saat penjarahan rumah Sari terjadi, Bagyo datang mengambl es krim lalu menghilang. Boneka sari dibakar oleh penjarah. Apakah salah jika Sari lebih memperhatikan bonekanya dibanding penjarah? Pertanyaan ini tersirat di dalamnya.

Sari dan Bagyo hanya satu dari ribuan kisah berkelindan dalam rangkaian gambar di lensa kamera wartawan peliput kerusuhan. Di antara gedung terbakar, massa berlarian, tangisan, kasur, pakaian, dan makanan dijarah, barang elektronik digotong; Api menjilat-jilat. Api dan asap adalah pemeran utama, warna Jakarta Mei 1998.

Api merah menghanguskan Jakarta. Kebencian terluapkan berhari-hari. Api dan dendam melalap semua. Clara ialah salah satu korban. Perempuan Tionghoa berambut merah yang tak mengenal bahasa Mandarin, terjebak dalam kerusuhan terpanas Jakarta. Ia korban pemerkosaan dalam kerusuhan. Namun citra buruk aparat yang tidak berpihak pada korban, dikuatkan ketika petugas polisi sama sekali tidak bersimpati padanya. Polisi malah menginterogasi, meminta bukti, dan mencecarnya.

Rambut merah Clara membuat petugas tak mempercayainya, karena bertahun-tahun dicekoki pikiran bahwa orang-orang merah itu berbahaya. Merah seolah menghapus perjuangan Clara menyelamatkan para buruh perusahaannya yang hampir bangkrut akibat krisis moneter. Meski menyimpan paspor di dompet, Clara memilih mengendarai BMWnya menuju rumah, bukan bandara. Merah adalah pedihnya luka hati Clara yang mobilnya dicegat, keluarganya dihabisi. Dengan selembar kain yang diberikan seorang ibu yang kasihan, Clara ke kantor polisi.

Ironi digunakan untuk menutup cerita. Sudah tak dipercaya dan tak mendapat pembelaan, petugas tersebut menyuruhnya menginap. “Kamu tidur saja disitu. Di luar masih rusuh, toko-toko dibakar dan banyak perempuan Cina diperkosa. Sedangkan pos polisi dimana-mana dibakar.”

Setelah menusuk perasaan, si aparat belum selesai merendahkannya. Meski demikian, aparat ini memiliki rasa humor gelap yang jelas. Ia menyadari kebrengsekannya. Dalam cahaya lampu, lekuk tubuhnya tampak menerawang. Rasanya aku juga ingin memperkosanya. Sudah kubilang tadi, barangkali aku seorang anjing, barangkali aku seorang babi, tapi aku mengenakan seragam. Masalahnya: menurut ilmu hewan, katanya binatang pun tidak pernah memperkosa.

Sebuah narasi menarik penuh empati, mengenai warga minoritas yang selalu menjadi sasaran kekacauan politik, hadir di ‘Eksodus’. “Para pendatang, kembalilah ke tempat asal kalian,” diucapkan oleh mereka yang merasa menjadi pribumi. Sedangkan di tempat asal buyutnya, mereka juga tidak mendapat pengakuan. Persoalan sentimen rasial dan imigran menyisakan krisis identitas pada korban-korbannya. “Orang tua kalian telah pergi dari sini. Mereka sudah berniat pergi untuk tidak kembali. Kami tidak mengenal kalian. Saudara lahir di perantauan, sudah beranak pinak dan mengucapkan bahasa yang lain.”

Masih ada beberapa kisah yang cukup ringan, seperti Partai Pengemis, adaptasi komik Walet Merah (karya Hans Jaladara) dan ‘Negeri Senja’ (dikembangkan menjadi novel terpisah). ‘Taksi Blues’ menghadirkan ketegangan supir taksi yang terjebak di tengah penumpang yang membicarakan penculikan dan pembunuhan.

Hitam, merah, lapar, peluh, miskin, kaya, semuanya bagian dari reformasi. Sebagai penulis, Seno Gumira mampu mengolah dialog, monolog, reportase. puisi, hingga lirik lagu menjadi cerita yang hidup, melantun tenang namun konsisten menyisipkan emosi yang mendalam. Bagian pahit ini bagaimanapun adalah identitas Indonesia. Reformasi melahirkan ratapan, namun pengakuan dan maaf dapat meringankan luka. Manusia yang menghidupkan Iblis, maka ia yang harus memeranginya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s