11 Karya Penulis Laki-Laki yang Wajib di Baca

Buku Rena Asyari
Dok. Pribadi, koleksi perpustakaan Seratpena

Oleh : Rena Asyari

Minggu lalu dalam rangka hari perempuan internasional, saya menulis tentang penulis perempuan dan buah Pikirnya dengan harapan karya-karya sastra penulis perempuan Indonesia semakin diminati di tengah gemparan novel-novel pop, buku motivasi dan buku religi yang laku keras. Rasanya tak adil jika saya hanya menulis tentang karya sastra dari penulis perempuan. Saya pun tergerak untuk mengenalkan karya-karya penulis laki-laki yang saya yakin pasti semua sudah tahu. Atau barangkali ada yang belum tahu? Tulisan saya tentu bukan ditujukan untuk para pembaca maniak penggila sastra, tetapi saya merangkul pembaca pemula untuk mulai berburu karya-karya berkualitas. Kini saatnya anda berburu karyanya, sebelum hilang di rak toko buku kesayangan anda. Karena pernah ada masanya semua buku karya penulis berkualitas bagus lenyap dan yang tertinggal hanya novel-novel kosong tanpa isi.

Ahmad Tohari – Ronggeng Dukuh Paruk

Saya pantas menempatkan karya Ahmad Tohari di urutan pertama, karena Ronggeng Dukuh Paruk lah yang telah membuat saya jatuh cinta pada sastra pertama kali. Tohari dengan lihai menaburkan kata-kata untuk menuturkan sebuah peristiwa sejarah. Pedesaan, kemiskinan, kebodohan seringkali dipilihnya untuk menjadi latar belakang cerita. Ronggeng Dukuh Paruk yang sudah diterjemahkan dalam lima bahasa membuat eksistensi Tohari semakin diakui sebagai sastrawan Indonesia. Srintil dan Rasus adalah tokoh dari sedikit tokoh karya sastra yang bisa diingat oleh pembacanya.

 

Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

Namanya besar, sangat besar, dan itu pantas. Bersyukurlah Indonesia pernah punya seorang Pramoedya yang lihai mendokumentasikan sejarah melalui tulisan. Pram hingga saat ini menjadi satu-satunya penulis Indonesia yang namanya berkali-kali menjadi kandidat peraih penghargaan nobel sastra. Bumi Manusia bukan hanya sekedar roman, tetapi dia hidup dari waktu ke waktu, tokoh-tokohnya yang fenomenal seperti Nyai Ontosoroh, Minke, Annelis menjadi sumber inspirasi untuk banyak pergerakan. Tak terhitung berapa banyak pagelaran yang telah dipentaskan dengan mangadaptasi roman Bumi Manusia. Baru-baru ini Bumi Manusia pun hadir dalam Bunga Penutup Abad, sebuah pementasan yang dibintangi Reza Rahadian, Happy Salma, dan Chelsea Islan. Saya pun pernah mengulas pementasan bumi manusia di sini.

Dalam setiap karyanya Pram seperti sengaja menyisakan banyak pertanyaan bagi pembaca. Pembaca dikuliti hingga diaduk emosinya. Ada quote yang terus saya ingat dari bang Anton pemilik perpustakaan Batu Api di Jatinangor “Jangan pernah mengaku orang Indonesia jika belum pernah membaca karya Pram”, dan ini saya amini. Hal yang cukup membahagiakan, karya Pram cetak ulang dan laris di toko buku, ini seperti sebuah harapan bahwa bangsa Indonesia sedikit demi sedikit mulai menghargai dirinya dan mengakui rentetan sejarah.

 

Para Priyayi – Umar Kayam

Anda Jawa, ataupun anda Sunda? Karya yang satu ini tak mengenal etnis, meski mengambil latar belakang Jawa yang sangat kental. Para Priyayi sangat enak dinikmati sembari minum teh hangat di sore hari. Umar Kayam meramu tulisannya dengan pas. Sedikit humor, membeberkan fakta sejarah, menghadirkan realita kehidupan dan menggiring pembacanya untuk menjadi bagian dari tokoh-tokoh tersebut.

Umar Kayam piawai memainkan emosional pembacanya. Kumpulan cerita Lebaran di Karet, di Karet dan seribu kunang-kunang di Manhattan sangat lekat dalam ingatan. Pembaca tak akan mudah lupa. Setidaknya satu saja dari banyak karya Umar Kayam harus kita baca.

 

Kembang Jepun – Remy Sylado

Remy adalah penulis yang sangat produktif. Karya-karya mengalir terus menerus. Tak mengenal musim. Karyanya yang nge-pop dan beberapanya malah dibawakan dengan gaya nyeleneh membuat buku-bukunya banyak diminati. Yang paling saya suka salah satunya adalah Kembang Jepun. Membaca Kembang Jepun harus siap untuk merinding dan meringis menahan ngilu.

Uniknya, Remy bisa menulis buku dengan latar belakang tempat yang selalu berbeda. Di luar negeri juga kota-kota di Indonesia. Remy fasih menjelaskan tempat-tempat tersebut dengan detail. Salah satu karya Remy yang paling tebal adalah hotel prodeo tebalnya 1016 halaman. Saya pun belum membacanya, terasa mengerikan. Hotel prodeo jadi ajang guyonan di antara pembaca, semisal “kalau gak nurut kutimpuk nih sama Hotel Prodeo”.

 

Lelaki Harimau – Eka Kurniawan

Penulis muda ini di gadang-gadang sebagai pengganti Pram. Cerita yang dibangunnya sangat kuat. Gaya berceritanya yang berbeda dari kebanyakan penulis lainnya membuat novel Lelaki Harimau masuk dalam nominasi Man Booker Prize 2016 penghargaan sastra bergengsi. Awalnya ketika saya membacanya novel ini tak masuk akal. Seekor Harimau dalam tubuh seorang pemuda. Mistis-magis-realis. Pembaca akan terpikat dengan ceritanya, penasaran dan membacanya sampai tamat.

Novelnya yang berjudul Cantik itu Luka  berhasil menjadi bahan perbincangan di ranah sastra. Eka cukup menginspirasi anak-anak muda untuk berkarya.

 

Abracadabra – Danarto

Abracadabra adalah judul untuk novel godlob yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Membaca karya Danarto kita diajak untuk memasuki absurditas-surealis-magis. Pembaca seperti bermain dalam labirin. Berputar, berpikir, bolak balik hingga mencapai maksudnya. Danarto pun lihai membicarakan tentang kematian. Baginya kematian adalah permainan dan hidup setelah meninggal tentunya hidup di taman bermain. Karya Danarto tak banyak, tetapi meski sedikit semuanya berkualitas dan berkelas. Bacalah.

Orang-Orang Bloomington – Budi Darma

Saya pernah menuliskan review Orang-orang Bloomington di sini. Budi Darma adalah satu dari sedikit sastrawan Indonesia yang karya-karyanya harus dibaca. Beruntung Orang-orang Bloomington di cetak ulang belakangan ini. Budi Darma cerdas meramu tulisan, sehingga hal-hal yang tak pernah kita bayangkan bisa menjadi sajian yang menarik. Melalui Orang-orang Bloomington kita bisa belajar tentang keseharian dan segala pernak-perniknya. Tentang ketakutan yang berlebihan sehingga proteksi yang berlebihan pula. Orang-orang yang terlihat baik ternyata justru sangat jahat. Nenek-nenek lansia yang berlaku kriminal. Anak kecil tak berdosa yang disangka perusak.

 

Burung-Burung Manyar – Y.B Mangunwijoyo

Romo Mangun tak pernah kehabisan cerita. Dalam Burung-burung Manyar Romo Mangun mengajak pembaca menjadi anak kecil, menyusuri peristiwa tentang masa-masa revolusi Indonesia. Segar, dan renyah. Pembaca akan dibawa mengalir, menyusuri kalimat demi kalimat tanpa bosan. Keberpihakan Romo Mangun pada rakyat kecil tergambar dari karyanya. Novel dan cerpennya tak lepas bicara dari konflik sosial, agama, dan budaya. Tak hanya dikenal sebagai sastrawan, Romo Mangun pun dikenal sebagai arsitek. Kali Code di Yogyakarta adalah salah satu karyanya yang terkenal.

 

Bila Malam Bertambah Malam – Putu Wijaya

Melalui Bila Malam Bertambah Malam Putu Wijaya mengajak pembaca untuk mengenal Bali, adat istiadat, budaya dan peristiwa perang puputan. Bali pulau eksotis yang menyimpan banyak rahasia dan Putu Wijaya membukakan rahasia itu melalui karya-karyanya. Bila Malam Bertambah Malam telah banyak diadaptasi untuk pementasan teater. Salah satunya saya pernah menuliskan di sini. Dalam sebuah pengantar dalam novelnya yang berjudul Stasiun, Romo Mangun mengaku sudah membuat 1000 cerpen, 40 novel, 40 lakon dan masih banyak esai, artikel, kolom, dan skenario. Dari sekian banyak karyanya, berapa yang sudah kita baca?

 

Dunia Sukab – Seno Gumira Ajidarma

Novel-novel Seno yang romantis hadir mengisi hari-hari remaja di tahun 90-an. Negeri Senja merupakan pelopor untuk Senja dijadikan kalimat puitis oleh banyak orang. Sukab dan Alina ceritanya sepanjang masa, belum selesai sampai sekarang. Senja yang dikerat dan dimasukkan dalam amplop mengukuhkan Seno sebagai penulis surealis. Tak hanya bermain-main dengan Sukab dan Alina, Seno mengajak pembaca melintasi ruang waktu lewat serial Nagabumi. Karya-karya Seno selalu segar.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s