Miss Granny (2014): Menertawakan Sekaligus Merenungkan Dunia Lansia-Bagian 1

Oleh : Venny Tania

“Saya tidak mau menjadi tua (karena orang-orang lanjut usia itu tidak tahu malu). Saya sudah berencana akan membunuh diri begitu usiaku lewat 30 tahun. Kenapa harus ngotot hidup sampai 70 atau 80 tahun?” Pernyataan yang mungkin akan terasa gegabah jika terdengar oleh masyarakat Indonesia, yang kebanyakan masih menabukan bunuh diri.

Namun, dalam film Miss Granny atau Susanghan Geunyeo (2014), sebuah adegan di bagian awal film, dalam ruangan kuliah sebuah kampus, dialog antara dosen Gerontologi, Ban Hyun-chul dengan mahasiswanya menyisakan kejutan sekaligus ironi. Di antara diskusi tentang kesan mereka terhadap orang lanjut usia, seorang mahasiswi melontarkan kalimat akan bunuh diri di usia tiga puluh tahun dengan ringan.

Film Miss Granny mengungkapkan stigma dan pola pikir masyarakat Korea mengenai orang lanjut usia dari berbagai generasi, termasuk dari para lansia itu sendiri. Negara yang konon memiliki angka bunuh diri sangat tinggi ini, masyarakatnya sangat memuja kemudaan dan menghindari penuaan.

Berbeda dengan di Indonesia, orang tua adalah raja dalam kebanyakan keluarga, dihormati dan didoakan, agar mereka juga mendoakan dan merestui anak-cucunya. Meski sebenarnya tidak banyak pilihan selain bergantung pada anak dan cucunya. Namun niat membunuh diri, terhalang oleh faktor optimisme dan kepercayaan religius bahwa bunuh diri adalah dosa besar.

Karakter utama film ini adalah seorang nenek berusia 70 tahun bernama Oh Mal Soon. Mal Soon tabiatnya keras, mulutnya cerewet dan tak memakai filter. Mal Soon yang kehilangan suaminya saat baru melahirkan pada tahun 1960-an, membesarkan anak seorang diri sampai putranya sukses menjadi dosen universitas ternama. Putra Mal Soon yang sangat dibanggakan itu adalah dosen Ban yang di awal film berdialog dengan mahasiswa tentang prasangka karena usia (ageism).

Mal Soon bekerja menjadi peracik minuman di kedai kopi (yang dibuka atas rekomendasi putranya pada pejabat setempat), bersama teman lama, mantan pelayan, sekaligus pengagum setianya. Mr. Park. Nenek yang hobi memakai payung ungu ini adalah sosok dominan yang sering mengintimasi menantunya. Ia contoh klasik mertua yang rajin mengritik menantu dalam segala hal, dan terang-terangan memanjakan cucu laki-lakinya.

Pada suatu hari, menantu Mal Soon yang sudah tak tahan dengan mulut pedas sang mertua mencoba membunuh diri. Untungnya ia selamat, namun peristiwa itu memancing perdebatan antara ayah dan kedua anaknya, mengenai apakah sebaiknya Mal Soon dikirim ke panti wreda saja. Mal Soon mengetahui perdebatan itu, dan di hari yang sama, seseorang yang pernah ia curangi bisnisnya di masa lalu, datang dan menuntut balas.

Dalam keadaan sedih, Mal Soon menemukan sebuah studio foto yang memajang foto idolanya saat muda, yaitu aktris Hollywood, Audrey Hepburn. Mal Soon berniat membuat pas foto untuk meja altar jika ia meninggal. Ia berdandan dan meminta sang fotografer yang baik hati mengambil gambar yang enak dipandang.

Keluar dari studio foto, Mal Soon digoda oleh beberapa remaja pria dalam bus. Disitulah ia menemukan wajah dan tubuhnya berubah menjadi dirinya yang berusia 20 tahun. Kaget sekaligus bingung, Mal Soon melarikan diri, membuat bingung keluarganya dan Mr. Park. Mal Soon muda kemudian ngekos di kamar kosong dalam rumah Mr. Park, menyamar sebagai nona bernama Oh Doo Ri, seorang muda yang paham dunia orang tua karena dibesarkan oleh neneknya. Cucu kesayangannya, Ban Ji Ha, terpesona dengan suara Doo Ri yang menyanyi dalam sebuah acara lansia, kemudian memintanya menjadi vokalis bandnya.

Seorang produser musik muda, Han Seung Woo, juga jatuh cinta pada suara Doo Ri dalam acara yang sama dan setelah melalui beberapa pertemuan, produser Han merekrut grup band Ji Ha dan Doo Ri untuk mengisi acara di televisi nasional. Band Ji Ha dan Doo Ri sukses merebut perhatian baik dalam penampilan langsung maupun televisi, dengan ciri khas unik mereka.

Ketika merayakan kesuksesan di sebuah arena permainan air, tidak sengaja kaki Doo Ri tergores kuku orang. Kulit yang luka tersebut kemudian berubah menjadi keriput, kembali seperti kulit asli Oh Mal Soon. Bagaimana Doo Ri memilih kelanjutan kisahnya, antara keluarga, cita-citanya menjadi penyanyi yang terbuka melalui band cucunya, dan benih cinta yang mulai tumbuh antara dirinya yang melawan waktu dengan produser Han?

(Berlanjut ke Bagian-2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s